
Jakarta, Pintu News – Pasar mata uang crypto kini dipandang melalui sudut pandang siklus, dengan para investor memperdebatkan apakah pola pasar di masa lalu masih memberikan sinyal yang dapat diandalkan. Perbandingan antara tahun 2016 dan 2026 menunjukkan ketegangan yang serupa.
Beberapa pola waktu dan perilaku teknikal kembali muncul dengan kemiripan yang mencolok, menunjukkan pola siklus yang serupa dalam pasar crypto. Namun, di saat yang sama, sentimen pasar telah berubah secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir akibat kemajuan regulasi dan meningkatnya adopsi.
Keterkaitan yang paling kuat dan terukur antara tahun 2016 dan 2026 terletak pada siklus halving Bitcoin . Pada Juli 2016, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $651 saat halving keduanya terjadi. Pasar kemudian mencapai puncaknya di sekitar $19.700 pada Desember 2017, sekitar 526 hari setelah halving, menandai kenaikan hampir 2.900%.
Baca juga: Daftar Orang Terkaya Bitcoin: Siapa Pemilik BTC Terbanyak pada 2026?
Skenario serupa terjadi setelah halving keempat pada April 2024. Saat itu, Bitcoin berada di sekitar $63.000 dan mencapai puncak mendekati $126.200 pada Oktober 2025, kira-kira 534 hari kemudian. Meski waktu kenaikan sangat mirip dengan siklus sebelumnya, kenaikannya jauh lebih rendah—sekitar 100% dari harga saat halving, atau sekitar 38% secara keseluruhan.
Kesamaan dalam waktu puncaknya—sekitar 520 hingga 530 hari setelah halving—menarik untuk dicermati. Namun, penurunan dalam besarnya keuntungan juga sangat mencolok. Kenaikan pasca-halving kini jauh menurun seiring semakin dewasanya pasar Bitcoin, yang kapitalisasinya tumbuh dari sekitar $10 miliar pada 2016 menjadi sekitar $1,8 triliun pada 2026.
Perbedaan antara kedua siklus ini menunjukkan bahwa meski pasar masih mengikuti pola waktu yang mirip (kemungkinan besar dipengaruhi oleh perubahan pasokan Bitcoin yang sudah terprogram), besarnya pergerakan harga cenderung menurun.
Keterlibatan institusi yang semakin besar telah menambah likuiditas dan stabilitas, sehingga mengurangi lonjakan spekulatif ekstrem yang pernah terjadi di masa lalu.
Salah satu korelasi paling menarik muncul dalam pola waktu siklus altcoin. Pada kuartal keempat 2016, rasio altcoin terhadap Bitcoin (ALT/BTC) mencapai titik terendah, menandai dasar dari masa underperformance altcoin.
Memasuki kuartal pertama dan kedua 2017, musim altcoin meledak secara luar biasa: Ethereum melonjak 17.400% dari $8 menjadi $1.400, XRP naik 64.000% dari $0,006 menjadi $3,84, bahkan proyek-proyek kecil pun meningkat puluhan kali lipat hanya dalam hitungan hari.
Sepuluh tahun kemudian, pada kuartal keempat 2025, ALT/BTC kembali membentuk dasar, mencerminkan pola 2016 dengan akurasi yang hampir sempurna. Pada awal Januari 2026, Altcoin Season Index mencapai angka 55, tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mengindikasikan fase awal dari altseason.

Berdasarkan pola historis dari siklus 2016–2017 dan 2020–2021, altseason biasanya dimulai dalam 3–4 bulan setelah titik dasar ini—yang berarti kuartal kedua hingga ketiga 2026 berpotensi menjadi masa performa kuat altcoin.
Korelasi ini penting karena mencerminkan perilaku pasar secara keseluruhan, bukan sekadar siklus halving Bitcoin. Ketika dominasi Bitcoin mencapai puncaknya dan investor mulai mengalihkan dana ke aset kripto lain, pola yang sama cenderung berulang dalam berbagai siklus pasar. Yang berbeda hanyalah besarnya keuntungan.
Rally altcoin saat ini kemungkinan akan lebih moderat, karena sebagian besar proyek kini beroperasi di lingkungan yang lebih teregulasi dan transparan—berbeda dengan pasar yang nyaris tanpa regulasi seperti pada tahun 2017.
Dominasi Bitcoin—yaitu persentase kapitalisasi pasar kripto yang diwakili oleh Bitcoin—mengungkap penyimpangan penting antara tahun 2016 dan 2026. Pada tahun 2016, dominasi Bitcoin rata-rata berada di angka 82,6%, saat pasar masih dalam masa pemulihan dari keruntuhan Mt. Gox dan narasi utama Bitcoin sebagai “emas digital” masih sangat kuat.
Namun, ketika musim altcoin memuncak di akhir 2017, dominasi ini anjlok hingga 32%, mencerminkan penurunan lebih dari 50 poin persentase dalam pangsa pasar Bitcoin.
Sebaliknya, tahun 2026 dibuka dengan dominasi Bitcoin berada di kisaran 59%–61%, level yang terus meningkat sejak 2023 setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah sekitar 40%.

Alih-alih mengikuti pola tahun 2016 yang menunjukkan penurunan tajam menjelang altseason, dominasi Bitcoin pada 2026 justru meningkat. Ini menunjukkan bahwa modal institusional cenderung terkonsolidasi pada Bitcoin sebagai cadangan strategis utama, bukan pada hype altcoin.
Baca juga: Steak ’n Shake Luncurkan Bonus Bitcoin (BTC) untuk Para Karyawan!
Analisis historis menunjukkan bahwa selama siklus halving tahun 2016 dan 2020, dominasi Bitcoin pada akhirnya turun ke kisaran 40% sebelum mengalami pemulihan. Pertanyaan utama untuk tahun 2026 adalah apakah level dukungan ini akan bertahan, atau justru dominasi Bitcoin terus meningkat—sesuatu yang akan menjadi penyimpangan dari anggapan bahwa 2026 akan mengulang pola tahun 2016.
Hal yang paling mencolok adalah seberapa drastis penurunan keuntungan pasca-halving dari waktu ke waktu. Angka-angka berikut menunjukkan dengan jelas:
Data ini memperlihatkan penurunan tajam dari satu siklus ke siklus berikutnya. Dengan setiap siklus baru, keuntungan yang diperoleh hanya merupakan sebagian kecil dari siklus sebelumnya.
Seiring dengan bertambahnya nilai pasar Bitcoin dan masuknya modal institusional, volatilitas harga menjadi semakin rendah dan lebih terkendali.
Kesimpulannya sangat jelas: meskipun pasar pada tahun 2026 mengikuti garis waktu yang serupa dengan tahun 2016—dimulai dengan reli altcoin dan diikuti oleh penurunan—besarnya keuntungan kemungkinan besar akan jauh lebih terbatas.
Pasar yang lebih matang dan tingkat leverage yang lebih rendah menjadikan lonjakan harga eksplosif seperti pada siklus awal semakin tidak mungkin terjadi.
Perbedaan penting lainnya terlihat pada volatilitas Bitcoin. Pada tahun 2016, rata-rata volatilitas 30 hari Bitcoin tercatat sebesar 2,49%—terlihat rendah sampai dibandingkan dengan volatilitas 4,13% saat ledakan ICO pada 2017.
Namun, pada tahun 2025, meskipun Bitcoin mencapai rekor tertinggi mendekati $126.000 sebelum mengalami koreksi, volatilitas hariannya turun menjadi hanya 2,24%—terendah dalam sejarah Bitcoin.
Paradoks ini menunjukkan bahwa “lantai” volatilitas Bitcoin telah meningkat tajam dalam satu dekade terakhir. Pada 2016, lantai volatilitas Bitcoin adalah $366. Hari ini, angka tersebut mencapai $76.329—naik 208 kali lipat—yang mencerminkan kedalaman modal institusional yang kini mendukung aset ini.
Baca juga: Sentimen Ritel XRP Berubah dari Serakah ke Takut Ekstrem — Pertanda Bullish?
Kehadiran ETF Bitcoin spot, yang disetujui pada Januari 2024, turut mengurangi volatilitas sebesar 55% dibandingkan periode sebelum ETF, dengan menyediakan pembeli institusional yang stabil.

Perubahan struktur pasar ini berarti bahwa meskipun 2026 mengikuti pola waktu siklus seperti 2016, pergerakannya cenderung terasa lebih tenang. Investor institusional kini memegang peran jauh lebih besar dalam menjaga stabilitas harga dan membatasi penurunan tajam.
Akibatnya, perilaku pasar pun berubah: kegembiraan emosional yang didorong oleh investor ritel pada 2016 kini banyak digantikan oleh keputusan investasi berbasis strategi dari para pelaku besar.
Mungkin korelasi paling mendasar terletak pada kematangan pasar itu sendiri. Pada 2016, pasar kripto sepenuhnya digerakkan oleh spekulasi ritel. Hampir tidak ada partisipasi institusional, kerangka regulasi pun nyaris tidak ada, dan kapitalisasi pasar total hanya sekitar $10 miliar.
Pada 2026, lebih dari 200 perusahaan publik telah memegang Bitcoin, pemerintah memiliki cadangan strategis sebanyak 307.000 BTC, dan kepemilikan institusi kini mencakup sekitar 10–14% dari total pasokan Bitcoin.
Perubahan struktur ini menjelaskan mengapa tahun 2026 bisa mengikuti pola waktu siklus yang sama dengan 2016, tetapi menunjukkan perilaku pasar yang sangat berbeda. Uang institusional kini memainkan peran besar, mengaitkan harga kripto secara lebih erat dengan faktor ekonomi makro seperti suku bunga, nilai dolar, dan imbal hasil obligasi—faktor yang hampir tidak diperhitungkan pada 2016, ketika spekulasi menjadi penggerak utama harga.
Saat ini, arus masuk dan keluar ke ETF Bitcoin bisa mencapai lebih dari $1 miliar dalam satu hari, menjadikan kondisi makro sebagai penggerak utama aksi harga. Pola seperti ini sama sekali belum ada satu dekade yang lalu.
Pertanyaan utama dalam perbandingan antara tahun 2016 dan 2026 adalah apakah siklus halving empat tahunan Bitcoin masih menjadi pendorong utama pasar. Bukti yang ada menunjukkan dua sisi.
Para pendukung berargumen bahwa pola-pola lama masih muncul, seperti puncak bull market yang biasanya terjadi sekitar 500 hari setelah halving, rotasi altcoin di akhir tahun, serta pasar bearish yang tetap berlangsung selama setahun atau lebih.
Namun, para skeptis menilai bahwa pola-pola tersebut kini tidak sepenting dulu. Matt Hougan, misalnya, berpendapat bahwa kehadiran ETF, kejelasan regulasi, dan kemudahan akses bagi institusi telah melembutkan siklus naik-turun tajam yang dulu menjadi ciri khas pasar kripto.
Data pun mendukung pandangan ini hingga batas tertentu. Meskipun pola waktu seputar halving masih konsisten, besarnya keuntungan telah menyusut drastis dibandingkan tahun 2016.
Hasil akhirnya adalah pasar yang masih menggema pola-pola lama, tetapi tidak lagi merespons dengan cara yang sama. Partisipasi institusional kini memainkan peran yang sangat menentukan, memicu dinamika yang sebelumnya hampir tidak ada satu dekade lalu.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: