Emas dan Perak Ambruk $1,7 Triliun, Sinyal Awal Bitcoin Siap Ngegas?

Di-update
January 28, 2026
Gambar Emas dan Perak Ambruk $1,7 Triliun, Sinyal Awal Bitcoin Siap Ngegas?

Jakarta, Pintu News – Pasar global dikejutkan oleh kejatuhan harga emas dan perak yang terjadi hanya dalam waktu sekitar 90 menit. Nilai pasar kedua aset safe haven tersebut menyusut hingga sekitar $1,7 triliun atau setara Rp28.412 triliun, angka yang bahkan melampaui gabungan kapitalisasi sejumlah cryptocurrency besar.

Pergerakan ekstrem ini langsung memicu spekulasi tentang pergeseran modal ke aset berisiko. Di tengah gejolak tersebut, perhatian pelaku pasar crypto tertuju pada Bitcoin sebagai kandidat penerima rotasi dana berikutnya.

Emas dan Perak Terkoreksi Usai Cetak Rekor

Koreksi tajam ini terjadi tidak lama setelah emas dan perak mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa. Harga emas turun dari sekitar USD 5.090 atau Rp85,07 juta ke level USD 4.888 atau sekitar Rp81,69 juta per ons, terkoreksi sekitar 1,6 persen. Sementara itu, perak mengalami tekanan yang jauh lebih besar dengan penurunan dari USD 116 atau Rp1,94 juta ke kisaran USD 103 atau Rp1,72 juta per ons. Koreksi perak mencapai 10 hingga 12 persen setelah reli kuat dalam beberapa bulan terakhir.

Pengamat pasar menilai penurunan ini bukan disebabkan oleh kepanikan massal. Aksi ambil untung dalam skala besar disebut menjadi pemicu utama, mengingat banyak investor telah menikmati kenaikan signifikan sebelumnya. Selain itu, meredanya tensi geopolitik global mengurangi daya tarik emas dan perak sebagai aset lindung nilai. Kondisi ini membuat sebagian modal mulai mencari peluang imbal hasil yang lebih agresif.

Baca juga: Bos Ripple Lepas 58,5 Miliar XRP Sejak 2012, Ini Dampaknya ke Pasar Crypto!

Tekanan Posisi Long dan Perubahan Sentimen

Faktor lain yang mempercepat kejatuhan harga adalah padatnya posisi long di pasar logam mulia. Ketika terlalu banyak pelaku pasar bertaruh pada kenaikan harga, sedikit perubahan sentimen saja dapat memicu aksi jual berantai. Situasi ini menciptakan koreksi cepat dan tajam dalam waktu singkat. Fenomena serupa kerap terjadi di berbagai kelas aset, termasuk crypto dan cryptocurrency.

Dalam konteks ini, pelemahan emas dan perak sering dipandang sebagai sinyal awal rotasi aset. Ketika ketakutan mereda, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berisiko dengan potensi imbal hasil lebih tinggi. Sejarah pasar menunjukkan bahwa fase seperti ini kerap menguntungkan aset digital. Oleh karena itu, sorotan kini beralih ke Bitcoin dan altcoin utama lainnya.

Bitcoin Tetap Stabil di Tengah Gejolak

Berbeda dengan emas dan perak, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan harga. Dalam periode 24 jam yang sama, Bitcoin tercatat menguat sekitar 1,7 persen dan diperdagangkan di kisaran USD 88.663 atau sekitar Rp1,48 miliar. Stabilitas ini dianggap sebagai sinyal positif oleh sebagian trader. Absennya tekanan jual besar mengindikasikan potensi akumulasi diam-diam oleh pelaku pasar besar.

Baca juga: Vitalik Buterin: Media Sosial Crypto Gagal Berkembang, Dampak Ban X Jadi Alarm Keras?

Sejumlah analis melihat pola ini sebagai awal perubahan narasi pasar. Ketika safe haven melemah dan Bitcoin bertahan, perhatian investor mulai beralih ke aset crypto. Altcoin besar seperti Ethereum , Ripple , dan Solana juga ikut masuk radar spekulasi. Meski belum terjadi lonjakan harga signifikan, fase tenang sering kali mendahului pergerakan besar.

Pola Historis dan Peluang Reli Bitcoin

Sejarah mencatat adanya pola menarik antara emas dan Bitcoin. Pada 2017, emas menguat sekitar 30 persen sebelum Bitcoin melonjak hampir 1.900 persen dalam periode berikutnya. Pola rotasi serupa kembali terlihat pada 2021, ketika aliran dana berpindah dari emas ke cryptocurrency. Dengan emas masih relatif kuat namun mulai terkoreksi, sebagian trader menilai skenario tersebut berpotensi terulang.

Beberapa pelaku pasar bahkan berspekulasi Bitcoin dapat mencatat kenaikan hingga 400 persen jika sejarah berulang. Meski demikian, proyeksi tersebut tetap bergantung pada kondisi makro dan sentimen global. Faktor suku bunga, likuiditas, dan regulasi masih menjadi variabel penting. Bagi investor, memahami konteks historis menjadi kunci dalam membaca peluang dan risiko.

Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar duniaĀ cryptoĀ dan teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin,Ā usdt to idrĀ danĀ harga saham nvidiaĀ tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalamanĀ trading cryptoĀ yang mudah danĀ amanĀ dengan mengunduhĀ aplikasi cryptoĀ Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalamanĀ web tradingĀ dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.


*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi.Ā Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:

Bagikan

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->