5 Fakta Shiba Inu (SHIB) Turun ke Level Terendah 2023, Ini Perbandingannya dengan Emas!

Di-update
February 12, 2026
Bagikan
Gambar 5 Fakta Shiba Inu (SHIB) Turun ke Level Terendah 2023, Ini Perbandingannya dengan Emas!


Jakarta, Pintu News –  Pasar crypto kembali menghadapi tekanan setelah Shiba Inu tercatat menyentuh level terendahnya sejak 2023. Di tengah pelemahan sejumlah cryptocurrency, performa aset digital juga disebut masih kalah dibandingkan emas yang dipandang sebagai safe haven.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru bagi investor, baik pemula maupun berpengalaman, mengenai arah pergerakan pasar dalam jangka pendek hingga menengah. Berikut lima fakta penting yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan investasi.

1. Shiba Inu (SHIB) Sentuh Titik Terendah Sejak 2023

Shiba Inu (SHIB) dilaporkan turun ke level harga terendahnya sejak tahun 2023, mencerminkan tekanan jual yang masih dominan di pasar meme coin. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya sentimen risiko global serta arus modal yang cenderung berpindah ke aset yang lebih stabil. Kondisi tersebut membuat SHIB kehilangan momentum yang sebelumnya sempat terbentuk.

Secara teknikal, pelemahan harga ini memperlihatkan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk membalikkan tren. Volume perdagangan yang menurun juga mengindikasikan sikap wait and see dari pelaku pasar. Bagi investor cryptocurrency, fase ini sering kali menjadi periode konsolidasi sebelum terbentuk arah tren berikutnya.

Baca Juga: Tokenized Commodities Melampaui $6 Miliar: Apa Artinya bagi Pasar Crypto?

2. Crypto Masih Tertinggal dari Emas yang Tembus Rp33.652.000

Di saat pasar crypto melemah, harga emas justru menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Jika harga emas global berada di kisaran USD2.000 per ons, maka dengan kurs Rp16.826 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp33.652.000 per ons. Angka ini memperlihatkan kontras antara aset lindung nilai tradisional dan aset digital berisiko tinggi.

Perbandingan ini menegaskan bahwa dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, investor cenderung memilih instrumen yang lebih defensif. Emas memiliki rekam jejak panjang sebagai penyimpan nilai, sementara cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum masih dikategorikan sebagai aset volatil. Hal ini menjelaskan mengapa arus dana jangka pendek dapat bergeser dari crypto ke emas.

3. Tekanan Tidak Hanya pada SHIB, Tapi Juga Altcoin Lain

Pelemahan tidak hanya terjadi pada Shiba Inu (SHIB), tetapi juga pada sejumlah altcoin lain di pasar crypto. Koin-koin dengan kapitalisasi menengah hingga kecil cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen dibandingkan Bitcoin (BTC). Ketika BTC terkoreksi, altcoin biasanya mengalami penurunan yang lebih dalam.

Fenomena ini umum terjadi dalam siklus cryptocurrency, terutama saat likuiditas pasar menurun. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi dan mengamankan posisi pada aset yang dianggap lebih stabil. Oleh karena itu, volatilitas yang tinggi tetap menjadi karakter utama pasar crypto.

4. Sentimen Makroekonomi Masih Jadi Penentu Utama

Pergerakan pasar crypto saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi makroekonomi global. Kebijakan suku bunga, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik berpengaruh langsung terhadap minat investor terhadap aset berisiko. Ketika suku bunga tinggi, instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan cryptocurrency.

Selain itu, penguatan dolar AS juga dapat memberi tekanan tambahan pada harga crypto. Dengan nilai tukar Rp16.826 per USD, setiap penguatan dolar membuat investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di aset spekulatif. Situasi ini berkontribusi pada pelemahan harga berbagai cryptocurrency dalam beberapa waktu terakhir.

5. Apa Artinya bagi Investor Pemula dan Berpengalaman?

Bagi investor pemula, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pasar crypto memiliki volatilitas tinggi dan memerlukan manajemen risiko yang disiplin. Diversifikasi portofolio, termasuk mempertimbangkan aset non-crypto, dapat membantu mengurangi risiko fluktuasi ekstrem. Pemahaman terhadap fundamental proyek juga penting sebelum membeli cryptocurrency tertentu.

Sementara itu, investor berpengalaman biasanya memanfaatkan fase penurunan sebagai momen evaluasi strategi. Sebagian melihat koreksi sebagai peluang akumulasi jangka panjang, sementara lainnya memilih menunggu konfirmasi tren. Keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada profil risiko, tujuan keuangan, dan analisis yang komprehensif.

Secara keseluruhan, turunnya Shiba Inu (SHIB) ke level terendah sejak 2023 dan performa crypto yang masih kalah dari emas menunjukkan bahwa dinamika pasar sangat dipengaruhi sentimen global. Investor perlu memahami bahwa cryptocurrency bukan hanya soal potensi imbal hasil tinggi, tetapi juga kesiapan menghadapi volatilitas. Pendekatan rasional dan terukur menjadi kunci dalam menghadapi fase pasar seperti saat ini.

Baca Juga: 7 Alasan Permintaan Perak Tetap Kuat di 2026: Defisit Pasar & Investasi Naik

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga BitcoinUSDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->