
Jakarta, Pintu News ā Harga emas saat ini diperdagangkan mendekati $5.055 (Rp85.012.530) per ons, naik sebesar 2,82% pada 4 Februari 2026, menandakan pemulihan bertahap setelah koreksi tajam sebelumnya. Kenaikan ini terjadi setelah penurunan drastis pada akhir bulan lalu yang mengguncang pasar global.
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke rekor tertinggi akibat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian makroekonomi, sebelum akhirnya anjlok secara tajam. Saat ini, para pelaku pasar memantau apakah tren pemulihan ini akan terus berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi.
Harga emas anjlok lebih dari 9,8% pada 30 Januari, mencatat penurunan harian terbesar sejak tahun 1983. Tekanan jual meningkat setelah CME Group menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas di Comex dari 6% menjadi 8%.
Baca juga: Menjelang Laporan Pendapatan, Apakah Saham Google Masih Layak untuk Dibeli?
Margin untuk perak juga dinaikkan, dari 11% menjadi 15%, yang memaksa para trader dengan posisi leverage untuk cepat mengurangi kepemilikan mereka. Akibatnya, aksi likuidasi meluas ke seluruh logam mulia dan memperpanjang kerugian dalam beberapa sesi berikutnya. Peristiwa ini menyoroti bahwa penurunan tajam lebih disebabkan oleh faktor posisi (positioning) ketimbang faktor fundamental pasar.
Perilaku pasar berubah drastis ketika volatilitas emas melonjak ke tingkat yang jarang terlihat dalam perdagangan modern. Data Bloomberg menunjukkan bahwa volatilitas 30 hari emas naik di atas 44%, level tertinggi sejak krisis keuangan 2008.
Angka tersebut bahkan melampaui volatilitas Bitcoin yang berada di kisaran 39%, suatu kondisi yang tidak biasa untuk aset yang selama ini dianggap sebagai penyimpan nilai yang stabil. Selama aksi jual besar-besaran itu, emas mulai diperdagangkan layaknya instrumen spekulatif, meskipun kinerjanya dalam jangka panjang tetap kuat.
Dalam 12 bulan terakhir, harga emas tercatat naik sekitar 66%, sementara Bitcoin justru turun sekitar 21%.
Harga emas mengalami rebound kuat selama sesi perdagangan Asia pada 3 dan 4 Februari, seiring kembalinya minat beli pasca aksi jual besar-besaran. Harga spot emas naik sekitar 2% secara intraday sebelum menetap di sekitar $5.055 pada 4 Februari, sementara harga perak melonjak hingga 6%.
Logam lain seperti platinum dan paladium juga mencatatkan kenaikan. Melemahnya dolar AS turut meringankan tekanan terhadap logam yang dihargai dalam dolar. Sementara itu, permintaan dari Tiongkok kembali menjadi sorotan ketika para pembeli membanjiri Shenzhen menjelang libur Tahun Baru Imlek, menandakan minat fisik yang kembali muncul pada level harga yang lebih rendah.
Meski terjadi gejolak dalam jangka pendek, bank-bank besar tetap memproyeksikan kenaikan harga emas dalam jangka menengah.
JPMorgan, misalnya, menaikkan proyeksi harga emas untuk akhir 2026 menjadi $6.300 (Rp105.003.800) per ons ā tertinggi di antara lembaga keuangan global lainnya. Bank tersebut menyebutkan pembelian emas oleh bank sentral dan diversifikasi cadangan sebagai pendorong utama.
JPMorgan kini memperkirakan bahwa bank sentral akan membeli sekitar 800 ton emas pada 2026, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 755 ton. Deutsche Bank, SociƩtƩ GƩnƩrale, dan UBS juga mempertahankan target harga emas mendekati atau di atas $6.000 (Rp100.956.000), memperkuat keyakinan akan permintaan struktural.
Risiko geopolitik dan pertumbuhan global yang tidak merata terus mendukung daya tarik strategis emas. Investor tetap waspada terhadap perkembangan yang melibatkan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan perundingan terkait kesepakatan nuklir baru.
Baca juga: Pasar Crypto Terus Terjun Bebas, Akankah 2026 Jadi Tahun Terburuk?
Kemajuan diplomatik berpotensi mengurangi permintaan terhadap aset safe haven dalam jangka pendek. Namun, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini dan kekhawatiran inflasi yang masih ada menjaga relevansi emas dalam portofolio yang terdiversifikasi. Faktor-faktor ini terus memengaruhi pergerakan harga di pasar global.
Dari sudut pandang teknikal, harga emas telah mengalami koreksi hingga menyentuh level-level Fibonacci penting setelah reli yang cukup panjang. Harga masih menghormati garis tren naik (rising trendline) dan menemukan titik support di sekitar zona retracement 0,65 dan 0,618.
Struktur ini menunjukkan kemungkinan fase konsolidasi mendatar (sideways), bukan pembalikan tren (trend reversal). Saat ini, para trader menantikan apakah emas mampu bertahan di atas level-level ini sebelum mencoba kembali bergerak naik.
Sebagian besar analis menilai penurunan tajam yang terjadi baru-baru ini sebagai koreksi dalam tren bullish yang masih berlangsung. Faktor-faktor fundamental tetap kuat, sementara posisi pasar mengalami penyesuaian setelah aksi beli agresif selama beberapa bulan terakhir.
Saat ini emas tengah memasuki fase penyesuaian, namun target jangka panjang dari berbagai bank besar menunjukkan bahwa kisah reli emas masih jauh dari selesai.
Ikuti kami diĀ Google NewsĀ untuk mendapatkan informasi terkini seputar duniaĀ cryptoĀ dan teknologi blockchain. CekĀ harga Bitcoin,Ā usdt to idrĀ danĀ harga saham nvidiaĀ tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalamanĀ trading cryptoĀ yang mudah danĀ amanĀ dengan mengunduhĀ aplikasi cryptoĀ Pintu melaluiĀ PlayĀ Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalamanĀ web tradingĀ dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi.Ā Segala aktivitas jualĀ beli BitcoinĀ dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: