5 Alasan Dolar AS Jadi Safe Haven Saat Konflik Iran

Di-update
March 4, 2026
Bagikan
Gambar 5 Alasan Dolar AS Jadi Safe Haven Saat Konflik Iran

Jakarta, Pintu News – Saat konflik Iran memanas dan mengguncang pasar global, banyak orang mengira emas akan otomatis naik sebagai safe haven. Namun yang terjadi justru sebaliknya: emas turun sekitar 4% dan bertahan di area $5.124 per ons atau sekitar Rp86.620.468 (kurs 1 USD = Rp16.907). Pergerakan “tidak biasa” ini menegaskan bahwa pilihan safe haven bisa berubah cepat ketika pasar menilai risiko, likuiditas, dan suku bunga secara bersamaan.

1. Dolar AS Menguat, Harga Emas Tertekan Secara Mekanis

Penguatan dolar AS kerap menekan emas karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar. Ketika dolar menguat, pembeli non-dolar membutuhkan lebih sedikit dolar untuk transaksi, sehingga dorongan kenaikan emas berkurang. Efek ini bisa terjadi bahkan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, karena mekanisme nilai tukar bekerja lebih cepat dibanding perubahan narasi safe haven.

Selain itu, pergeseran preferensi pasar menuju dolar biasanya disertai arus dana ke instrumen berbasis dolar. Dalam kondisi tegang, investor sering mengutamakan aset yang mudah dicairkan dalam skala besar. Akibatnya, emas dapat kalah menarik untuk sementara, meskipun secara historis dikenal sebagai pelindung nilai.

Baca Juga: 7 Alasan Emas On-Chain Naik Daun: Trading 24/7 Saat Pasar Tutup, XAUT-USDT Jadi Incaran

2. “Safety” Bergeser ke Likuiditas dan Akses, Bukan Sekadar Aset Fisik

debat kongres terkait cbdc amerika
Sumber: Computer World

Di fase guncangan, investor besar cenderung mencari tempat parkir dana yang paling likuid dan paling mudah digunakan untuk memenuhi kewajiban. Dolar AS memenuhi dua syarat itu: likuid, diterima luas, dan menjadi mata uang utama perdagangan serta pembiayaan global. Dalam praktiknya, kebutuhan likuiditas ini dapat mendorong permintaan dolar lebih cepat daripada permintaan emas.

Situasi serupa juga tampak pada perilaku pasar saat volatilitas meningkat. Investor sering memilih instrumen yang cepat dipindahkan antar-portfolio dan mudah dijadikan jaminan. Karena itu, “safe haven” di mata pasar bisa bergeser dari emas ke dolar, setidaknya sampai ketidakpastian mereda.

3. Eskalasi Konflik Iran Mengangkat Risiko Inflasi Lewat Lonjakan Energi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, dan pasar biasanya langsung mem-price-in skenario tersebut. Ketika energi melonjak, ekspektasi inflasi ikut naik karena biaya transportasi, logistik, dan produksi berpotensi meningkat. Di titik ini, investor menilai ulang aset yang paling diuntungkan jika inflasi memaksa kebijakan moneter menjadi lebih ketat.

Beberapa angka kunci yang sering menjadi sorotan pelaku pasar pada fase ini adalah perubahan harga energi berikut:

  • Minyak bergerak dari $64 ke $74 per barel, setara dari Rp1.082.048 ke Rp1.251.118 per barel
  • Kenaikan sekitar $10 per barel setara Rp169.070 per barel
  • Lonjakan ini meningkatkan risiko inflasi jangka pendek dan volatilitas lintas aset

4. Ekspektasi Suku Bunga AS yang Lebih Tinggi Membuat Dolar Kian Atraktif

Jika pasar menilai inflasi akan lebih sulit turun, maka peluang suku bunga bertahan tinggi atau naik kembali menjadi lebih besar. Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset berbunga terlihat lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil. Dampaknya, permintaan dolar menguat karena investor mengejar return nominal yang lebih tinggi dan keamanan relatif instrumen berbasis dolar.

Pada saat yang sama, kenaikan ekspektasi suku bunga menekan emas lewat dua jalur. Pertama, biaya peluang memegang emas meningkat karena kamu melepas potensi bunga. Kedua, dolar yang menguat membuat emas cenderung lebih mahal bagi pembeli luar AS, sehingga permintaan global bisa melemah.

5. Efek Domino ke Saham, Obligasi, Komoditas, hingga Crypto

Ketika dolar menguat dan volatilitas naik, pasar sering mengalami “risk-off” yang memukul banyak aset sekaligus. Saham dan komoditas industri dapat melemah karena kekhawatiran perlambatan ekonomi serta biaya energi yang lebih tinggi. Di sisi lain, obligasi juga bisa bergejolak ketika pasar menyesuaikan proyeksi inflasi dan jalur suku bunga.

Dinamika ini juga kerap merembet ke crypto dan cryptocurrency, terutama aset berkapitalisasi besar seperti Bitcoin , Ethereum , dan Ripple . Dalam fase risk-off, kamu bisa melihat volatilitas naik karena sebagian investor mengurangi eksposur aset berisiko atau menaikkan porsi kas. Karena itu, pergerakan emas yang melemah tidak selalu berarti “risk-on”, melainkan bisa menjadi bagian dari penyesuaian besar lintas kelas aset.

Kesimpulan: Safe Haven Itu Kontekstual, Dolar Bisa Mengalahkan Emas

Penurunan emas saat konflik Iran menunjukkan bahwa safe haven tidak selalu identik dengan emas dalam setiap episode krisis. Ketika risiko inflasi naik dan pasar memperkirakan suku bunga AS lebih ketat, dolar sering memperoleh dukungan ganda: likuiditas dan imbal hasil. Dalam konteks seperti ini, emas bisa tertahan atau bahkan turun meski tensi geopolitik meningkat.

Buat kamu, pelajaran utamanya adalah membaca kombinasi faktor, bukan satu narasi tunggal. Pantau arah dolar, harga energi, dan ekspektasi kebijakan The Fed karena ketiganya sering menentukan apakah pasar memilih emas atau dolar. Dengan memahami mekanismenya, kamu bisa menilai risiko portofolio dengan lebih disiplin, termasuk saat mempertimbangkan eksposur ke crypto dan cryptocurrency.

Baca Juga: 5 Keunggulan Deposito Emas Pegadaian

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

Crypto Berbasis Emas: Ketika Aset Fisik Bertemu Teknologi Kripto

buy gold bar
Sumber: Dr Wealth

Seiring berkembangnya teknologi blockchain, kini emas tidak hanya bisa dimiliki dalam bentuk fisik seperti perhiasan atau batangan, tetapi juga dalam bentuk digital melalui aset kripto berbasis emas.

Salah satu yang paling populer adalah Pax Gold (PAXG), stablecoin yang didukung oleh satu troy ounce (t oz) dari emas batangan London Good Delivery 400 oz, yang disimpan di brankas Brink.

Token PAXG tersedia dan diperdagangkan di berbagai bursa kripto. PAXG juga menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin lindung nilai terhadap inflasi atau ketidakpastian ekonomi global, sembari tetap berada dalam ekosistem aset digital.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Topik
#Emas

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->