APAC Siap Gelontorkan Rp49,8 Triliun untuk Generative AI di 2024

Updated
January 30, 2024
Gambar APAC Siap Gelontorkan Rp49,8 Triliun untuk Generative AI di 2024

Generative AI (GenAI) menjadi teknologi yang semakin populer di kalangan bisnis di kawasan Asia Pasifik (APAC). Menurut laporan terbaru dari Infosys Knowledge Institute (IKI), lembaga riset milik perusahaan layanan digital dan konsultasi Infosys, bisnis-bisnis di APAC diperkirakan akan menggelontorkan dana hingga $3,4 miliar atau setara dengan Rp49,8 triliun untuk GenAI pada tahun 2024. Angka ini meningkat pesat dibandingkan dengan pengeluaran tahun 2023 yang hanya sebesar $1,4 miliar atau Rp20,5 triliun. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Perkembangan GenAI di APAC

apac generatif ai
Sumber: Mpost

Perusahaan-perusahaan di seluruh APAC sedang gencar berinvestasi dalam GenAI. Tiongkok memimpin kawasan ini dengan peningkatan investasi lebih dari 160% menjadi $2,1 miliar atau Rp30,8 triliun. Sementara itu, Australia dan Selandia Baru menyusul dengan pertumbuhan investasi yang signifikan.

Meskipun saat ini masih tertinggal dari Amerika Utara dalam hal pengeluaran GenAI, APAC diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang lebih besar daripada kawasan lain di dunia. Laporan IKI memperkirakan peningkatan investasi sebesar 140% di APAC, yang berarti akan ada sekitar $3,4 miliar atau Rp49,8 triliun yang diinvestasikan di Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, India, dan Singapura.

Baca Juga: Goldman Sachs dan AI Generatif: Membuka Tabir Proyek Rahasia di Balik Layar!

Tantangan Adopsi GenAI di APAC

Meskipun investasi dalam GenAI meningkat, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh bisnis-bisnis di APAC. Salah satu tantangan terbesar adalah kekhawatiran tentang dampak negatif GenAI terhadap reputasi bisnis. Hampir 10% pemimpin bisnis di APAC memperkirakan bahwa GenAI akan berdampak buruk pada reputasi perusahaan mereka, dibandingkan dengan kurang dari 5% di Amerika Utara dan Eropa.

Tantangan lain yang dihadapi oleh bisnis-bisnis di APAC adalah rendahnya kesiapan karyawan dalam menggunakan GenAI. Di Australia dan Selandia Baru, hanya 56% karyawan yang merasa siap untuk menggunakan GenAI, dibandingkan dengan hampir 70% di perusahaan-perusahaan lain di kawasan tersebut.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, perusahaan-perusahaan di Australia dan Selandia Baru sebagian besar berencana untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja yang ada.

Baca Juga: 70% Pemimpin Teknologi Siap Adopsi AI Generatif untuk Pertahanan Siber, Apakah Kamu Siap?

GenAI untuk Transformasi Bisnis

Laporan IKI juga menyoroti efektivitas GenAI dalam berbagai bidang bisnis. Lebih banyak perusahaan di APAC (30%) daripada di Amerika Utara (20%) dan Eropa (25%) percaya bahwa GenAI akan efektif untuk merampingkan pengembangan dan desain produk. Tiongkok memimpin pandangan ini, dengan hampir 35% perusahaan menekankan bidang ini untuk dampak GenAI yang maksimal.

Selain itu, perusahaan-perusahaan di APAC juga lebih cenderung percaya bahwa GenAI akan mengubah generasi konten dan kreativitas. Sekitar 22% perusahaan APAC memiliki sentimen ini, dipimpin oleh 30% perusahaan Jepang yang memegang pandangan ini.

Kesimpulan

Dengan meningkatnya investasi dan efektivitas yang terbukti, GenAI diperkirakan akan memainkan peran penting dalam transformasi bisnis di kawasan APAC. Namun, perusahaan-perusahaan perlu mengatasi tantangan seperti kekhawatiran tentang dampak negatif dan rendahnya kesiapan karyawan untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi GenAI.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Bagikan

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->