
Jakarta, Pintu News – Industri crypto dan perbankan kembali menjadi sorotan setelah perdebatan mengenai akses langsung perusahaan cryptocurrency ke sistem Federal Reserve atau The Fed mencuat. Isu ini memicu diskusi luas tentang masa depan regulasi, stabilitas sistem keuangan, dan posisi bank tradisional di tengah pertumbuhan aset digital. Dengan kurs asumsi 1 USD = Rp16.771, dinamika kebijakan ini berpotensi berdampak besar pada valuasi dan adopsi crypto global.
Skinny Fed account merujuk pada akses langsung institusi non-bank terhadap rekening di Federal Reserve tanpa harus menjadi bank komersial penuh. Akses ini memungkinkan perusahaan crypto menyimpan cadangan dana secara langsung di bank sentral Amerika Serikat. Dengan skema tersebut, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada bank perantara.
Bagi pelaku cryptocurrency, akses ini dinilai meningkatkan efisiensi dan transparansi pengelolaan dana nasabah. Model ini juga dianggap dapat memperkuat stabilitas stablecoin yang nilainya dipatok terhadap dolar AS. Jika 1 USD setara Rp16.771, maka setiap cadangan sebesar USD 100 juta berarti sekitar Rp1,677 triliun yang dapat langsung ditempatkan di bank sentral.
Baca Juga: 5 Fakta Tentang Pengaruh Jeffrey Epstein di Silicon Valley yang Mengejutkan
Bank konvensional menilai akses langsung ke The Fed bagi perusahaan crypto berpotensi mengganggu struktur perbankan yang telah mapan. Selama ini, hanya institusi perbankan tertentu yang memiliki hak menyimpan dana langsung di bank sentral. Jika perusahaan cryptocurrency memperoleh hak serupa, persaingan likuiditas bisa berubah signifikan.
Selain itu, bank khawatir kehilangan peran sebagai perantara utama dalam sistem pembayaran dan penyimpanan dana. Dalam konteks ini, crypto dipandang bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga ancaman model bisnis. Ketegangan ini semakin nyata ketika aset seperti Bitcoin dan Ethereum terus menarik minat investor institusional.
Stablecoin sangat bergantung pada cadangan dolar AS untuk menjaga kestabilan harga. Dengan akses langsung ke The Fed, perusahaan penerbit stablecoin dapat menyimpan dana cadangan lebih aman dan transparan. Hal ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap cryptocurrency berbasis dolar.
Sebaliknya, tanpa akses tersebut, perusahaan harus tetap bekerja sama dengan bank komersial yang memiliki risiko operasional dan kebijakan berbeda. Situasi ini dapat memengaruhi likuiditas pasar crypto secara keseluruhan. Jika terjadi pembatasan, volatilitas pada aset seperti Ripple dan Pepe Coin juga bisa meningkat akibat sentimen regulasi.
Regulator menghadapi dilema antara mendorong inovasi dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Memberikan akses langsung kepada perusahaan crypto dapat mempercepat integrasi teknologi blockchain dengan sistem moneter. Namun, langkah tersebut juga membuka risiko baru jika pengawasan tidak memadai.
Pemerintah dan otoritas keuangan perlu mempertimbangkan dampak sistemik jangka panjang. Industri cryptocurrency berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar bernilai ratusan miliar dolar, setara ribuan triliun rupiah. Tanpa regulasi yang jelas, ketegangan antara bank dan crypto berpotensi memperlambat adopsi teknologi finansial baru.
Bagi investor pemula, konflik antara crypto dan bank menunjukkan bahwa faktor regulasi sama pentingnya dengan analisis harga. Kebijakan akses ke bank sentral dapat memengaruhi kepercayaan pasar dan valuasi aset digital. Investor perlu memahami bahwa harga tidak hanya dipengaruhi sentimen, tetapi juga kebijakan moneter.
Investor institusional pun mencermati perkembangan ini sebagai indikator legitimasi industri cryptocurrency. Jika perusahaan crypto memperoleh akses resmi ke sistem Federal Reserve, maka integrasi dengan sistem keuangan global akan semakin kuat. Hal tersebut dapat memperluas partisipasi pasar dan meningkatkan adopsi crypto dalam jangka panjang.

Perdebatan mengenai skinny Fed account mencerminkan fase transisi antara sistem keuangan tradisional dan ekosistem digital. Crypto tidak lagi berada di pinggiran, melainkan mulai memasuki ruang kebijakan tingkat tinggi. Ketika bank dan perusahaan cryptocurrency bernegosiasi di ranah regulasi, arah masa depan industri sedang dibentuk.
Apapun hasil akhirnya, dinamika ini memperlihatkan bahwa crypto semakin relevan dalam struktur ekonomi global. Baik Bitcoin (BTC) maupun aset digital lainnya kini dipertimbangkan dalam diskusi kebijakan keuangan utama. Bagi pasar, perkembangan ini dapat menjadi katalis pertumbuhan atau sumber volatilitas baru dalam jangka pendek.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik di Balik Transfer 2,5 BTC ke Wallet Genesis Bitcoin
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.