Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Rabu 24 Juni 2026

Di-update
June 24, 2026
Bagikan
Gambar Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Rabu 24 Juni 2026

Jakarta, Pintu News – Nilai tukar rupiah hari ini, Rabu 24 Juni 2026, kembali menunjukkan tekanan di awal sesi perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 83 poin atau 0,46 persen ke level Rp17.945 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir, dipicu oleh kombinasi ketidakpastian global dan ketatnya likuiditas dolar di pasar internasional.

Sehari sebelumnya, pada Selasa 23 Juni 2026, rupiah juga dibuka melemah ke posisi Rp17.859 per dolar AS di pasar spot. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih dominan terhadap mata uang Garuda, meski Bank Indonesia (BI) telah mengambil sejumlah langkah kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar.

Kurs Rupiah Hari Ini di Bank-Bank Utama

Pergerakan rupiah pada Rabu pagi ini turut tercermin dalam kurs yang ditetapkan oleh bank-bank besar nasional. PT Bank Central Asia (BCA) pada pukul 09.15 WIB mematok harga beli dolar AS di angka Rp17.952 dan harga jual sebesar Rp17.972 melalui layanan e-rate. Selisih yang cukup tipis ini menggambarkan aktivitas transaksi yang masih berjalan normal di tengah volatilitas pasar.

PT Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan harga beli dolar AS pada pukul 09.05 WIB di level Rp17.935 dan harga jual di angka Rp17.960 untuk special rates. Perbedaan tipis antarkurs bank mencerminkan kondisi pasar yang bergerak dalam rentang sempit namun tetap di zona melemah terhadap dolar.

Untuk kurs referensi resmi, Bank Indonesia menyediakan data JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) yang menjadi acuan utama transaksi valuta asing antar bank di dalam negeri. Data JISDOR terbaru dapat dipantau langsung melalui situs resmi BI di bi.go.id.

Faktor-Faktor Penekan Rupiah Hari Ini

Setidaknya ada dua faktor utama yang menekan rupiah pada perdagangan hari ini. Pertama, ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi pasar keuangan dunia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah membuat investor global cenderung beralih ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini dikenal sebagai mode risk-off, di mana selera risiko investor menurun dan mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi kurang diminati.

Faktor kedua datang dari dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar masih mencermati sinyal dari The Fed terkait arah suku bunga ke depan. Likuiditas dolar yang ketat di pasar global membuat permintaan terhadap greenback meningkat, sehingga menekan nilai tukar rupiah dan mata uang berkembang lainnya secara bersamaan.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 23 Juni 2026: Dibuka Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS

Respons Bank Indonesia dan Kebijakan Moneter

Uang kertas rupiah Indonesia pecahan 10.000 sebagai ilustrasi kebijakan moneter Bank Indonesia
Ilustrasi uang rupiah Indonesia. Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar. (Foto: Unsplash/Muhammad Daudy)

Bank Indonesia tidak tinggal diam menghadapi tekanan terhadap rupiah yang berlangsung sepanjang kuartal kedua 2026. BI telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) secara bertahap sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026, dengan kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin membawa BI Rate ke level 5,75 persen. Langkah hawkish ini bertujuan menjaga daya tarik aset rupiah di mata investor asing sekaligus mengendalikan tekanan inflasi dari sisi impor.

Kebijakan tersebut cukup efektif meredam pelemahan lebih dalam. Meski rupiah masih bergerak di atas level Rp17.900 per dolar AS, tekanan yang terjadi dinilai masih dalam batas yang dapat dikendalikan. BI juga aktif melakukan intervensi di pasar spot dan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga volatilitas agar tidak berlebihan.

Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan data ekonomi AS seperti data ketenagakerjaan dan inflasi, yang berpotensi memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed. Jika The Fed memberikan sinyal pemangkasan suku bunga, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang secara signifikan.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 18 Juni 2026: Dua Tekanan Sekaligus, Rupiah Kian Tertekan

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Investor Kripto Indonesia

Pelemahan rupiah memiliki implikasi langsung bagi investor aset kripto di Indonesia. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga aset kripto yang dikutip dalam dolar secara otomatis terlihat lebih mahal dalam denominasi rupiah. Sebagai contoh, jika Bitcoin diperdagangkan di kisaran harga tertentu dalam USD, maka biaya beli dalam rupiah akan meningkat seiring melemahnya kurs IDR/USD.

Di sisi lain, kondisi risk-off global yang menekan rupiah juga berdampak pada sentimen pasar kripto secara keseluruhan. Saat investor menghindari aset berisiko, baik saham maupun kripto cenderung mengalami tekanan jual. Namun bagi investor yang sudah memiliki aset kripto berdenominasi dolar seperti USDT atau USDC, kondisi ini justru memberikan keuntungan implisit karena nilai aset mereka dalam rupiah meningkat.

Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto danĀ teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin, usdt to idr dan hargaĀ saham nvidiaĀ tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasiĀ cryptoĀ yang aman, Pintu menghadirkan pengalamanĀ trading cryptoĀ hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihatĀ harga emas perhiasan hari iniĀ dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragamĀ jenisĀ tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memilikiĀ risikoĀ dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakanĀ uangĀ dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->