5 Sorotan Prospek Logam 2026: Emas US$6.000 & Nikel US$17.000, Saham Apa Diuntungkan?

Di-update
February 11, 2026
Bagikan
Gambar 5 Sorotan Prospek Logam 2026: Emas US$6.000 & Nikel US$17.000, Saham Apa Diuntungkan?


Jakarta, Pintu News –  Tekanan jual pada logam mulia dan logam industri sejak awal tahun dinilai membuka peluang kenaikan lanjutan bagi emiten tambang. Harga emas terkoreksi sekitar 10% dari puncaknya, sementara logam industri seperti nikel turun 5–9% dari level tertinggi. Namun secara fundamental, prospek 2026 dinilai tetap konstruktif dengan preferensi pada emas dibanding nikel.

1. Sell-Off Dinilai Jadi Momentum Akumulasi

Koreksi harga logam baru-baru ini dipicu sentimen makro, termasuk dinamika kebijakan The Fed dan faktor teknikal akibat tingginya posisi leverage spekulan. Kenaikan margin requirement di bursa komoditas seperti CME dan SHFE turut memperdalam tekanan jangka pendek.

Meski demikian, pelemahan ini dinilai lebih bersifat teknikal dibanding perubahan fundamental. Dengan asumsi rata-rata harga emas 2026 di US$5.200 per ons atau sekitar Rp87,21 juta (kurs Rp16.771/USD) dan target akhir tahun US$6.000 per ons atau sekitar Rp100,63 juta, ruang kenaikan masih terbuka.

Baca Juga: 5 Fakta Tentang Pengaruh Jeffrey Epstein di Silicon Valley yang Mengejutkan

2. Emas Tetap Unggul di Tengah Risiko Fiskal AS

Secara struktural, emas dipandang masih didukung pembelian bank sentral global dan arus masuk ETF. Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal Amerika Serikat dan potensi pelemahan dolar AS menjadi katalis tambahan bagi logam mulia ini.

Volatilitas jangka pendek akibat sentimen suku bunga tidak mengubah tesis jangka menengah hingga panjang. Emas tetap diposisikan sebagai lindung nilai terhadap risiko depresiasi mata uang dan ketidakpastian kebijakan moneter.

3. Nikel: Risiko RKAB Lebih Terkendali dari Perkiraan

Di sektor nikel, pemerintah tetap berkomitmen memangkas kuota RKAB dari sekitar 370 juta wmt menjadi 250–260 juta wmt. Meski terlihat signifikan, realisasi produksi tahun lalu sekitar 300 juta wmt, sementara proyeksi permintaan 2026 diperkirakan 330–340 juta wmt.

Dengan potensi tambahan impor bijih dari Filipina sebesar 30–40 juta wmt serta peluang penyesuaian kuota pada paruh kedua 2026, keseimbangan pasokan diperkirakan tetap surplus tipis sekitar 100 ribu ton atau sekitar 3% dari total suplai. Harga nikel LME diproyeksikan di US$17.000 per ton atau sekitar Rp285,11 juta, naik dari US$15.000 per ton atau sekitar Rp251,56 juta pada 2025.

4. Saham Pilihan: Emas Lebih Diunggulkan

Dalam ruang emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Sumber Global Energy Tbk (kode EMAS) menjadi pilihan utama. Keduanya dinilai memiliki eksposur langsung terhadap tren kenaikan harga emas dengan risiko regulasi relatif terbatas.

Untuk nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menjadi opsi selektif. INCO dinilai lebih defensif karena telah memperoleh persetujuan RKAB, sementara MBMA memiliki prospek dari ekspansi proyek hilirisasi.

5. Faktor Kunci yang Perlu Dicermati Investor

Beberapa perkembangan penting 2026 yang perlu diperhatikan meliputi arah kebijakan fiskal dan moneter AS, termasuk potensi penurunan suku bunga yang akan positif bagi emas. Selain itu, kepastian kuota RKAB bagi emiten nikel lain serta potensi pajak ekspor produk nikel juga menjadi variabel krusial.

Risiko utama berasal dari kemungkinan sikap lebih hawkish The Fed dan realisasi kuota RKAB yang lebih rendah dari ekspektasi. Di sisi lain, risiko eksekusi proyek baru pada emiten tambang juga dapat memengaruhi kinerja saham.

Secara keseluruhan, sektor logam dipertahankan dalam posisi overweight dengan preferensi pada emas dibanding nikel. Kombinasi dukungan makro dan koreksi harga sebelumnya dinilai membuka peluang kenaikan lanjutan bagi emiten tambang pada 2026.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik di Balik Transfer 2,5 BTC ke Wallet Genesis Bitcoin

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga BitcoinUSDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

Crypto Berbasis Emas: Ketika Aset Fisik Bertemu Teknologi Kripto

Seiring berkembangnya teknologi blockchain, kini emas tidak hanya bisa dimiliki dalam bentuk fisik seperti perhiasan atau batangan, tetapi juga dalam bentuk digital melalui aset kripto berbasis emas.

Salah satu yang paling populer adalah Tether Gold (XAUt), stablecoin berbasis ERC-20 yang didukung emas fisik, di mana 1 token mewakili 1 troy ounce emas murni. Emas disimpan di brankas di Swiss dan setiap token terhubung langsung ke emas batangan bersertifikat. Sistemnya menggunakan algoritma otomatis untuk mengelola alokasi emas dan alamat Ethereum secara efisien.

Token XAUt tersedia dan diperdagangkan di berbagai bursa kripto. XAUt juga menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin lindung nilai terhadap inflasi atau ketidakpastian ekonomi global, sembari tetap berada dalam ekosistem aset digital.



*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->