
Jakarta, Pintu News – Meskipun harga emas mencapai rekor tertinggi pada tahun 2026, minat masyarakat untuk membeli logam mulia ini tetap tinggi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa orang masih membeli emas saat harganya mahal? Jawabannya terletak pada persepsi emas sebagai aset aman (safe haven) yang mampu melindungi kekayaan dari inflasi, ketidakpastian ekonomi, dan fluktuasi pasar.
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, banyak investor justru memanfaatkan momentum ini untuk mulai berinvestasi atau menambah kepemilikan emas. Artikel ini akan membahas strategi cerdas membeli emas di saat harga puncak, termasuk teknik averaging down dan tips memilih timing yang tepat agar tetap menguntungkan dalam jangka panjang.
Berdasarkan data pasar, 30 Januari 2026, harga emas turun tajam dari sekitar $5.625 (Rp94.450.800) menjadi sekitar $5.100 (Rp85.639.200), sementara harga perak merosot dari lebih dari $121 (Rp2.030.032) menjadi hampir $106 (Rp1.779.952).
Penurunan tajam ini menghapus nilai nominal sekitar $3,4 triliun (sekitar Rp57.092 triliun), menjadikannya salah satu pembalikan harga tercepat dalam sejarah logam mulia.
Baca juga: Kapan Jam Trading XAUUSD (GOLD)? Buka, Tutup dan Waktu Terbaik

Menariknya, penurunan ini tidak disebabkan oleh berita geopolitik terbaru atau perubahan kebijakan. Sebaliknya, pasar mengalami tekanan besar dari aksi ambil untung (profit-taking) oleh para investor.
Dalam satu tahun terakhir, harga emas telah melonjak hampir 90%, sementara perak naik lebih dari 270%. Kenaikan ini didorong oleh pembelian besar-besaran dari bank sentral, kekhawatiran geopolitik, dan tingginya permintaan industri.
Faktor penting lainnya adalah penggunaan leverage yang berlebihan. Pasar berjangka (futures) dipenuhi oleh trader yang menggunakan leverage 50x hingga 100x. Ketika harga mulai turun sedikit, margin call mulai terjadi, memaksa penjualan paksa (forced liquidation) dan menciptakan reaksi berantai yang mempercepat tekanan jual.
Lalu, bagaimana strategi beli emas saat harga puncak? Simak selengkapnya di bawah ini:
Strategi Dollar Cost Averaging (DCA), atau yang juga dikenal sebagai “rencana investasi dengan jumlah tetap,” merupakan pendekatan yang efektif untuk menghadapi ketidakpastian pasar. Metode ini cukup populer karena memungkinkan kita untuk berinvestasi dengan jumlah uang yang sama secara rutin, tanpa terpengaruh oleh kondisi naik-turunnya pasar.
Dengan konsisten menerapkan strategi ini, investasi kamu akan tersebar dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat mengurangi risiko dari fluktuasi harga dan berpotensi meningkatkan hasil investasi dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, daripada langsung menginvestasikan Rp10.000.000 ke emas dalam satu waktu, kamu bisa menyebarkannya dengan membeli emas sebesar Rp1.000.000 per bulan selama setahun.
Jika harga emas sedang rendah, kamu akan mendapatkan emas lebih banyak untuk setiap Rp1.000.000 yang diinvestasikan. Sebaliknya, jika harga sedang tinggi, kamu memang akan mendapatkan emas lebih sedikit, tetapi total investasi kamu menjadi lebih seimbang secara rata-rata.
Strategi Dollar Cost Averaging telah terbukti efektif dan dapat diterapkan pada berbagai jenis investasi, mulai dari saham, reksa dana berbasis indeks (ETF), hingga logam mulia seperti emas batangan.
Salah satu strategi investasi yang cukup dikenal adalah “buy on weakness” atau membeli saat harga melemah. Strategi ini dilakukan dengan cara membeli aset—dalam hal ini emas—saat harganya sedang turun, bukan menunggu tren naik yang jelas. Gagasan utamanya adalah bahwa penurunan harga bersifat sementara, sehingga investor bisa memperoleh keuntungan saat harga kembali naik dengan membeli di titik harga yang lebih rendah.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang menyarankan untuk menunggu konfirmasi pembalikan arah pasar, teknik BoW justru lebih proaktif. Investor mengambil posisi saat pasar masih dalam tekanan (downtrend), dengan keyakinan bahwa harga akan segera berbalik naik. Pendekatan ini memungkinkan investor menangkap potensi kenaikan harga yang lebih besar begitu pasar mulai stabil atau pulih.
Simulasi:
Bayangkan pada awal Februari 2026, harga emas sempat di Rp1.250.000/gram, lalu turun ke Rp1.100.000/gram. Alih-alih panik dan menunggu harga naik kembali, seorang investor yang menerapkan strategi Buy on Weakness (BoW) justru memanfaatkan momen penurunan ini untuk membeli emas di harga lebih rendah secara bertahap, misalnya:
Setelah itu, harga emas mulai pulih dan naik kembali ke Rp1.220.000/gram di bulan Mei 2026. Karena investor telah mengakumulasi emas saat harga lebih rendah, rata-rata harga belinya menjadi lebih murah dibanding harga pasar saat ini, sehingga keuntungan yang didapat jauh lebih optimal.
Ketika harga emas fisik sedang tinggi, banyak calon investor merasa ragu untuk membeli karena keterbatasan dana atau kekhawatiran akan biaya tambahan seperti penyimpanan dan pengiriman. Dalam situasi seperti ini, emas digital atau tokenized menjadi alternatif cerdas dan terjangkau.
Baca juga: Laporan Keuangan Raksasa Teknologi: Tesla, Meta, Microsoft, dan Apple Siap Tentukan Arah Pasar!
Emas tokenized adalah bentuk investasi emas di mana emas fisik direpresentasikan sebagai token digital di atas teknologi blockchain. Setiap token mewakili sejumlah emas nyata yang disimpan di brankas terpercaya, dan investor tetap memiliki klaim hukum atas aset tersebut—tanpa harus memegangnya secara fisik.
Pendekatan ini memungkinkan seseorang membeli emas dalam jumlah kecil, bahkan sebagian gram, dengan biaya lebih rendah. Selain itu, transaksi yang tercatat di blockchain menjamin transparansi, keamanan, dan keaslian aset. Emas digital menjembatani kebutuhan akan lindung nilai (hedging) dengan kemudahan teknologi modern, menjadikannya solusi ideal saat emas fisik terasa terlalu mahal untuk dijangkau.
Scaling in adalah strategi investasi di mana kamu tidak langsung mengalokasikan seluruh modal sekaligus, melainkan masuk ke pasar secara bertahap. Artinya, kamu membeli aset (seperti emas) dalam beberapa tahap kecil seiring pergerakan harga, bukan dalam satu pembelian besar.
Sebagai contoh, jika kamu memiliki modal Rp10 juta, kamu bisa mulai dengan menginvestasikan 25% hingga 50% terlebih dahulu, lalu menambah posisi di level harga yang lebih menarik berikutnya. Strategi ini memungkinkan kamu mendapatkan harga rata-rata beli yang lebih baik, serta mengelola risiko lebih efisien karena eksposur awal terhadap volatilitas pasar lebih kecil.
Pendekatan scaling in cocok digunakan saat kamu melihat koreksi harga sebagai peluang beli, bukan sebagai sinyal tren turun permanen. Dengan membeli secara bertahap di titik-titik yang telah direncanakan, kamu tetap bisa berpartisipasi di pasar tanpa harus mengorbankan seluruh modal di awal, sekaligus mengurangi tekanan psikologis dalam menghadapi fluktuasi harga.
Untuk menentukan momen koreksi harga yang tepat, trader sering mengandalkan kombinasi indikator RSI dan support level.
RSI di atas angka 70 menandakan kondisi overbought (jenuh beli), yang sering diikuti oleh koreksi harga. Sementara itu, support level adalah area di mana harga cenderung tertahan karena peningkatan permintaan, sering kali menjadi titik pantul harga.
Saat harga mulai turun dari level overbought menuju area support, kondisi ini bisa menjadi sinyal beli yang strategis. Kombinasi kedua indikator ini membantu investor masuk pasar di level yang lebih aman dan potensial menguntungkan.
Saat berinvestasi emas, investor dihadapkan pada pilihan antara emas fisik (seperti emas batangan dari Antam dan UBS) dan emas digital atau tokenized. Masing-masing memiliki keunggulan dan pertimbangan tersendiri.
Berikut adalah perbandingan dari emas Antam, UBS dan emas digital:
| Aspek | Emas Antam | Emas UBS | Emas Digital / Tokenized |
|---|---|---|---|
| Bentuk | Fisik (batangan bersertifikat) | Fisik (batangan bersertifikat) | Digital (token di blockchain) |
| Produsen | PT Aneka Tambang (BUMN) | PT Untung Bersama Sejahtera (swasta) | Beragam platform digital (e.g. fintech, exchange) |
| Legalitas & Sertifikasi | Sertifikat LBMA, kemasan bersegel | Sertifikat lokal, kemasan bersegel | Didasarkan pada smart contract & brankas terverifikasi |
| Ketersediaan | Dijual resmi melalui butik Antam & e-commerce | Tersedia di toko emas lokal & marketplace | Bisa dibeli online kapan saja |
| Harga | Cenderung lebih tinggi (brand premium) | Sedikit lebih murah dibanding Antam | Sangat fleksibel (bisa beli fraksional) |
| Likuiditas | Tinggi, mudah dijual kembali | Tinggi, terutama di pasar lokal | Tinggi, tergantung platform |
| Penyimpanan | Perlu disimpan sendiri atau di brankas | Sama seperti Antam | Tidak perlu simpan fisik |
| Aksesibilitas | Perlu beli langsung di gerai atau online | Lebih mudah ditemukan di toko-toko emas | Bisa dibeli mulai dari nominal kecil (misal Rp10.000) |
| Keamanan | Sangat aman bila disimpan dengan benar | Aman, tapi tergantung tempat pembelian | Tergantung keamanan platform & enkripsi blockchain |
Di tengah berkembangnya teknologi finansial, kini investor memiliki lebih banyak pilihan untuk berinvestasi emas secara digital. Salah satu platform yang menyediakan akses ke aset emas digital adalah aplikasi Pintu. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat membeli dua jenis token emas yang populer, yaitu Tether Gold dan Pax Gold .
Salah satu risiko umum dalam investasi adalah membayar terlalu mahal (overpay) untuk suatu aset. Meskipun aset tersebut memiliki prospek yang bagus atau fundamental yang kuat, membeli di harga yang terlalu tinggi dapat mengurangi potensi keuntungan, bahkan berisiko menimbulkan kerugian jika harga pasar terkoreksi.
Untuk mengukur titik aman investasi, penting bagi investor memahami konsep break-even point (BEP). Dalam konteks investasi, break-even point adalah harga minimum yang harus dicapai oleh aset agar investor tidak mengalami rugi—artinya, seluruh biaya pembelian dan biaya tambahan seperti fee, pajak, atau spread sudah tertutupi.
Dengan melakukan analisis break-even, investor bisa mengetahui secara pasti kapan investasinya mulai menghasilkan keuntungan, serta dapat merencanakan strategi masuk dan keluar pasar secara lebih realistis dan terukur.
Misalnya, kamu membeli emas fisik seberat 10 gram dengan rincian sebagai berikut:
Langkah Menghitung BEP:
Untuk mengetahui harga jual minimal agar kamu balik modal (break-even):
Berikut adalah contoh simulasi sederhana dengan pendekatan averaging (DCA): membeli emas Rp1 miliar per bulan selama 12 bulan, namun seluruh pembelian terjadi di harga puncak – untuk menunjukkan pentingnya memahami risiko overpay dan perhitungan break-even point.
Misalnya kamu membeli emas fisik sebanyak Rp1.000.000.000 per bulan selama 12 bulan (total Rp12.000.000.000) saat harga emas berada di kisaran tertinggi, yaitu Rp1.300.000/gram. Biaya pembelian diasumsikan tetap setiap bulan.
Untuk balik modal:
Kapan waktu terbaik beli emas saat harga sedang puncak?
Tunggu koreksi 5-10% dari all-time high atau gunakan Dollar Cost Averaging bulanan.
Apakah beli emas digital lebih untung saat harga mahal?
Ya, spread lebih rendah dan bisa mulai dari Rp5.000 tanpa biaya cetak.
Berapa lama tunggu koreksi harga emas setelah naik drastis?
Biasanya 2-4 minggu, pantau RSI di atas 70 (overbought).
Apa beda strategi averaging vs lump sum saat harga puncak?
Averaging lebih aman karena bagi risiko, lump sum butuh timing tepat.
Minimum modal berapa untuk strategi beli emas saat mahal?
Rp500 ribu/bulan sudah cukup untuk emas digital/tokenized.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: