7 Sinyal Oversupply Crypto Bisa Reset Bitcoin ke $10.000 — Ini Indikatornya!

Di-update
January 14, 2026
Gambar 7 Sinyal Oversupply Crypto Bisa Reset Bitcoin ke $10.000 — Ini Indikatornya!

Jakarta, Pintu News – Pasar cryptocurrency tengah menghadapi dinamika supply dan permintaan di tengah likuiditas yang melimpah dan volatilitas yang masih tinggi.

Seorang analis strategis memperingatkan bahwa oversupply di pasar crypto dapat memicu tekanan harga yang ekstrem, bahkan berpotensi mendorong Bitcoin turun menuju level teoritis $10.000 (sekitar Rp167.080.000.000), sebuah skenario reset harga yang perlu dipahami oleh investor.

Di bawah ini adalah tujuh sinyal utama yang perlu diperhatikan dalam konteks risiko oversupply dan implikasinya terhadap arah pasar aset digital.

1. Pasar Crypto dengan Oversupply yang Signifikan

Perhatian utama analis adalah adanya oversupply di ekosistem aset digital, di mana jumlah token beredar jauh melebihi permintaan aktual di pasar. Ketika supply token meningkat pesat tanpa pertumbuhan permintaan sebanding, tekanan jual cenderung meningkat. Kondisi ini dapat menekan harga aset dalam jangka pendek dan jangka menengah.

Oversupply bukan hanya masalah Bitcoin, tetapi juga banyak altcoin yang diproduksi tanpa utilitas yang kuat. Ketika likuiditas pasar terlalu banyak, sinyal jual bisa meningkat tajam. Dampak ini berpotensi menciptakan tekanan korektif yang luas di seluruh pasar crypto.

Baca Juga: 6 Fakta Prediksi Robert Kiyosaki: Perak Menuju US$100 dan All-Time High Baru di 2026?

2. Likuiditas Pasar yang Meningkat

koin dijual whale crypto
Generated by AI

Likuiditas tinggi sering kali dipandang positif di pasar aset tradisional. Namun di pasar crypto, gelombang likuiditas besar yang masuk tanpa arah permintaan jelas dapat memicu oversupply. Aliran modal yang besar tanpa arah yang mantap sering menciptakan momentum jual yang lebih kuat daripada beli.

Dalam konteks Bitcoin, likuiditas yang melimpah dapat mengurangi kekuatan bullish ketika pembeli tidak bertindak seimbang dengan volume asset yang tersedia. Hal ini menciptakan risiko tekanan jual yang lebih dominan.

3. Tekanan Jual dari Pemegang Besar

Tekanan dari whale atau pemegang besar sering menjadi sinyal yang perlu diwaspadai dalam pasar cryptocurrency. Ketika whale memilih melepas asetnya secara bertahap, volume jual yang besar dapat mempercepat oversupply. Tekanan semacam ini sering mendahului fase penurunan harga yang signifikan.

Dalam kasus Bitcoin, jika tender volume jual dari pemilik besar meningkat, hal itu bisa menjadi indikator potensi tekanan harga lanjutan. Permintaan pasar harus cukup kuat untuk menyerap volume tersebut demi menjaga stabilitas harga.

4. Indikator Teknis Jenuh Penawaran

Analisis teknikal sering menunjukkan area jenuh beli sebelum pembalikan harga jika volume dan momentum tidak seimbang. Ketika indikator seperti RSI menunjukkan kondisi overbought, tetapi harga gagal menembus level resistance kuat, risiko koreksi meningkat.

Untuk Bitcoin dan banyak altcoin, area teknikal seperti ini sering menjadi titik pivot. Pasar yang menunjukkan sinyal jenuh penawaran umumnya perlu konsolidasi harga sebelum melanjutkan tren.

5. Keterkaitan dengan Volatilitas Makro

Sentimen pasar crypto sangat dipengaruhi oleh kondisi makro seperti kebijakan suku bunga, volatilitas pasar ekuitas global, dan pergerakan nilai tukar. Ketidakpastian dalam sektor keuangan tradisional sering memicu aksi jual di pasar crypto dan aset berisiko lainnya.

Jika ekonomi global menunjukkan tanda ketidakstabilan, hal ini kemungkinan memperkuat aliran modal keluar dari aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Risiko volatilitas yang meningkat dapat mempercepat penurunan harga lebih dalam, terutama jika dikombinasikan dengan oversupply.

6. Fragmentasi Permintaan di Antara Altcoin

altcoin season analis crypto
Generated by AI

Oversupply tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga banyak altcoin yang jumlah supply-nya jauh melebihi permintaan pasar yang sebenarnya. Ketidakseimbangan ini berpotensi melemahkan seluruh ekosistem crypto secara struktural.

Ketika permintaan terpecah di banyak token tanpa utilitas kuat, modal cenderung berpindah ke aset yang dinilai lebih likuid atau lebih stabil. Hal ini dapat mempercepat tekanan jual di banyak proyek kecil yang kurang likuid.

7. Implikasi Potensial Reset Harga

Skenario reset harga ke $10.000 per BTC bukan prediksi pasti, tetapi merupakan ilustrasi risiko ekstrem yang dihasilkan oleh kombinasi oversupply, tekanan jual, dan volatilitas makro. Jika pasar crypto tidak mampu mengatur kembali keseimbangan supply dan permintaan, tekanan bearish dapat memperluas penurunan harga.

Investor disarankan untuk memperhatikan sinyal pasar secara holistik, termasuk data on-chain, volume perdagangan, dan indikator teknikal. Pendekatan analitis lebih penting daripada spekulasi semata dalam memahami arus risiko ini.

Baca Juga: Monero Cetak Rekor Tertinggi, Investor Tinggalkan Zcash!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin hari iniharga Solana hari iniPepe coin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:

Bagikan

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->