
Jakarta, Pintu News – Pasar keuangan global saat ini menunjukkan pergeseran yang signifikan antara aset keras tradisional dan cryptocurrency. Emas hampir mencapai harga psikologis $5.000, sementara perak telah melonjak di atas $100. Di sisi lain, Bitcoin mengalami kesulitan untuk mempertahankan level kunci karena penarikan besar-besaran oleh institusi.
Saat ini, logam fisik seperti emas dan perak tampaknya lebih unggul dibandingkan dengan Bitcoin (BTC) yang sering disebut sebagai emas digital. Analisis tren harga menunjukkan bahwa preferensi modal telah bergeser dari cryptocurrency ke logam mulia. Faktor-faktor seperti hedging inflasi, kekhawatiran terhadap depresiasi mata uang, dan keinginan untuk memiliki aset tanpa risiko pihak ketiga mendorong kenaikan harga emas dan perak.
Pergerakan harga perak yang sangat agresif menunjukkan adanya ekspektasi tinggi terhadap permintaan industri, momentum spekulatif, dan hedging inflasi. Sebaliknya, performa Bitcoin (BTC) yang lemah sering kali tidak beriringan dengan kondisi seperti ini.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Kesenjangan Pasokan Perak vs Emas dan Dampaknya ke Crypto & Aset Komoditas

Bitcoin (BTC) menunjukkan tanda-tanda pelemahan dengan sering ditolak mendekati level resistensi yang menurun. Cryptocurrency ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan utama pada grafik harian. Alih-alih akumulasi, struktur naik yang baru-baru ini ditinggalkan menunjukkan distribusi.
Lonjakan volume selama penurunan menandakan bahwa pasokan masih mengendalikan pasar. Indikator momentum yang masih lemah tidak mencerminkan kepemimpinan dalam lingkungan yang berisiko. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin (BTC) tidak lagi dianggap sebagai aset yang menarik di tengah kondisi pasar saat ini.
Data arus dana menegaskan gambaran ini. Dalam satu minggu saja, dana sebesar $1,33 miliar ditarik dari ETF Bitcoin (BTC) di AS, jumlah terbesar sejak Februari 2025. ETF berfungsi sebagai jembatan modal institusional utama, dan aliran keluar yang berkepanjangan ini menunjukkan penurunan eksposur yang disengaja serta pengambilan keuntungan.
Institusi tampaknya beralih dari narasi pertumbuhan spekulatif ke pelestarian modal. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilih investasi ke dalam logam mulia yang lebih stabil di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
Kekuatan emas dan perak sering kali menjadi indikator negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin (BTC). Situasi ini mencerminkan kondisi di mana likuiditas pasar berkurang, seperti ketatnya kondisi keuangan, kenaikan imbal hasil nyata, atau ketidakpastian geopolitik. Saat likuiditas berkurang, logam mulia cenderung menguat, sementara cryptocurrency mengalami penurunan.
Baca Juga: Lonjakan Harga Altcoin: Fenomena Musiman yang Tak Boleh Dilewatkan!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.