
Jakarta, Pintu News ā Prediksi harga emas tahun 2026 kembali menjadi fokus pasar setelah bank investasi global Goldman Sachs menaikkan targetnya, memicu diskusi tentang prospek logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Goldman Sachs telah menaikkan proyeksi harga emas untuk akhir 2026 menjadi US$5.400 per ons dari sebelumnya US$4.900 per ons. Revisi ini mencerminkan pandangan bahwa permintaan emas akan tetap tinggi karena diversifikasi aset oleh sektor swasta dan bank sentral di pasar negara berkembang. Jika target tersebut tercapai, harga emas di Indonesia bisa setara sekitar Rp2.543.000 per gram (US$5.400 ā Rp16.815 Ć 31,1035 gram), menjadikannya salah satu level tertinggi dalam sejarah prediksi pasar.
Permintaan emas oleh investor institusional ini didorong oleh keinginan untuk melindungi portofolio terhadap risiko kebijakan moneter global dan volatilitas aset berisiko seperti saham dan crypto. Perubahan target ini juga disebabkan oleh kecenderungan pembelian emas fisik dan ETF oleh investor yang mencari lindung nilai jangka panjang.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Kesenjangan Pasokan Perak vs Emas dan Dampaknya ke Crypto & Aset Komoditas

Permintaan emas global tetap didukung oleh pembelian oleh bank sentral di negara-negara berkembang dengan rata-rata pembelian sekitar 60 ton per bulan. Bank sentral menggunakan emas sebagai diversifikasi cadangan dari mata uang fiat tradisional seperti dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai aset lindung nilai yang penting menjelang 2026, terutama saat pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi makro.
Investor ritel juga menambah permintaan melalui ETF dan pembelian fisik, yang turut memperkuat fundamental harga emas. Permintaan gabungan ini membantu menopang proyeksi harga yang lebih tinggi di akhir 2026.
Analis teknikal dan pasar memperkirakan bahwa emas bisa menguji level US$5.000 per ons di pertengahan 2026. Angka ini dianggap sebagai level psikologis penting karena berada di atas rekor harga historis yang telah dicapai sebelumnya. Jika tekanan jual tidak signifikan, momentum harga bisa melanjutkan tren naik ini pada paruh kedua tahun ini.
Menguji US$5.000 per ons berarti emas terus menunjukkan perannya sebagai instrumen diversifikasi di portofolio yang juga mencakup saham dan cryptocurrency. Dalam konteks volatilitas pasar global, level ini menjadi tolok ukur kekuatan tren jangka menengah.
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga dari Federal Reserve AS. Ekspektasi pemotongan suku bunga dapat mendorong investor untuk mencari aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Prospek suku bunga yang lebih longgar diharapkan memperkuat permintaan investasi fisik dan ETF emas.
Ketika suku bunga menurun, biaya peluang memegang emas relatif menurun, sehingga investor cenderung memindahkan sebagian dana mereka dari aset berbasis bunga ke logam mulia sebagai lindung nilai.
Meskipun proyeksi jangka panjang menunjukkan tren naik, pasar emas tetap rentan terhadap volatilitas harga jangka pendek. Faktor seperti perubahan geopolitik, stabilitas moneter, dan dinamika pasar global dapat menyebabkan koreksi harga sementara. Investor perlu memperhatikan risiko ini sebelum membuat keputusan investasi.
Harga emas tidak selalu bergerak linier; periode konsolidasi dapat terjadi bahkan saat tren fundamental tetap kuat. Ini berarti investor harus siap menghadapi fluktuasi harga saat menilai peluang investasi.

Selain Goldman Sachs, sejumlah lembaga riset lain juga memberikan prediksi harga emas untuk 2026. Misalnya, HSBC memperkirakan emas bisa mencapai sekitar US$5.000 per ons pada 2026, sementara beberapa analis independen bahkan menempatkan perkiraan tertinggi di atas US$5.500 per ons.
Variasi proyeksi ini menunjukkan bahwa meskipun konsensus umum adalah tren naik harga emas, beberapa perbedaan asumsi makro dan permintaan global membuat rentang target bisa bervariasi antar lembaga.
Bagi investor di Indonesia, proyeksi harga emas di 2026 berarti potensi kenaikan nilai aset fisik dalam rupiah bisa signifikan. Dengan konversi kurs US$1 ā Rp16.815, target US$5.400 per ons ekuivalen dengan sekitar Rp2,54 juta per gram jika dikonversi langsung tanpa premi perdagangan lokal.
Investor yang mempertimbangkan emas sebagai diversifikasi portofolio harus menggabungkan prediksi harga ini dengan analisis risiko lain, termasuk volatilitas pasar saham dan aset digital seperti crypto. Dengan perencanaan yang matang, emas dapat menjadi bagian dari strategi lindung nilai jangka panjang yang lebih luas.
Baca Juga: Lonjakan Harga Altcoin: Fenomena Musiman yang Tak Boleh Dilewatkan!
Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin,Ā USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalamanĀ trading cryptoĀ yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalamanĀ web tradingĀ dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi.Ā Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.