3 Faktor Harga Emas Turun & Dolar AS Menguat hingga 60%

Di-update
March 4, 2026
Bagikan
Gambar 3 Faktor Harga Emas Turun & Dolar AS Menguat hingga 60%

Jakarta, Pintu News – Harga emas global kembali mengalami tekanan di tengah perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Penguatan dolar AS membuat harga emas kehilangan daya tarik sebagai aset safe haven bagi investor. Situasi ini juga menjadi perhatian pelaku pasar crypto dan cryptocurrency karena pergerakan aset global sering memengaruhi sentimen investasi secara luas.

Di sisi lain, investor mulai mempertimbangkan instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding emas. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan kebijakan moneter global dapat memengaruhi berbagai kelas aset, mulai dari emas hingga cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum .

1. Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas Global

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai dolar meningkat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan global terhadap emas cenderung menurun dan memicu tekanan harga di pasar komoditas.

Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat serta kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga oleh bank sentral. Data dari CME Group FedWatch menunjukkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Maret mendatang. Situasi ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global dibandingkan emas.

Baca Juga: 7 Alasan Emas On-Chain Naik Daun: Trading 24/7 Saat Pasar Tutup, XAUT-USDT Jadi Incaran

2. Margin Call di Pasar Saham Picu Penjualan Emas

Tekanan pada harga emas juga dipengaruhi oleh kondisi pasar saham global yang mengalami volatilitas tinggi. Ketika harga saham turun tajam, investor yang menggunakan leverage sering mengalami margin call. Untuk memenuhi kebutuhan tambahan modal tersebut, mereka harus menjual sebagian aset yang dimiliki.

Emas sering menjadi pilihan pertama untuk dijual karena sebelumnya telah mencatatkan kenaikan harga sepanjang tahun. Penjualan besar-besaran ini menciptakan efek domino yang mempercepat penurunan harga emas di pasar. Dalam kondisi seperti ini, emas tidak lagi berfungsi sebagai pelindung nilai, melainkan menjadi sumber likuiditas bagi investor.

Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana investor global mengelola portofolio dalam situasi pasar yang tidak pasti. Selain emas, beberapa investor juga mulai mengalihkan perhatian ke aset digital seperti cryptocurrency untuk diversifikasi investasi.

3. Investor Profesional Beralih ke Aset dengan Imbal Hasil Lebih Tinggi

Perubahan strategi investasi dari institusi keuangan juga turut menekan harga emas. Banyak manajer investasi mulai mengurangi kepemilikan emas dan mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu alternatif yang lebih menarik karena memberikan bunga yang stabil.

Sementara emas tidak memberikan yield atau bunga, kenaikan suku bunga membuat instrumen berbasis pendapatan tetap menjadi lebih kompetitif. Kondisi ini membuat aliran dana global bergeser dari emas menuju aset yang dinilai lebih menguntungkan dalam jangka pendek.

Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tren naik jangka panjang. Namun tekanan jual yang kuat membuka peluang koreksi lebih dalam jika beberapa level support penting ditembus, antara lain:

  • Support pertama: $5.143,89 atau sekitar Rp86.957.151
  • Support kedua: $5.002,31 atau sekitar Rp84.563.548
  • Rata-rata pergerakan 50 hari: $4.833,30 atau sekitar Rp81.706.613

Jika tekanan pasar berlanjut, harga emas berpotensi mendekati level support tersebut sebelum menemukan momentum pemulihan.

Kesimpulan: Pergeseran Sentimen Pasar Global

Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa emas sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah. Penguatan dolar AS, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed, serta likuidasi akibat margin call menjadi faktor utama yang menurunkan harga emas. Selama inflasi dan harga minyak global masih tinggi, dolar AS diperkirakan tetap kuat dan terus memengaruhi pergerakan harga emas.

Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika pasar global dapat memengaruhi berbagai instrumen investasi. Selain emas, aset digital seperti crypto dan cryptocurrency juga sering mengalami perubahan sentimen akibat kebijakan moneter global. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kebijakan ekonomi dan pergerakan pasar menjadi langkah penting dalam menyusun strategi investasi.

Baca Juga: 5 Keunggulan Deposito Emas Pegadaian

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

Crypto Berbasis Emas: Ketika Aset Fisik Bertemu Teknologi Kripto

buy gold bar
Sumber: Dr Wealth

Seiring berkembangnya teknologi blockchain, kini emas tidak hanya bisa dimiliki dalam bentuk fisik seperti perhiasan atau batangan, tetapi juga dalam bentuk digital melalui aset kripto berbasis emas.

Salah satu yang paling populer adalah Pax Gold (PAXG), stablecoin yang didukung oleh satu troy ounce (t oz) dari emas batangan London Good Delivery 400 oz, yang disimpan di brankas Brink.

Token PAXG tersedia dan diperdagangkan di berbagai bursa kripto. PAXG juga menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin lindung nilai terhadap inflasi atau ketidakpastian ekonomi global, sembari tetap berada dalam ekosistem aset digital.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->