
Jakarta, Pintu News – Bank investasi global kini semakin optimistis terhadap harga emas hingga akhir 2026, dengan beberapa bank besar bahkan menaikkan target harga emas ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya. Perubahan proyeksi ini penting tidak hanya bagi pasar emas klasik tetapi juga berdampak pada strategi diversifikasi aset investor termasuk mereka yang memegang cryptocurrency seperti Bitcoin . Berikut tujuh poin kunci yang perlu dipahami oleh investor pemula maupun yang berpengalaman.
Deutsche Bank dan beberapa bank besar lainnya memperkirakan harga emas dapat naik sebesar US$6,000 per ounce atau lebih pada akhir 2026, dengan Deutsche Bank mempertahankan target tersebut sebagai ekspektasi jangka panjang. Target ini berarti potensi kenaikan signifikan dari harga spot saat ini yang bergerak di kisaran US$4,800 per ounce. Target ambisius ini mencerminkan keyakinan terhadap permintaan yang kuat dari bank sentral dan investor global.
JP Morgan secara khusus memproyeksikan harga emas mencapai US$6,300 per ounce dengan dukungan pembelian bank sentral yang kuat serta diversifikasi cadangan dari aset berbasis dolar. Target ini mencerminkan tren jangka panjang permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: 5 Crypto yang Dilirik Whale pada Februari 2026, Akumulasi Diam-Diam di Tengah Volatilitas

Pendorong utama proyeksi harga emas yang lebih tinggi adalah tren diversifikasi cadangan internasional oleh bank sentral. Bank-bank sentral meningkatkan pembelian emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio mereka. Langkah ini memberikan dukungan fundamental yang kuat bagi permintaan emas jangka panjang.
Selain itu, kombinasi ketidakpastian ekonomi, kebijakan moneter global yang longgar, dan gejolak geopolitik mendukung pandangan bahwa emas akan tetap menjadi aset safe haven utama. Dukungan pembelian ETF emas juga memperkuat permintaan di pasar.
Pandangan bullish terhadap emas bisa berdampak pada investor crypto karena keduanya sering diperlakukan sebagai aset alternatif atau lindung nilai terhadap risiko makro. Ketika prospek emas jangka panjang semakin kuat, alokasi modal investor ke aset spekulatif seperti Bitcoin dan altcoin bisa dipengaruhi.
Beberapa investor mungkin melihat target harga emas yang tinggi sebagai alasan untuk menyeimbangkan portofolio mereka dengan aset safer haven selain cryptocurrency, khususnya saat volatilitas crypto meningkat. Diversifikasi semacam ini bisa melibatkan perpindahan sebagian dana dari aset berisiko ke instrumen lindung nilai seperti emas atau token emas berbasis blockchain.
Meningkatnya target harga emas oleh bank besar sering kali dianggap sebagai indikator permintaan struktural jangka panjang, bukan hanya reaksi terhadap volatilitas pasar sementara. Permintaan emas yang konsisten menunjukkan bahwa aset ini tetap menarik sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Namun, target ini bukan jaminan bahwa harga akan mencapai atau melampaui angka tersebut dalam semua skenario ekonomi. Investor perlu memahami bahwa proyeksi ini bergantung pada asumsi strategi bank sentral, permintaan investasi, dan kondisi ekonomi makro global.
Jika harga emas benar-benar naik ke level target bank besar seperti US$6,000–US$6,300, hal ini bisa memperkuat pandangan bahwa aset safe haven lain juga mengalami permintaan kuat. Ini termasuk obligasi pemerintah, serta stablecoin berbasis aset nyata seperti token emas atau token dengan dukungan logam mulia.
Investor sebaiknya memperhitungkan hubungan antara safe haven tradisional dan aset digital ketika menyusun strategi portofolio. Perubahan harga emas sering mempengaruhi sentimen risiko di pasar yang lebih luas, termasuk crypto.
Meskipun proyeksi bank besar sering kali bullish, risiko tetap ada jika kondisi ekonomi global berubah secara drastis. Misalnya, penguatan dolar AS atau kenaikan suku bunga tajam oleh bank sentral dapat menekan harga emas dalam jangka pendek.
Demikian pula, volatilitas pasar keuangan global dapat memicu perubahan cepat dalam preferensi investor antara aset berisiko dan lindung nilai. Ini berarti investor harus siap menghadapi kemungkinan harga emas terkoreksi sebelum mencapai target jangka panjang.
Bagi investor crypto maupun tradisional, memahami dampak target harga emas membantu dalam menyusun strategi diversifikasi yang lebih matang. Menyebarkan alokasi aset ke berbagai kelas — termasuk crypto, emas fisik atau tokenized, dan instrumen pasar modal — dapat membantu mengurangi risiko volatilitas tinggi.
Strategi ini penting terutama ketika pasar mengalami tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar, kebijakan moneter global, atau peristiwa geopolitik. Pendekatan multi-aset yang seimbang sering kali dipandang lebih stabil dalam jangka panjang.
Baca Juga: 3 Crypto Underrated Bulan Februari 2026 yang Mulai Dilirik Investor, Bukan Sekadar Hype!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
TheStreet. Top bank reaffirms gold price target into late 2026 . Diakses tanggal 6 Februari 2026.