
Jakarta, Pintu News – Jaringan crypto Bitcoin kembali mengalami guncangan besar pada awal 2026. Tingkat kesulitan penambangan atau mining difficulty tercatat turun paling tajam sejak larangan penambangan di China pada 2021. Peristiwa ini menyoroti tekanan berat yang sedang dihadapi industri cryptocurrency, mulai dari faktor cuaca ekstrem hingga margin keuntungan yang makin menipis.
Mining difficulty Bitcoin turun sekitar 11,16% dalam satu periode penyesuaian. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam hampir lima tahun terakhir.
Secara teknis, mekanisme ini bertujuan menjaga waktu blok tetap di kisaran 10 menit. Ketika banyak penambang berhenti beroperasi, sistem otomatis menurunkan tingkat kesulitan agar jaringan tetap berjalan.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik: Bitcoin Sering Rebound di Februari — Pelajaran dari Data Historis

Terakhir kali penurunan sebesar ini terjadi pada Juli 2021. Saat itu, pemerintah China melarang aktivitas penambangan Bitcoin secara masif.
Namun berbeda dengan krisis geopolitik tersebut, penurunan kali ini dipicu faktor alam dan ekonomi. Kombinasi cuaca ekstrem dan tekanan biaya menjadi penyebab utama melemahnya aktivitas mining crypto.
Badai musim dingin parah di Amerika Utara menjadi salah satu pemicu utama. Gangguan jaringan listrik memaksa banyak penambang menghentikan operasional sementara.
Di wilayah seperti Texas, penambang Bitcoin mengikuti program demand response. Mereka mengurangi konsumsi listrik saat beban puncak untuk menjaga stabilitas jaringan energi.
Lonjakan harga listrik membuat biaya operasional melonjak tajam. Penambang dengan perangkat lama dan tidak efisien paling terdampak.
Bagi mereka, aktivitas mining cryptocurrency berubah menjadi tidak ekonomis. Akibatnya, banyak rig dimatikan secara permanen atau semi-permanen.
Menurut estimasi industri, biaya rata-rata untuk menambang satu Bitcoin mencapai USD67.704. Jika dikonversi, nilainya sekitar Rp1,14 miliar per BTC.
Dengan harga Bitcoin sempat berada di bawah USD70.000 atau sekitar Rp1,18 miliar, margin keuntungan menjadi sangat tipis. Bahkan sebagian penambang beroperasi dalam kondisi merugi.
Penurunan mining difficulty bisa memberi ruang napas bagi penambang yang masih bertahan. Dengan tingkat kesulitan lebih rendah, peluang menghasilkan BTC menjadi sedikit lebih mudah.
Namun secara luas, kondisi ini mencerminkan tekanan struktural pada industri cryptocurrency. Hanya penambang dengan efisiensi tinggi dan modal kuat yang mampu bertahan dalam fase ini.
Bagi investor crypto, dinamika mining penting untuk dipahami karena berpengaruh pada keamanan jaringan dan pasokan Bitcoin. Tekanan pada penambang sering kali muncul bersamaan dengan fase pasar yang sulit.
Bagi pemula, fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem cryptocurrency tidak hanya dipengaruhi harga. Faktor energi, cuaca, dan biaya operasional juga memainkan peran besar dalam menjaga keberlanjutan jaringan.
Baca Juga: 5 Perspektif AI: Apakah XRP Akan Turun di Bawah $1 di Februari 2026?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.