
Dalam dunia investasi saham, istilah trading sering kali membingungkan bagi para pemula. Salah satu istilah yang cukup sering muncul namun belum tentu dipahami adalah BoW, singkatan dari Buy on Weakness. Strategi ini mengandalkan pendekatan membeli saham saat harga sedang melemah—bukan karena kinerja buruk, melainkan sebagai peluang beli saat harga turun sementara.
Artikel ini akan membahas arti BoW secara lengkap, cara kerjanya, dan bagaimana strategi ini bisa dimanfaatkan oleh trader pemula dalam menyusun keputusan yang lebih bijak.
Buy on Weakness adalah strategi trading proaktif di mana seorang trader masuk ke posisi beli (long) ketika harga suatu saham atau aset sedang turun, dengan harapan harga tersebut akan segera berbalik naik lagi. Strategi ini berasal dari prinsip dasar buy low, sell high — yaitu membeli di harga rendah dan menjual saat harga meningkat.
Baca juga: Pola Candlestick Bearish dan Bullish Engulfing Untuk Trading
Dalam praktiknya, trader yang menerapkan Buy on Weakness mencoba mengidentifikasi saham yang penurunannya dianggap berlebihan dan mulai membuka posisi sebelum pembalikan harga terjadi. 
Intinya, Buy on Weakness bukan sekadar membeli karena harga turun, tetapi membeli pada koreksi sementara dalam tren yang lebih besar, seperti ketika harga berada dekat area support atau retracement yang sehat sebelum tren naik kembali berlanjut. Strategi ini kadang juga disebut buy at retracement atau buy at support. 

Strategi Buy on Weakness (BoW) sesungguhnya terbentuk dari prinsip dasar investasi klasik yaitu buy low, sell high—membeli ketika harga turun dan menjual ketika harga sudah naik kembali.
Dalam praktiknya, strategi ini sering dipadukan dengan pendekatan contrarian yang berarti membeli ketika banyak pelaku pasar sedang menjual dan menjual ketika banyak pelaku pasar sedang membeli, sehingga trader mencoba masuk ke pasar pada price point rendah yang dianggap menarik untuk peluang keuntungan jangka berikutnya.
Konsep ini bukan hanya muncul di pasar saham global, tetapi juga diadopsi oleh trader di berbagai bursa termasuk Indonesia sebagai taktik untuk memanfaatkan koreksi harga sementara.
Di pasar modal Indonesia, BoW biasanya diterapkan dengan memperhatikan level teknikal seperti support dan siklus harga yang menunjukkan bahwa penurunan harga bukan karena fundamental buruk, melainkan koreksi sementara dalam tren jangka menengah atau panjang. Pendekatan ini membuat strategi BoW cukup populer di kalangan investor teknikal yang ingin memaksimalkan potensi return sambil tetap memperhatikan area harga yang sehat.
Dengan demikian, asal‑usul BoW di pasar modal Indonesia tumbuh dari adaptasi prinsip investasi global yang menggabungkan analisa harga teknikal, psikologi pasar, dan kondisi pasar lokal untuk memanfaatkan peluang membeli saham pada harga rendah dalam tren yang masih kuat.
Strategi Buy on Weakness (BoW) tidak bisa diterapkan sembarangan hanya karena harga suatu saham turun. Waktu terbaik untuk menggunakan strategi ini adalah ketika penurunan harga dianggap sementara saja dan bukan pertanda tren turun yang kuat.
Secara umum, strategi BoW sering digunakan ketika harga bergerak menuju area support teknikal, seperti setelah koreksi kecil dalam tren naik yang lebih besar. Saat harga mencapai level support yang kuat, trader melihat ini sebagai sinyal bahwa tekanan jual mulai berkurang dan pembalikan harga bisa terjadi segera, sehingga harga rendah menjadi momentum beli yang potensial.
Selain itu, strategi ini paling efektif ketika fundamental perusahaan masih kuat—misalnya laporan keuangan yang sehat dan prospek pertumbuhan jangka panjang tetap positif—karena penurunan harga lebih mungkin mencerminkan koreksi pasar daripada masalah mendasar yang serius.
Dengan kombinasi analisis teknikal (seperti penentuan level support) dan analisis fundamental, trader bisa mengidentifikasi waktu yang lebih tepat untuk memasuki posisi beli menggunakan BoW.
Untuk menerapkan strategi Buy on Weakness (BoW) secara efektif, tidak semua saham cocok dijadikan target beli. Trader biasanya mencari saham yang memiliki karakteristik tertentu sehingga peluang rebound setelah koreksi harga lebih tinggi. Beberapa syarat saham ideal untuk strategi ini antara lain:
Secara keseluruhan, memilih saham yang memenuhi syarat‑syarat tersebut membantu trader menerapkan strategi BoW dengan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan keuntungan saat harga kembali naik setelah koreksi.
Baca juga: Boncos dalam Investasi: Pengertian, Tips Menghindari, dan Alternatif Investasi Anti Boncos
Strategi Buy on Weakness (BoW) berbeda cukup signifikan dari strategi Buy on Breakout dan Buy and Hold, terutama dari sisi pendekatan, sinyal masuk, dan jangka waktu. Berikut perbandingannya:
| Strategi | Tujuan | Ciri Utama | Gaya Trading | Risiko |
|---|---|---|---|---|
| Buy on Weakness (BoW) | Membeli saat harga turun sementara dalam tren naik | Masuk di area support atau koreksi sehat | Trader teknikal jangka pendek–menengah | Risiko masuk terlalu cepat sebelum harga berbalik |
| Buy on Breakout | Membeli saat harga menembus resistance penting | Masuk saat momentum kuat dan volume meningkat | Momentum trader | Rawan false breakout |
| Buy and Hold | Investasi jangka panjang | Beli dan tahan aset dalam waktu lama | Investor pasif jangka panjang | Terkena volatilitas tanpa exit cepat |
Setiap strategi punya kelebihan dan kelemahannya sendiri, dan pilihan terbaik tergantung pada profil risiko, tujuan investasi, dan gaya trading kamu.
Agar strategi Buy on Weakness (BoW) lebih akurat, trader perlu menggunakan analisis teknikal untuk menentukan kapan waktu terbaik masuk ke pasar saat harga sedang turun. Berikut elemen penting yang harus dianalisis:
Gunakan indikator untuk memperkuat sinyal dari support dan volume:
Dengan menggabungkan support, volume, dan indikator teknikal, trader dapat mengenali titik BoW dengan lebih percaya diri dan meminimalkan risiko masuk di saat yang salah.

Strategi Buy on Weakness (BoW) dapat diterapkan pada saham blue chip Indonesia dengan cara membeli ketika harga turun sementara selama tren jangka panjang saham tersebut tetap kuat. Saham blue chip pada umumnya adalah perusahaan besar dengan fundamental kuat, laba stabil, dan posisi pasar yang mapan — sehingga penurunan harga sesaat sering kali hanya merupakan retracement teknikal dan bukan perubahan tren fundamental.
Saham‑saham seperti BBRI (Bank Rakyat Indonesia)—yang termasuk dalam indeks LQ45 dan sering direkomendasikan sebagai buy oleh analis karena prospek kinerja yang solid—adalah contoh saham yang dianggap layak dibeli saat melemah jika tren jangka panjangnya masih bertahan dan penurunan harga hanya koreksi teknikal.
Dalam praktiknya, trader yang menerapkan BoW pada saham blue chip di Indonesia bisa mengamati momen saat harga saham turun mendekati level support teknikal atau mengalami pullback setelah kenaikan, namun indikator teknikal lain seperti volume perdagangan atau relative strength menunjukkan tanda‑tanda oversold.
Ketika fundamental perusahaan tetap kuat (misalnya laba positif, pertumbuhan kredit yang baik, atau rasio keuangan sehat), penurunan harga sementara dianggap sebagai peluang untuk masuk posisi beli sebelum harga kembali naik. Hal ini mengikuti prinsip umum dalam strategi buy the dip, yakni mencari peluang di saat pasar melemah namun dasar bisnis pendukung saham tetap solid.
Contoh sederhana: jika saham blue chip mengalami koreksi harga karena sentimen pasar sementara (misalnya berita ekonomi negatif jangka pendek), namun secara teknikal harga mendekati level support dan fundamental perusahaan tetap kuat, trader bisa menerapkan BoW dengan menempatkan order beli bertahap. Saat harga mulai memantul kembali dengan konfirmasi volume atau sinyal teknikal lainnya, posisi beli tersebut berpeluang menghasilkan keuntungan saat tren naik berlanjut.
Strategi Buy on Weakness (BoW) punya beberapa keuntungan yang membuatnya menarik terutama bagi trader pemula yang ingin belajar timing pasar dan mengelola risiko dengan lebih efektif.
Ide dasar dari strategi ini adalah membeli saham saat harganya turun sementara, dengan harapan harga akan rebound di kemudian hari — sesuai prinsip klasik “beli murah, jual mahal”.
Beberapa kelebihan strategi BoW bagi trader pemula antara lain:
Untuk memitigasi potensi kerugian dalam menggunakan strategi BoW, beberapa langkah yang disarankan antara lain:
Dengan memahami risiko‑risiko ini dan menerapkan aturan risiko yang disiplin, trader dapat mengurangi kemungkinan kerugian besar saat menggunakan strategi BoW. Namun, tetap penting diingat bahwa tidak ada strategi yang bebas dari risiko, dan selalu ada kemungkinan bahwa pasar akan terus turun lebih jauh dari prediksi awal.
Baca juga: 5 Cara Trading Bitcoin Untuk Pemula! [5 Menit]

Untuk menerapkan strategi Buy on Weakness (BoW) secara praktis di aplikasi trading , ada beberapa langkah yang umum digunakan oleh trader berpengalaman agar keputusan beli lebih terukur dan risiko lebih terkendali. Secara garis besar, strategi ini mirip dengan konsep buy the dip—membeli setelah harga turun sementara dalam tren yang tetap positif.
Berikut tips praktis yang bisa dilakukan saat menggunakan strategi BoW di aplikasi trading:
• Tentukan dulu apa itu dip – Identifikasi apakah penurunan harga yang terjadi benar‑benar koreksi dalam tren naik, bukan awal tren turun. Dalam grafik, ini terlihat sebagai penurunan sementara sebelum harga kembali naik.
• Gunakan tools di aplikasi trading – Banyak platform menyediakan sinyal, alert harga, dan indikator teknikal yang membantu kamu melihat dip secara objektif tanpa bergantung pada feeling semata.
• Pantau level support dan tren jangka panjang – Tonton grafik pada time frame yang relevan untuk melihat apakah harga sudah dekat level support teknikal. Ini membantu memastikan koreksi masih sehat dan belum beralih menjadi tren turun.
• Set price alerts – Atur notifikasi ketika harga mencapai level tertentu yang kamu anggap sebagai titik BoW ideal, sehingga kamu tidak perlu terus‑menerus memantau pasar secara manual.
• Siapkan dry powder – Simpan likuiditas atau dana cadangan khusus untuk BoW, sehingga kamu dapat membeli saat peluang tiba tanpa harus menjual aset lain atau panik saat harga turun.
• Hindari emosional trading – Strategi BoW harus berdasarkan konfirmasi teknikal atau sinyal yang jelas, bukan reaksi emosional seperti FOMO (fear of missing out).
Strategi Buy on Weakness (BoW) menawarkan pendekatan yang seimbang bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang saat harga saham mengalami penurunan sementara, tanpa harus terjun dalam spekulasi jangka pendek atau menahan investasi terlalu lama.
Dengan mengandalkan analisis teknikal seperti level support, volume, dan indikator momentum, BoW memungkinkan investor memasuki pasar di titik harga yang lebih menguntungkan, sambil tetap mempertahankan ekspektasi pertumbuhan dalam jangka menengah.
Pendekatan ini sangat cocok bagi investor jangka menengah yang memiliki waktu cukup untuk menunggu pemulihan harga, tetapi juga ingin aktif mengelola portofolionya. Dibandingkan strategi trading harian yang menuntut kecepatan dan Buy & Hold yang pasif, BoW memberikan fleksibilitas serta potensi imbal hasil yang menarik — asalkan disertai disiplin dalam analisis dan manajemen risiko.
BoW (Buy on Weakness) adalah membeli saat harga turun, sedangkan BOB (Buy on Breakout) adalah membeli saat harga menembus resistance.
Saat harga turun mendekati support, tren jangka menengah masih naik, dan volume penjualan mulai melemah.
Saat harga turun mendekati support, tren jangka menengah masih naik, dan volume penjualan mulai melemah.
Ya, asal dibarengi dengan analisis teknikal dasar dan manajemen risiko seperti stop-loss.
Saham BBRI sering menjadi contoh karena koreksi jangka pendeknya sering diikuti pemulihan harga yang kuat.
Tidak sama. BoW fokus pada entry saat koreksi, sedangkan averaging down adalah menambah posisi setelah rugi.
Referensi: