
Jakarta, Pintu News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak tipis pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026. Setelah ditutup menguat pada hari sebelumnya, mata uang Garuda kembali sedikit tertekan pada pagi ini akibat kombinasi sentimen dari pasar global dan tekanan fiskal dalam negeri yang masih membayangi.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.069 per dolar AS pada Kamis pagi, melemah sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan Rabu (15/7/2026) di level Rp18.068 per dolar AS. Pelemahan tipis ini terjadi meski indeks dolar AS (DXY) justru ikut melemah ke level 100,7.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan bahwa pelemahan indeks dolar dipicu oleh laporan indeks harga produsen (PPI) AS yang turun 0,3 persen pada Juni 2026, jauh dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Data tersebut menyusul rilis inflasi konsumen (CPI) yang juga berada di bawah proyeksi, sehingga memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi di AS mulai melandai.
Menurut Andry, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September hanya sekitar 49 persen, turun cukup jauh dari sekitar 70 persen pada pekan sebelumnya. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam kesaksiannya di hadapan Kongres tetap menegaskan komitmen bank sentral AS untuk menjaga stabilitas harga, meski ia mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi kembali naik.
Baca juga: “Kurs Rupiah Hari Ini 15 Juli 2026: Menguat ke Rp18.070/USD“
Pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026), rupiah justru mencatatkan penguatan 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan penguatan tersebut tidak akan berlanjut pada perdagangan hari ini.
Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah ke kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS sepanjang hari ini. Sementara itu, Andry Asmoro dari Bank Mandiri memberikan proyeksi yang sedikit berbeda, yakni rupiah akan bergerak di rentang Rp18.011 hingga Rp18.084 per dolar AS. Perbedaan proyeksi antar lembaga seperti ini lazim terjadi karena masing-masing menggunakan model dan sumber data pasar yang berbeda.
Jika ditarik mundur, pergerakan rupiah sepanjang paruh pertama Juli 2026 tercatat cukup dinamis. Mata uang Garuda pernah menyentuh kisaran Rp17.950 per dolar AS pada awal bulan, kemudian melemah ke atas Rp18.060 pada pekan berikutnya, sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran Rp18.070 hingga Rp18.100 dalam beberapa hari terakhir. Sebagai acuan resmi, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia tercatat di level Rp18.099 per dolar AS pada 14 Juli 2026, turun dari Rp18.131 pada hari sebelumnya.
Selain faktor kebijakan moneter AS, tekanan terhadap rupiah juga datang dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dilaporkan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur AS di kawasan tersebut.
Iran juga dikabarkan menutup kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia. Langkah ini memperbesar keraguan pasar terhadap keberlanjutan nota kesepahaman gencatan senjata yang sempat ditandatangani bulan lalu antara Iran dan negara-negara tetangganya.
Kenaikan risiko geopolitik semacam ini umumnya mendorong pelaku pasar global untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga ikut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini membuat pergerakan kurs dalam beberapa hari mendatang kemungkinan masih akan bergerak searah dengan perkembangan situasi di kawasan tersebut.
Baca juga: “Cara Lindungi Aset dari Pelemahan Rupiah: Panduan Investor Pemula“
Fluktuasi mata uang fiat yang terus bergerak membuat penyimpanan aset dalam bentuk dolar menjadi salah satu opsi diversifikasi. Kini semakin mudah dilakukan berkat kehadiran aset crypto berjenis stablecoin. Proses penukaran pun menjadi lebih praktis dan efisien tanpa perlu mengunjungi money changer secara fisik.
Melalui aplikasi Pintu, tersedia akses untuk berinvestasi pada stablecoin yang nilainya dipatok 1:1 dengan Dolar AS, seperti Tether (USDT), USD Coin (USDC).
Selain menawarkan tingkat keamanan dan likuiditas yang tinggi, penyimpanan USDT atau USDC di platform Pintu juga memberikan peluang keuntungan tambahan melalui fitur Earn.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer:
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.