
Jakarta, Pintu News – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh miliarder Ray Dalio terkait perbandingan antara Bitcoin dan emas. Dalam sebuah podcast terbaru, Dalio menegaskan bahwa Bitcoin (BTC) tidak bisa disamakan dengan emas karena sejumlah alasan mendasar. Ia menyoroti kurangnya dukungan dari bank sentral, minimnya privasi, serta ancaman serius dari perkembangan teknologi komputasi kuantum terhadap Bitcoin (BTC). Pernyataan ini muncul di tengah volatilitas harga kedua aset tersebut, di mana Bitcoin (BTC) justru menunjukkan performa lebih baik dibandingkan emas dalam beberapa hari terakhir.
Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, menegaskan bahwa hanya ada satu emas yang benar-benar diakui sebagai aset lindung nilai sejati. Menurut Dalio, emas memiliki sejarah panjang sebagai alat tukar dan penyimpan nilai yang diakui secara global. Ia menekankan bahwa emas memiliki keterbatasan fisik yang membuatnya sulit untuk dimanipulasi atau diproduksi secara massal.
Dalio menyatakan, “Emas adalah uang paling mapan sepanjang sejarah, dan alasan inilah yang membuatnya tetap unggul.” Meskipun demikian, Dalio mengakui bahwa dirinya tetap memiliki sedikit portofolio di Bitcoin (BTC), namun porsinya sangat kecil, hanya sekitar 1% dari total investasinya.
Ia menilai Bitcoin (BTC) tidak memiliki dukungan dari bank sentral, sehingga nilainya sangat fluktuatif dan rentan terhadap perubahan kebijakan global. Selain itu, Dalio menyoroti bahwa Bitcoin (BTC) tidak menawarkan privasi yang diharapkan oleh sebagian besar investor. Semua transaksi Bitcoin (BTC) tercatat secara publik di blockchain, sehingga mudah dilacak dan dipantau.
Baca Juga: Portofolio Crypto Donald Trump Anjlok 94%: Rugi Rp181,92 Miliar dalam Setahun, Ini 6 Pelajarannya

Pada saat Dalio mengeluarkan pernyataan tersebut, pergerakan harga emas dan Bitcoin (BTC) justru menunjukkan tren yang berlawanan. Harga emas sempat anjlok hingga $5.120, turun sekitar 3% akibat dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sementara itu, Bitcoin (BTC) hanya mengalami penurunan tipis sebesar 0,6% ke level $68.700, menandakan ketahanan yang lebih baik di tengah ketidakpastian global.
Sejak Juli lalu, pergerakan harga Bitcoin (BTC) dan emas cenderung sejalan, namun situasi berubah drastis setelah pasar kripto mengalami crash pada Oktober yang menghapus sekitar $20 miliar kapitalisasi pasar. Setelah kejadian tersebut, Bitcoin (BTC) kehilangan lebih dari 45% dari harga tertingginya di bulan Oktober, sedangkan emas justru melonjak hingga 30% dan kini berada di kisaran $5.100.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kedua aset tersebut kini bergerak berlawanan arah, mempertegas perbedaan karakteristik dan respons terhadap krisis global. Kondisi ini juga menantang anggapan lama bahwa emas selalu menjadi aset pelindung nilai utama saat terjadi gejolak geopolitik.
Salah satu kekhawatiran utama Ray Dalio terhadap Bitcoin (BTC) adalah ancaman dari kemajuan teknologi komputasi kuantum. Menurut Dalio, perkembangan pesat di bidang ini dapat membahayakan keamanan Bitcoin (BTC) dalam jangka panjang. Hal ini juga diamini oleh Kevin O’Leary, yang baru-baru ini memperingatkan bahwa komputasi kuantum bisa menjadi ancaman besar bagi seluruh ekosistem kripto.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Michael Saylor dari MicroStrategy, yang menilai bahwa ancaman komputasi kuantum terhadap Bitcoin (BTC) masih sangat jauh dan belum relevan untuk saat ini. Saylor menyebut isu tersebut sebagai FUD (Fear, Uncertainty, Doubt) yang belum berdampak nyata dalam waktu dekat, bahkan diperkirakan baru akan menjadi masalah dalam satu dekade ke depan.
Selain itu, Saylor juga menyoroti bahwa keterbatasan akses kredit perbankan turut membatasi pertumbuhan harga Bitcoin (BTC) saat ini. Dalio juga menyoroti aspek privasi Bitcoin (BTC) yang dinilainya sangat terbatas. Semua transaksi Bitcoin (BTC) tercatat secara transparan di blockchain, sehingga dapat dipantau dan bahkan dikendalikan oleh pihak tertentu. Hal ini membuat Bitcoin (BTC) kurang ideal sebagai alat lindung nilai bagi investor yang mengutamakan privasi dan kerahasiaan transaksi.
Pernyataan Ray Dalio kembali memicu perdebatan di kalangan investor mengenai posisi Bitcoin (BTC) dan emas sebagai aset lindung nilai. Meskipun Bitcoin (BTC) menunjukkan performa yang lebih baik dalam beberapa situasi, Dalio tetap menegaskan bahwa emas memiliki keunggulan historis dan fundamental yang sulit ditandingi.
Ancaman komputasi kuantum dan minimnya privasi menjadi faktor utama yang membuat Dalio ragu terhadap masa depan Bitcoin (BTC) sebagai aset jangka panjang. Di tengah dinamika pasar global, perbandingan antara Bitcoin (BTC) dan emas dipastikan akan terus menjadi topik hangat di dunia investasi.
Baca Juga: Lonjakan Penarikan Crypto 700% di Iran: Bitcoin Jadi Jalur Pelarian Finansial Saat Krisis
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.