IHSG dan Rupiah Melemah (9/7/26): Imbas Tensi AS-Iran, Ini Dampaknya ke Investor

Di-update
July 9, 2026
Bagikan
Gambar IHSG dan Rupiah Melemah (9/7/26): Imbas Tensi AS-Iran, Ini Dampaknya ke Investor

Jakarta, Pintu News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (9/7), setelah eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, sesuatu yang punya jalur transmisi cukup langsung ke perekonomian Indonesia sebagai importir minyak neto.

Rupiah Jadi yang Terlemah di Asia

Rupiah spot dibuka di level Rp18.068 per dolar AS pada Kamis pagi, melemah sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp18.014 per dolar AS. Posisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di antara mata uang utama kawasan Asia pada pembukaan perdagangan hari ini, mengulang pola yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir sejak tensi AS-Iran kembali naik.

Sumber: Investing

Jika dihitung sejak akhir 2025, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 7,75 persen terhadap dolar AS. Selain sentimen geopolitik AS-Iran, tekanan juga datang dari ekspektasi arah suku bunga The Fed serta data ketenagakerjaan Amerika yang membuat pasar global cenderung memburu aset dolar sebagai instrumen aman. Kombinasi sentimen eksternal ini membuat rupiah kesulitan mencari momentum penguatan meski otoritas moneter sudah beberapa kali turun tangan.

Sepanjang paruh pertama 2026, Bank Indonesia sendiri sempat menaikkan BI-Rate 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebuah sinyal bahwa arah kebijakan moneter kini lebih menekankan stabilitas nilai tukar ketimbang mengejar pertumbuhan semata. Langkah ini mencerminkan bagaimana ruang pelonggaran suku bunga makin terbatas selama ketidakpastian global, termasuk konflik Timur Tengah, belum mereda.

IHSG Bergerak Berlawanan Arah dengan Bursa Asia

Berbeda dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru menguat pagi ini, IHSG dibuka di zona merah dan turun 0,17 persen atau 9,90 poin ke level 5.863,47. Arah yang berlawanan ini mengindikasikan bahwa sentimen domestik lebih sensitif terhadap risiko geopolitik AS-Iran dibandingkan dinamika regional lainnya yang sedang merespons sinyal suku bunga global.

Analis pasar modal menilai investor domestik maupun asing masih bersikap wait and see, menunggu kejelasan arah konflik sebelum mengambil posisi lebih agresif di pasar saham. Pola pelemahan seperti ini juga sempat terjadi pada episode eskalasi AS-Iran sebelumnya di awal tahun, ketika IHSG tertekan cukup dalam akibat kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi global.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika eskalasi konflik berlanjut, rupiah berisiko kembali melemah menembus level psikologis Rp18.000 secara lebih dalam, sementara IHSG berpotensi terkoreksi lebih jauh menuju area support 5.780 hingga 5.850. Skenario ini tentu bergantung pada perkembangan lapangan, terutama apakah AS dan Iran akan kembali membuka jalur negosiasi atau justru meningkatkan intensitas serangan.

Baca juga: β€œHarga Rupiah Hari Ini 6 Juli 2026: Dibuka Melemah ke Rp17.995/USDβ€œ

Pemicu Utama: Eskalasi Serangan AS ke Iran

Pemicu utama pelemahan hari ini datang dari langkah Amerika Serikat yang kembali melancarkan serangan terhadap Iran sekaligus mencabut izin ekspor minyak negara tersebut. Kebijakan ini langsung berdampak ke pasar energi global, dengan harga minyak Brent naik sekitar 3 persen ke level 74,16 dolar AS per barel dan WTI menguat hampir 3 persen ke 70,44 dolar AS per barel.

Kekhawatiran pasar juga mengarah pada potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu titik distribusi minyak dunia yang paling strategis. Setiap kali muncul ancaman terhadap keamanan jalur ini, harga minyak global cenderung bereaksi cepat karena pasar mengantisipasi risiko pasokan yang lebih ketat dalam waktu dekat.

Sebagai importir minyak neto, Indonesia cukup rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi impor berpotensi membebani defisit transaksi berjalan dan mendorong tekanan inflasi domestik, dua faktor yang biasanya langsung direspons negatif oleh pasar saham dan pasar valuta asing. Jalur transmisi inilah yang membuat gejolak di Timur Tengah, meski secara geografis jauh dari Indonesia, tetap bisa langsung terasa di layar trading investor domestik.

Layar monitor menampilkan grafik pergerakan pasar saham yang fluktuatif
Pergerakan grafik pasar yang fluktuatif akibat sentimen geopolitik global. Sumber: Nicholas Cappello via Unsplash / Unsplash License

Bagaimana Investor Asing Biasanya Merespons Risiko Geopolitik

Secara historis, ketika risiko geopolitik meningkat tajam, investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia, dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah Amerika Serikat. Perilaku ini dikenal sebagai flight to safety dan biasanya terjadi cepat begitu berita eskalasi konflik muncul di layar terminal.

Pola ini terlihat jelas pada episode eskalasi AS-Iran sebelumnya di awal 2026, ketika investor asing mencatatkan aksi jual bersih hingga triliunan rupiah, terutama pada saham perbankan besar dengan likuiditas tinggi seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Saham-saham blue chip semacam ini kerap menjadi sasaran pertama aksi jual asing karena mudah dicairkan dalam volume besar tanpa banyak mengganggu harga pasar.

Jika eskalasi kali ini berlanjut, pola arus modal keluar serupa berpotensi terulang dan menambah tekanan pada IHSG maupun rupiah dalam waktu dekat. Di sisi lain, investor jangka panjang biasanya memanfaatkan momen koreksi akibat sentimen sesaat seperti ini untuk mengevaluasi kembali valuasi saham-saham fundamental kuat yang justru terdiskon.

Baca juga: β€œInformasi dan Berita IHSG Hari Ini Terbaruβ€œ

Trading Tokenized Stocks Kini Hadir di Pintu!

Nikmati kemudahan investasi saham global seperti Nvidia (NVDAX), Amazon (AMZNX), Meta (METAX) hingga aset komoditas seperti emas dan perak dalam wujud tokenized stocks dari xStocks dan Ondo langsung di aplikasi Pintu!

Kenapa harus coba investasi tokenized stocks di Pintu?

  • Modal Minim: Mulai dari Rp11.000 saja.
  • Tanpa Jam Bursa: Buka 24 jam penuh, tidak perlu menunggu pasar AS buka.
  • Settlement Cepat: Transaksi langsung selesai tanpa ribet.

Trade Tokenized Stocks di Pintu Sekarang!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->