
Jakarta, Pintu News ā Dunia keuangan global tengah mengalami transformasi besar-besaran dengan lebih dari 15 bank terbesar di dunia yang kini berlomba membangun sistem keuangan berbasis tokenisasi di atas blockchain privat. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan pergeseran fundamental yang dapat mengubah peta persaingan antara blockchain publik dan privat.
Menurut analisis JPMorgan, langkah masif institusi keuangan ini justru menjadi ancaman jangka panjang yang lebih serius bagi Bitcoin dibandingkan aksi-aksi spekulatif seperti yang dilakukan MicroStrategy. Bagaimana bank-bank besar ini mengubah lanskap keuangan digital dan apa dampaknya bagi masa depan Bitcoin?
JPMorgan telah menjadi pionir dalam adopsi blockchain privat melalui platform Kinexys, yang sebelumnya dikenal sebagai Onyx sejak 2020. Platform ini telah memproses transaksi senilai lebih dari $3.000.000.000.000 sejak awal berdiri, dan kini menangani lebih dari $7.000.000.000 per hari. Aktivitas ini sebagian besar berjalan di jaringan permissioned yang memungkinkan bank-bank besar seperti HSBC, Goldman Sachs, dan DTCC melakukan tokenisasi aset seperti obligasi dan deposito.
Di jaringan Canton, misalnya, DTCC menargetkan tokenisasi surat utang negara Amerika Serikat pada 2026, sementara HSBC telah sukses menguji tokenisasi deposito dan Goldman Sachs telah menyelesaikan transaksi obligasi token. Dominasi institusi keuangan dalam ekosistem blockchain privat kini mulai terlihat dari data pendapatan biaya transaksi.

Jaringan Canton tercatat sebagai salah satu penghasil biaya terbesar tahun ini, dengan pendapatan sekitar $60.000.000 dalam 30 hari hingga akhir Juni, jauh melampaui Ethereum yang hanya mencatat $11.000.000 pada periode yang sama menurut data DeFiLlama.
Selain itu, lebih dari 15 bank besar telah bergabung dalam jaringan tokenisasi deposito yang diinisiasi oleh The Clearing House, dengan target peluncuran pada 2027. Inisiatif ini menandai pergeseran besar ke arah settlement institusional berbasis token yang lebih terkontrol dan terstandarisasi.
Dalam laporan terbaru pada 9 Juli, JPMorgan menyoroti bahwa ancaman utama bagi Bitcoin (BTC) bukanlah aksi spekulatif, melainkan adopsi blockchain yang melewati jaringan publik. Institusi keuangan global lebih memilih sistem permissioned karena menawarkan tata kelola yang jelas, privasi, serta kepastian hukum yang lebih tinggi dibandingkan blockchain publik seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).
Bank for International Settlements (BIS) juga memperingatkan bahwa blockchain publik menghadapi tantangan skalabilitas dan integritas keuangan, sehingga lebih mendukung ledger terintegrasi yang diatur secara ketat. Dampak dari tren ini sangat signifikan, mengingat saat ini terdapat sekitar $31.000.000.000 aset dunia nyata yang telah ditokenisasi di blockchain publik, dengan dua pertiga di antaranya berada di Ethereum (ETH) menurut rwa.xyz.
Namun, JPMorgan memperkirakan bahwa seiring pertumbuhan pasar, sebagian besar penerbitan dan settlement aset token akan beralih ke jaringan permissioned. Sementara itu, peran MicroStrategy yang menguasai sekitar 4% suplai Bitcoin (BTC) hanya dianggap sebagai sumber volatilitas jangka pendek, bukan ancaman struktural. Nilai Bitcoin (BTC) sendiri lebih didasarkan pada kelangkaan dan netralitas, bukan pada fungsinya sebagai infrastruktur keuangan sehari-hari.
Saat ini, bank-bank besar tengah memimpin adopsi teknologi blockchain dengan pendekatan yang sangat terkontrol dan sesuai kebutuhan institusi. Mereka membangun ekosistem sendiri yang menawarkan efisiensi, keamanan, dan kepastian hukum, sehingga menarik lebih banyak aset dan transaksi ke dalam jaringan privat. Hal ini berpotensi mengurangi aktivitas, likuiditas, dan modal yang selama ini mengalir ke blockchain publik seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).
Jika tren ini terus berlanjut, masa depan adopsi kripto akan sangat ditentukan oleh seberapa besar jaringan publik mampu bersaing dan menawarkan nilai tambah di tengah dominasi institusi. Di sisi lain, sebagian penasihat keuangan mulai merekomendasikan stablecoin dan tokenisasi aset sebagai alternatif investasi yang lebih stabil dibandingkan eksposur langsung ke Bitcoin (BTC).
Hal ini semakin memperkuat posisi bank dan institusi dalam mengendalikan arus modal di ekosistem blockchain. Namun, masih terbuka peluang bagi jaringan publik untuk merebut pangsa pasar, terutama jika mampu menawarkan inovasi dan keunggulan yang tidak dimiliki jaringan privat. Persaingan antara blockchain publik dan privat akan menjadi penentu utama arah perkembangan industri kripto di masa mendatang.
Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto danĀ teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin, usdt to idr dan hargaĀ saham nvidiaĀ tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasiĀ cryptoĀ yang aman, Pintu menghadirkan pengalamanĀ trading cryptoĀ hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihatĀ harga emas perhiasan hari iniĀ dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
Unduh aplikasiĀ cryptoĀ Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragamĀ jenisĀ tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer:
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa laluĀ asetĀ tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memilikiĀ risikoĀ dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakanĀ uangĀ dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi