
Jakarta, Pintu News β Selat Hormuz kembali menjadi sorotan pasar global pada 22 Juni 2026. Meski nota kesepahaman antara AS dan Iran telah ditandatangani pada 19 Juni lalu, ancaman penutupan kembali jalur strategis ini belum sepenuhnya reda. Bitcoin bergerak di kisaran $64.000, mencerminkan ketidakpastian yang masih menggantung di pasar aset berisiko. Bagi investor crypto, memahami dinamika ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk membuat keputusan investasi yang lebih matang.
Selat Hormuz adalah titik chokepoint paling krusial dalam perdagangan energi dunia. Sekitar 20β25% dari seluruh perdagangan minyak laut dunia melewati jalur yang lebar paling sempitnya hanya dua mil ini. Sejak Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran, Selat Hormuz berubah menjadi zona konflik aktif, dengan Iran mengerahkan ranjau, drone, speedboat, dan jamming sinyal GNSS yang menghancurkan arus pelayaran.
Dampaknya langsung terasa: harga minyak melonjak ke level triple digit, biaya asuransi kapal meledak, dan puluhan kapal terpaksa ditinggalkan. Pada 14 Juni 2026, Trump mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa tol, memicu penurunan harga WTI menuju $81 dan Brent ke level terendah beberapa bulan. Namun per 22 Juni, Iran masih mempertahankan ancaman serupa, membuat situasi tetap volatil.
Risiko terbesar dari eskalasi Selat Hormuz terhadap crypto bukan datang langsung dari berita geopolitik, melainkan melalui jalur inflasi. Ketika harga minyak melonjak akibat gangguan pasokan, inflasi ikut naik. Federal Reserve yang sudah bersikap hawkish sepanjang musim semi 2026 kini memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lebih lanjut.
Suku bunga tinggi berarti biaya modal yang mahal, dan aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin menjadi kurang menarik dibanding instrumen pendapatan tetap. Ini adalah mekanisme transmisi yang seringkali luput dari perhatian investor ritel: perang di Selat Hormuz secara diam-diam menjadi tekanan bearish pada crypto melalui kanal kebijakan moneter. Risiko kedua adalah volatilitas harga minyak yang tidak menentu dapat memperpanjang sentimen risk-off di pasar, mendorong investor institusional keluar dari posisi crypto mereka.
Baca juga: βMinyak Dunia Bergejolak, Ancaman Krisis Selanjutnya Bisa Picu Panic Sell Bitcoin?β
Data Glassnode menunjukkan bahwa sebelum pembukaan kembali Selat Hormuz, konsentrasi besar posisi long leverage berada di kisaran $64.000β$70.000, dan ketika harga BTC sempat tertekan ke bawah $63.000, cascade liquidasi terpicu. Ini adalah risiko ketiga: leverage yang berlebihan membuat koreksi geopolitik kecil sekalipun dapat berubah menjadi penurunan tajam yang tidak proporsional.
Risiko keempat adalah sentimen panik yang menyebar cepat di media sosial. Ketika headline tentang Selat Hormuz muncul, investor ritel yang kurang informasi cenderung melakukan panic sell tanpa memahami apakah risiko tersebut sudah ter-price-in atau belum. Pada sesi 8 Juni 2026, Bitcoin sempat koreksi ke $60.000 sebelum pulih, sebagian besar dipicu oleh sentimen berita daripada perubahan fundamental.
Risiko kelima adalah ketidakpastian regulasi yang bisa meningkat jika pemerintah-pemerintah besar menggunakan kondisi darurat geopolitik sebagai alasan untuk mempercepat pembatasan terhadap aset crypto. Namun di sisi lain, krisis Selat Hormuz juga membuka peluang nyata bagi investor yang memahami siklus.
Ketika harga minyak turun seiring normalisasi situasi, inflasi akan melambat, memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk memotong suku bunga. Bitcoin naik sekitar 2% setelah pengumuman pembukaan Selat Hormuz pada 14 Juni β sinyal bahwa pasar sudah mulai mengantisipasi skenario ini. Selain itu, narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai geopolitik kembali menguat di kalangan investor institusional, yang melihat BTC sebagai alternatif terhadap ketidakstabilan mata uang fiat di negara-negara yang terdampak konflik.
Baca juga: β5 Fakta Blokade Selat Hormuz: Harga Minyak Melejit 7%, Bitcoin Anjlok ke Rp1,2 Miliar!β
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer:
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi