
Jakarta, Pintu News ā Rencana Afrika Selatan untuk mengenakan tarif hingga 50 persen atas impor kendaraan dari China dan India menimbulkan pertanyaan serius tentang kohesi dalam blok ekonomi BRICS.
Sementara China, India, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan membentuk aliansi yang secara resmi bertujuan memperkuat kerja sama ekonomi, kebijakan tarif ini memperlihatkan ketegangan nyata antara kepentingan nasional dan tujuan kolektif BRICS. Berikut lima insight utama yang relevan bagi analis pasar, investor, maupun pengamat geopolitik.
Afrika Selatan mempertimbangkan tarif tinggi hingga 50 persen atas kendaraan impor dari China dan India untuk melindungi industri otomotif domestik. Kendaraan asal China menyumbang sekitar 53 persen dari total impor kendaraan Afrika Selatan, sedangkan India sekitar 22 persen, sehingga persaingan harga yang agresif telah menekan margin produsen lokal.
Peningkatan tajam impor mobil bertambah signifikan dalam beberapa tahun terakhir ā pengiriman kendaraan dari China naik sekitar 368 persen dan dari India sekitar 135 persen ā menunjukkan dinamika pasar yang memicu upaya proteksionis pemerintah.
Baca Juga: 7 Fakta Mengejutkan Bitcoin & Crypto di Epstein Files: Jejak Awal Crypto Terungkap!

Kebijakan tarif yang agresif ini menimbulkan kritik terhadap prinsip kerja sama BRICS, karena China dan India merupakan sekutu sekaligus mitra dagang dalam blok tersebut. Ini menggambarkan bahwa kepentingan nasional negara anggota terkadang lebih dominan daripada tujuan kolektif dalam hal perdagangan intra-BRICS.
Tekanan semacam ini bertentangan dengan narasi resmi BRICS yang menekankan kerja sama dan sinergi ekonomi antar negara berkembang, memicu perdebatan mengenai arah strategi blok tersebut.
Tarif tinggi terhadap China dan India muncul saat Afrika Selatan berupaya mengatasi defisit perdagangan bilateral dan melindungi industri lokal dari arus barang impor yang lebih murah. Proteksionisme semacam ini dapat dimaknai sebagai respons terhadap tantangan struktural ekonomi global, bukan hanya dinamika intra-BRICS.
Namun, proteksionisme juga membawa risiko perang dagang yang dapat memperdalam ketegangan dengan mitra dagang utama dan melonjakkan biaya bagi konsumen domestik.
Kebijakan tarif semacam ini dapat memperlambat proses integrasi ekonomi yang diupayakan oleh anggota BRICS. Aliansi tersebut secara teoritis berfokus pada penguatan kerjasama, diversifikasi perdagangan, dan pengurangan dominasi sistem keuangan Barat.
Tindakan proteksionis Afrika Selatan mungkin menimbulkan kekhawatiran di kalangan anggota lain bahwa prioritas nasional bisa menghambat pencapaian tujuan jangka panjang, seperti pembentukan mekanisme perdagangan yang lebih terintegrasi dan dukungan terhadap proyek investasi bersama.
Ketegangan ini terjadi di tengah luasnya tekanan tarif global, termasuk kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara BRICS yang juga mencapai 50 persen pada beberapa produk. Langkah semacam itu sering kali dianggap sebagai bagian dari persaingan ekonomi global yang lebih luas antara blok negara berkembang dan ekonomi maju.
Respons dari negara anggota BRICS cenderung beragam, dengan beberapa pihak menyerukan perlunya koordinasi kebijakan yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal, sementara yang lain mempertahankan sikap proteksionis demi kepentingan domestik.
Baca Juga: 4 Fakta Mengejutkan Bitcoin Tembus Rp1,42 Miliar: Mirip Sinyal Teknis BTC April 2025!
Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin,Ā USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalamanĀ trading cryptoĀ yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalamanĀ web tradingĀ dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi.Ā Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: