
Jakarta, Pintu News – Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menjadi sorotan pasar global setelah kesaksiannya di depan Kongres AS pertengahan Juli lalu membentuk nada kebijakan yang akhirnya terkonfirmasi lewat keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 Juli 2026. Bank sentral memilih menahan suku bunga acuan, namun sinyal yang dilontarkan Warsh membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam laporan kebijakan moneter semesteran yang disampaikan pada 14 Juli di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS dan pada 15 Juli di hadapan Komite Perbankan Senat, Warsh menegaskan sikap tegasnya terhadap inflasi. Ia menyampaikan bahwa Komite tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus bertahan tinggi, sekaligus menekankan komitmen penuh untuk mengembalikan stabilitas harga. Namun ia sengaja tidak memberi arah jelas soal waktu maupun bentuk kebijakan suku bunga berikutnya, sebuah gaya komunikasi yang belakangan disebut sejumlah analis sebagai pendekatan “less forward guidance”.
Kesaksian tersebut menjadi penampilan perdana Warsh di depan Kongres sejak resmi menjabat Ketua The Fed dua bulan sebelumnya. Dalam pembukaan pidatonya, ia turut mengenang mendiang Alan Greenspan, mantan Ketua The Fed yang wafat sebulan sebelumnya, sebagai sosok yang lebih dari dua ratus kali tampil di hadapan Kongres selama masa jabatannya. Warsh menyebut kewajiban pelaporan semesteran ini sebagai bentuk akuntabilitas bank sentral kepada rakyat AS, sekaligus menegaskan independensi The Fed dalam merumuskan kebijakan moneter di tengah tekanan politik yang terus berlangsung.
Data inflasi yang menjadi latar belakang kesaksian tersebut juga tidak bisa diabaikan. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS tercatat naik 3,5% secara tahunan pada Juni, masih jauh di atas target 2% yang selama ini menjadi acuan The Fed. Sektor perumahan dan pangan disebut Warsh sebagai dua area yang paling banyak menyumbang tekanan harga bagi rumah tangga Amerika, sehingga menjadi alasan utama sikap hati-hatinya dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Sinyal hawkish yang disampaikan Warsh di Kongres akhirnya terbukti pada pertemuan FOMC 28-29 Juli. The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% untuk kelima kalinya berturut-turut. Keputusan ini disetujui lewat voting 9 berbanding 3, dengan tiga anggota, yaitu Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan, justru menginginkan kenaikan seperempat poin persentase.
Perbedaan pandangan tiga pejabat ini menjadi catatan penting karena baru terjadi lagi sejak September 2016. Warsh sendiri, dalam konferensi pers usai rapat, kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap inflasi dengan pernyataan bahwa “tidak ada target inflasi yang lunak, yang ada hanya satu target, dan itu adalah 2%”. Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang, sehingga tekanan terhadap aset berisiko masih membayangi pasar.
Baca juga: “FOMC 28-29 Juli 2026: Suku Bunga Ditahan, Bitcoin Tunggu Sinyal Warsh?“
Reaksi paling tajam justru datang dari pasar surat utang. Investor melepas obligasi Treasury bertenor 30 tahun usai pengumuman FOMC, mendorong yield ke level 5,23%, tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Ekspektasi inflasi di pasar ikut naik, sementara indeks saham utama Wall Street kompak melemah pada hari yang sama. S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq Composite terkoreksi 0,5%, dan Dow Jones anjlok lebih dari 840 poin atau sekitar 1,6%.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap kredibilitas Warsh yang baru dua bulan menjabat sebagai Ketua The Fed. Gaya komunikasinya yang minim panduan ke depan dinilai sejumlah analis membuat pasar sulit memprediksi arah kebijakan, berbeda dengan pola komunikasi Ketua The Fed sebelumnya yang cenderung lebih transparan soal proyeksi suku bunga.

Berbeda dengan gejolak di pasar obligasi dan saham, Bitcoin justru menunjukkan ketenangan relatif. Harga BTC sempat naik ke kisaran $64.400 usai pengumuman The Fed, sebelum bergerak stabil di sekitar level $64.000. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa keputusan menahan suku bunga sudah cukup diantisipasi pelaku pasar kripto sebelum pengumuman resmi keluar.
Meski begitu, sikap Warsh yang enggan menutup opsi kenaikan suku bunga di bulan September membuat sebagian analis tetap berhati-hati. Perhatian pasar kini beralih ke Simposium Jackson Hole yang akan digelar Agustus mendatang, di mana Warsh disebut dapat memberikan panduan lebih jelas soal arah kebijakan menjelang pertemuan FOMC berikutnya.
Sejumlah analis kripto menilai ketenangan Bitcoin pasca keputusan The Fed justru mencerminkan pergeseran narasi pasar. Jika sebelumnya setiap komentar Warsh soal inflasi langsung memicu volatilitas tajam pada harga BTC dalam hitungan jam, kini pelaku pasar tampak lebih fokus pada arus dana masuk dan keluar dari produk investasi kripto ketimbang bereaksi berlebihan terhadap tiap pernyataan pejabat The Fed. Namun risiko tetap ada, mengingat pasar suku bunga masih memberi peluang cukup besar bagi kenaikan suku bunga sebelum tutup tahun 2026, sehingga volatilitas jangka pendek pada aset kripto tetap perlu diwaspadai investor.
Baca juga: “9 Pejabat The Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga di 2026, Pasar Panik?“
Di luar isu suku bunga, kesaksian Warsh di Kongres juga menyoroti agenda reformasi internal The Fed. Ia mengumumkan pembentukan lima gugus tugas yang akan meninjau cara komunikasi bank sentral, kebijakan neraca, sumber data ekonomi, dampak produktivitas dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan, hingga kerangka kerja inflasi.
Warsh juga menyoroti derasnya investasi di sektor teknologi tinggi yang tumbuh hampir 25% secara tahunan, didorong oleh pembangunan pusat data dan permintaan perangkat keras untuk kebutuhan AI. Ia menyebut pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil dengan tingkat pengangguran rendah, sementara sektor perumahan menjadi satu-satunya area yang tertinggal dibandingkan bagian ekonomi lain.
Kombinasi antara sikap tegas terhadap inflasi, minimnya panduan ke depan, dan agenda reformasi kelembagaan membuat setiap pernyataan Warsh berpotensi menggerakkan pasar keuangan global, termasuk pasar aset digital, dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi investor kripto di Indonesia, rangkaian kesaksian Warsh di Kongres dan keputusan FOMC Juli ini menjadi pengingat bahwa arah kebijakan suku bunga AS masih akan terus memengaruhi sentimen pasar aset digital global hingga akhir tahun. Simposium Jackson Hole pada Agustus mendatang kemungkinan menjadi titik krusial berikutnya untuk menakar apakah kenaikan suku bunga benar-benar terjadi pada September, sehingga layak dipantau oleh siapa pun yang memiliki eksposur ke Bitcoin maupun aset kripto lainnya.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer:
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.