Michael Burry Kritik Penjualan Saham AI Alibaba US$10,2 Miliar, Ini Katanya!

Di-update
August 24, 2026
Bagikan
Gambar Michael Burry Kritik Penjualan Saham AI Alibaba US$10,2 Miliar, Ini Katanya!

Jakarta, Pintu News – Investor kawakan Michael Burry, sosok yang dikenal lewat kisah “The Big Short”, kembali membuat gaduh pasar saham teknologi China. Kali ini sasarannya adalah Alibaba, raksasa e-commerce yang baru saja menggalang dana HK$80 miliar atau sekitar US$10,2 miliar lewat penjualan saham baru untuk membiayai ambisi besar mereka di bidang AI. Burry menyebut langkah ini sebagai sinyal bahwa penerbitan saham kini menjadi kebiasaan baru Alibaba, bukan lagi pengecualian.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Alibaba?

Pada 23 Agustus 2026, Alibaba mengumumkan penjualan 710 juta saham baru di Hong Kong dengan harga HK$112,70 per saham, diskon 3,6 persen dari harga penutupan sebelumnya. Total dana yang terkumpul mencapai HK$80 miliar, setara sekitar US$10,2 miliar, menjadikannya penawaran susulan alias follow-on offering terbesar yang pernah dilakukan perusahaan yang tercatat di bursa Hong Kong, menurut laporan Bloomberg.

CEO Alibaba Eddie Wu menyebut dana tersebut akan digunakan untuk mendukung strategi “full-stack AI” perusahaan, mulai dari pengembangan chip, infrastruktur data center, sampai pengembangan dan penerapan model AI. Langkah ini sejalan dengan lonjakan belanja modal Alibaba yang melonjak sekitar 75 persen pada kuartal terakhir, sementara laba bersih perusahaan justru turun sekitar 76 persen karena besarnya porsi investasi yang digelontorkan ke sektor AI.

Pasar merespons kabar ini dengan cukup keras. Saham Alibaba yang tercatat di Hong Kong sempat anjlok hampir 10 persen ke level HK$110,80, sementara ADR Alibaba di bursa Amerika Serikat turun lebih dari 8 persen pada perdagangan sebelumnya. Sepanjang tahun 2026, saham Alibaba tercatat sudah melemah lebih dari 20 persen sejak awal tahun.

Kritik Tajam Michael Burry terhadap Langkah Alibaba

Michael Burry, yang mengelola dana investasinya lewat Scion Asset Management, tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap keputusan Alibaba menambah jumlah saham beredar demi mendanai proyek AI. Dalam pernyataan yang banyak dikutip media finansial internasional, ia menyebut penerbitan saham baru ini sebagai pola yang kini berulang dari manajemen Alibaba dan menegaskan tidak akan kembali membeli sahamnya dalam waktu dekat, meski sebelumnya sempat berencana melakukan itu.

Burry mengaku awalnya berniat memindahkan kembali sebagian dananya ke Alibaba setelah keluar sebentar dari saham tersebut, namun rencana itu ia batalkan begitu perusahaan mengumumkan rencana penjualan saham baru. Ia menyebut saham Alibaba baru akan menarik lagi baginya apabila harganya jatuh sekitar 50 persen dari level saat ini, pandangan yang menunjukkan besarnya keraguannya terhadap valuasi Alibaba pasca pengumuman tersebut. Ia juga menyatakan tidak bisa merestui aksi penerbitan saham semacam ini karena dianggap berpotensi menekan imbal hasil investasi ke depan.

Yang menarik, Burry sebenarnya sudah keluar dari posisi Alibaba sejak akhir Juni 2026, jauh sebelum pengumuman penjualan saham AI ini terjadi. Dana hasil penjualan sahamnya kala itu dialihkan ke sejumlah saham lain, termasuk JD.com, Adobe, dan Fiserv. Setelah kabar penjualan saham baru Alibaba mencuat, Burry justru memperbesar porsi investasinya di JD.com, kompetitor Alibaba di sektor e-commerce dan logistik China.

Baca juga: “Cara Beli Saham Alibaba (BABAON) di Indonesia (2026): Step-by-Step Lengkap!

Kenapa Burry Skeptis pada Belanja Besar Perusahaan Teknologi untuk AI?

Kritik Burry terhadap Alibaba bukan yang pertama kali ia lontarkan soal cara perusahaan teknologi mendanai ambisi AI mereka. Sebelumnya, ia juga kerap menyoroti valuasi tinggi sejumlah nama besar di sektor AI yang menurutnya terlalu optimistis memproyeksikan hasil dari belanja modal jangka panjang. Bagi Burry, penerbitan saham baru untuk membiayai belanja AI berarti nilai kepemilikan investor lama ikut terdilusi, sementara hasil nyata dari investasi tersebut belum tentu segera tercermin dalam laporan keuangan.

Grafik saham menunjukkan tren pergerakan harga di pasar modal
Ilustrasi pergerakan harga saham di pasar modal. Sumber: Arturo Añez via Unsplash / Unsplash License

Pandangan ini sejalan dengan cara Burry membaca laporan keuangan Alibaba pada kuartal terakhir, di mana lonjakan belanja modal untuk chip dan infrastruktur data center tidak sebanding dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan. Ia melihat pola ini berpotensi terulang di kuartal-kuartal mendatang selama Alibaba masih agresif membangun kapasitas AI dari nol, alih-alih memanfaatkan kemitraan atau skema pembiayaan lain yang tidak langsung membebani pemegang saham lama.

Sikap Burry ini juga mencerminkan gaya investasinya yang selama ini dikenal kontrarian, yaitu berani mengambil posisi berbeda dari konsensus pasar ketika ia menilai valuasi sudah tidak masuk akal. Rekam jejaknya memprediksi krisis subprime mortgage pada 2008 membuat setiap pernyataannya soal saham teknologi besar seperti Alibaba cenderung mendapat perhatian luas dari pelaku pasar global.

Bagaimana Respons Pasar dan Analis Lain?

Selain Burry, sejumlah analis pasar juga menyoroti dampak dilusi dari penjualan saham baru Alibaba terhadap harga saham dalam jangka pendek. Penurunan harga saham Alibaba pasca pengumuman menunjukkan bahwa sebagian investor memang khawatir dengan besarnya jumlah saham baru yang beredar, meski di sisi lain manajemen Alibaba optimistis investasi AI ini akan membawa hasil dalam jangka panjang.

Di tengah perdebatan ini, Burry tetap mempertahankan pandangan positifnya terhadap dinamika kompetisi pengantaran dan e-commerce di China, yang menurutnya justru bisa menguntungkan pemain seperti JD.com dalam beberapa tahun ke depan. Ia menilai Alibaba masih punya fundamental bisnis yang kuat, namun kombinasi antara belanja modal besar dan penerbitan saham baru membuat potensi imbal hasil bagi investor menjadi kurang menarik untuk saat ini.

Baca juga: “10 Saham AI yang Wajib Dibeli untuk Investasi Masa Depan Kamu!

Trading Tokenized Stocks Kini Hadir di Pintu!

Nikmati kemudahan investasi saham global seperti Nvidia (NVDAX), Amazon (AMZNX), Meta (METAX) hingga aset komoditas seperti emas dan perak dalam wujud tokenized stocks dari xStocks dan Ondo langsung di aplikasi Pintu!

Kenapa harus coba investasi tokenized stocks di Pintu?

  • Modal Minim: Mulai dari Rp11.000 saja.
  • Tanpa Jam Bursa: Buka 24 jam penuh, tidak perlu menunggu pasar AS buka.
  • Settlement Cepat: Transaksi langsung selesai tanpa ribet.
Trade Tokenized Stocks di Pintu Sekarang!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->