3 Alasan XRP Bisa Segera Breakout Menurut Analis

Di-update
July 16, 2026
Bagikan
Gambar 3 Alasan XRP Bisa Segera Breakout Menurut Analis

Jakarta, Pintu News – Token XRP milik Ripple masih tertekan setelah anjlok signifikan dari level tertinggi sepanjang masa di kisaran US$3,65 yang pernah disentuh pada pertengahan 2025. Meski tren jangka pendek masih lemah, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda bahwa momentum breakout XRP bisa terjadi dalam waktu dekat, didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi, sentimen pasar, hingga perkembangan regulasi di Amerika Serikat.

Harga XRP Masih Tertekan, tapi Ada Titik Terang

Berdasarkan data yang dihimpun Pintu News, XRP diperdagangkan di kisaran US$1,13 pada 15 Juli 2026, turun 2,4% dalam 24 jam terakhir. Level ini masih jauh dari harga tertinggi sepanjang masa US$3,65 yang pernah dicapai XRP pada 2025, menandakan koreksi panjang yang sudah berlangsung lebih dari setahun.

Baca juga: “Harga XRP Hari Ini 15 Juli 2026: Turun ke US$1,13, Whale Akumulasi

Menariknya, di tengah koreksi harga tersebut, data on-chain justru menunjukkan pola akumulasi. Dompet whale yang menyimpan lebih dari 10 juta XRP kini menguasai sekitar 68,5% dari total suplai yang beredar, level konsentrasi tertinggi sejak Mei 2018.

Pola ini kerap dibaca sebagai sinyal bahwa investor besar memanfaatkan harga rendah untuk menambah kepemilikan mereka, alih-alih melepas aset di tengah tekanan pasar. Dalam laporannya yang terbit 15 Juli 2026, Watcher Guru menyebut setidaknya ada tiga alasan utama yang bisa memicu XRP kembali bangkit dari fase tertekan ini.

Alasan Pertama: Sinyal Pemulihan Pasar Crypto dan Data Inflasi AS

Faktor pertama datang dari kondisi pasar crypto secara keseluruhan yang mulai menunjukkan tanda pemulihan. Bitcoin berhasil merebut kembali level US$64.000, dan sejumlah aset lain termasuk XRP mulai mengikuti pola kenaikan tersebut.

Pemulihan ini terjadi bersamaan dengan data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni yang turun 0,4%, penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari enam tahun terakhir. Inflasi yang melandai membuka kembali harapan pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, sebuah kondisi yang secara historis cenderung menguntungkan aset berisiko seperti crypto, termasuk XRP.

Alasan Kedua: Sentimen FOMO di Kalangan Investor Ritel

Alasan kedua datang dari sisi psikologi pasar. Data dari Santiment yang dikutip Watcher Guru menunjukkan perbandingan komentar bullish terhadap XRP di media sosial mencapai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan komentar bearish. Rasio ini mengindikasikan munculnya fenomena fear of missing out atau FOMO di kalangan investor ritel terhadap token milik Ripple tersebut.

Koin Bitcoin dan Ethereum mengambang dengan grafik pasar sebagai latar
Ilustrasi grafik pasar crypto yang menjadi acuan analisis teknikal XRP. Sumber: DS stories via Pexels / Pexels License

Fenomena FOMO semacam ini kerap menjadi sinyal awal masuknya minat beli baru ke sebuah aset, terutama ketika harga masih berada di level yang dianggap murah oleh sebagian investor. Namun begitu, lonjakan sentimen positif di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan pergerakan harga dalam jangka pendek, sehingga tetap perlu diimbangi dengan data fundamental dan teknikal lain sebelum mengambil keputusan.

Alasan Ketiga: Harapan dari Kejelasan Regulasi CLARITY Act

Faktor ketiga dan yang paling banyak disorot pasar adalah perkembangan RUU CLARITY Act di Amerika Serikat. RUU ini bertujuan memberikan kejelasan status hukum bagi aset crypto, termasuk memperkuat klasifikasi XRP sebagai komoditas alih-alih efek atau surat berharga yang selama ini menjadi ganjalan bagi Ripple.

Baca juga: “XRP Siap Meledak di Juli 2026? Inilah Analisis Lengkapnya

Koin crypto beserta ponsel yang menampilkan pergerakan pasar digital
Ilustrasi berbagai koin crypto dan pergerakan pasar digital. Sumber: Alesia Kozik via Pexels / Pexels License

RUU tersebut sebelumnya telah disahkan oleh DPR (House of Representatives) AS pada Juli 2025 dengan hasil voting 294 banding 134, dan kini menunggu proses di Senat setelah Komite Perbankan Senat menyetujuinya secara bipartisan pada 14 Mei 2026. Senator Cynthia Lummis bahkan menyebut RUU ini berpotensi sampai ke sidang paripurna Senat dalam beberapa pekan mendatang, meski data dari platform prediksi Polymarket menunjukkan peluang pengesahannya masih berada di kisaran 43%.

Jika disahkan, status XRP sebagai komoditas yang saat ini baru berdasarkan interpretasi bersama SEC dan CFTC pada Maret 2026 akan menjadi permanen secara hukum. Hal tersebut dapat menghapus ketidakpastian regulasi yang membayangi Ripple selama hampir lima tahun terakhir, sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak lembaga keuangan untuk masuk ke ekosistem XRP.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->