
Value investing adalah strategi investasi saham yang berfokus pada pembelian saham perusahaan dengan harga pasar di bawah nilai wajarnya. Pendekatan ini menitikberatkan pada analisis fundamental untuk menilai kualitas bisnis, kinerja keuangan, dan prospek jangka panjang, sehingga investor dapat memperoleh keuntungan ketika harga saham kembali mencerminkan nilai intrinsiknya.
Berbeda dengan strategi yang mengejar kenaikan harga jangka pendek, value investing mengandalkan kesabaran dan disiplin dalam menilai perusahaan sebagai sebuah bisnis. Konsep seperti saham undervalued, margin of safety, serta penggunaan rasio keuangan menjadi fondasi utama dalam strategi ini, menjadikannya pendekatan yang populer di kalangan investor jangka panjang.
📊 Value Investing di Saham: Value investing adalah strategi investasi berbasis analisis fundamental yang bertujuan membeli saham dengan harga lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Pendekatan ini melihat saham sebagai representasi kepemilikan bisnis, bukan sekadar instrumen trading.
📐 Indikator Utama Value Investing: Penilaian nilai perusahaan dilakukan menggunakan rasio keuangan seperti price to earnings ratio (P/E), price to book ratio (P/B), return on equity (ROE), debt to equity ratio (D/E), serta free cash flow (FCF) untuk mengukur valuasi, profitabilitas, dan kesehatan keuangan perusahaan.
🛡️ Margin of Safety dan Saham Undervalued: Konsep margin of safety menjadi kunci untuk mengurangi risiko dengan membeli saham pada harga yang jauh di bawah estimasi nilai wajarnya. Saham undervalued umumnya muncul akibat sentimen pasar jangka pendek, bukan karena penurunan fundamental bisnis.
📈 Value Investing vs Growth Investing: Value investing berfokus pada harga murah relatif terhadap nilai, sementara growth investing mengejar pertumbuhan laba tinggi meskipun valuasi mahal. Keduanya memiliki karakter risiko dan horizon waktu yang berbeda, namun dapat saling melengkapi dalam portofolio.
🏦 Strategi Jangka Panjang ala Investor Legendaris: Value investing menekankan investasi jangka panjang, kesabaran, dan pemahaman laporan keuangan. Strategi ini banyak diterapkan pada saham blue chip dan sektor defensif yang memiliki arus kas stabil dan model bisnis yang jelas.

Apa itu value investing adalah strategi investasi saham yang berfokus pada pembelian saham dengan harga pasar di bawah nilai wajarnya. Dalam definisi value investing, investor berupaya menemukan saham undervalued, yaitu saham yang secara fundamental memiliki kinerja baik tetapi dihargai murah oleh pasar.
Pendekatan ini sangat erat dengan analisis fundamental saham, karena keputusan investasi didasarkan pada laporan keuangan, kinerja bisnis, dan prospek jangka panjang perusahaan. Tujuan akhirnya adalah memperoleh keuntungan ketika harga saham kembali mencerminkan nilai intrinsik saham (intrinsic value) yang sebenarnya.
Prinsip dasar value investing berangkat dari asumsi bahwa pasar tidak selalu efisien. Harga saham dapat menyimpang dari nilai wajarnya akibat sentimen, siklus ekonomi, atau faktor psikologis investor.
Salah satu konsep utama dalam strategi ini adalah margin of safety, yaitu selisih antara nilai intrinsik saham dan harga belinya. Semakin besar margin of safety, semakin rendah risiko kerugian apabila estimasi nilai intrinsik tidak sepenuhnya akurat.

Bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham umumnya dilakukan dengan pendekatan valuasi, seperti discounted cash flow (DCF) berbasis free cash flow (FCF). Metode ini menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan yang dihasilkan perusahaan.
Selain DCF, investor juga menggunakan pendekatan relatif dengan membandingkan rasio keuangan perusahaan terhadap rata-rata industri. Pendekatan ini membantu menilai apakah suatu saham tergolong undervalued atau justru overvalued.
Beberapa indikator utama digunakan dalam value investing untuk menilai apakah suatu saham tergolong undervalued sekaligus memiliki fundamental yang sehat. Indikator-indikator ini membantu investor memahami bagaimana pasar menghargai kinerja, aset, dan risiko perusahaan secara lebih objektif sebelum mengambil keputusan investasi.

Selain rasio valuasi dasar, dividend yield saham sering menjadi pertimbangan investor value karena mencerminkan pendapatan rutin. Dividend yang stabil biasanya berasal dari perusahaan dengan arus kas sehat.
Faktor krusial lainnya yang penting adalah free cash flow (FCF), karena laba akuntansi tidak selalu mencerminkan kas riil. Perusahaan dengan FCF positif dan konsisten umumnya memiliki fleksibilitas finansial yang lebih baik.
Perbedaan utama antara value investing dan growth investing terletak pada fokus investasinya. Value investing menekankan pembelian saham dengan harga relatif murah dibandingkan fundamentalnya, sedangkan growth investing berfokus pada perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang tinggi, meskipun valuasinya relatif mahal.
Dari sisi risiko, value investing menghadapi risiko kesalahan dalam menilai nilai intrinsik atau perubahan fundamental perusahaan. Sebaliknya, growth investing lebih rentan terhadap kegagalan memenuhi ekspektasi pertumbuhan, terutama ketika valuasi sudah tinggi.
Dalam praktiknya, kedua pendekatan ini tidak bersifat saling meniadakan. Banyak investor mengombinasikan strategi value dan growth sesuai dengan kondisi pasar, horizon investasi, serta profil risiko investor.

Strategi value investing Warren Buffett menekankan pembelian bisnis berkualitas dengan harga wajar, bukan sekadar saham murah. Buffett juga menilai keunggulan kompetitif jangka panjang, manajemen yang solid, dan konsistensi arus kas.
Pendekatan ini menjadikan value investing sebagai strategi jangka panjang. Investor tidak berfokus pada fluktuasi harga harian, melainkan pada pertumbuhan nilai bisnis dalam bertahun-tahun.
Proses screening saham value investing bertujuan menyaring saham yang berpotensi undervalued berdasarkan indikator fundamental. Tahap awal biasanya menggunakan filter rasio keuangan untuk mempersempit pilihan dari ratusan saham menjadi beberapa kandidat yang layak dianalisis lebih lanjut.
Langkah-langkah screening saham value investing dapat dilakukan sebagai berikut:

Saham apa yang cocok untuk value investing umumnya berasal dari perusahaan mapan dengan model bisnis jelas. Sektor apa yang cocok untuk value investing antara lain perbankan, consumer goods, energi, dan infrastruktur.
Untuk konteks domestik, investor sering mencari contoh saham undervalued di Indonesia dari kategori saham defensif atau siklikal yang sedang berada di fase bawah siklus. Saham blue chip terbaik untuk value investing 2026 biasanya dinilai dari konsistensi laba, neraca sehat, dan tata kelola yang baik.
Kesalahan pemula saat value investing antara lain hanya melihat rasio murah tanpa memahami kualitas bisnis. Saham murah belum tentu bernilai jika fundamentalnya memburuk secara struktural.
Kapan waktu terbaik membeli saham value investing biasanya ketika pasar pesimis, tetapi fundamental perusahaan tetap solid. Disiplin dan kesabaran menjadi kunci utama strategi ini.

Kamu bisa mulai berinvestasi di tokenized stocks seperti Tesla, Nvidia, Apple, dan Microstrategy langsung di aplikasi Pintu, langkah-langkahnya sangat sederhana:
Pintu juga kompatibel dengan dompet digital populer seperti Phantom dan MetaMask, sehingga transaksi kamu semakin mudah. Unduh aplikasi Pintu sekarang di Play Store atau App Store! Keamanan kamu terjamin, karena Pintu diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan CFX.
Selain untuk trading, Pintu juga memungkinkan kamu untuk belajar lebih banyak tentang crypto melalui berbagai artikel edukasi di Pintu Academy yang diperbarui setiap minggu. Semua artikel yang diterbitkan di Pintu Academy hanya untuk tujuan edukasi dan bukan nasihat keuangan.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil dari value investing saham?
Value investing umumnya berorientasi jangka menengah hingga panjang, sering kali membutuhkan waktu beberapa tahun agar nilai intrinsik tercermin pada harga saham.
Saham blue chip atau sektor apa yang paling cocok untuk strategi value investing?
Saham blue chip dengan arus kas stabil dan sektor defensif seperti perbankan, konsumer, dan energi sering menjadi pilihan utama value investor.
Apa perbedaan utama antara value investing dan dividend investing?
Value investing berfokus pada selisih harga dan nilai intrinsik, sedangkan dividend investing menitikberatkan pada pendapatan dividen rutin, meskipun keduanya sering saling melengkapi.
Referensi:
Bagikan
Table of contents
Lihat Aset di Artikel Ini
Harga NVDAX (24 Jam)
Kapitalisasi Pasar
-
Volume Global (24 Jam)
-
Suplai yang Beredar
-