
Jakarta, Pintu News – Likuidasi adalah proses hukum di mana sebuah perusahaan menghentikan operasi bisnisnya dan menjual seluruh aset untuk melunasi utang kepada kreditur. Proses ini biasanya terjadi ketika perusahaan tidak lagi mampu memenuhi kewajiban keuangannya dan tidak memiliki prospek untuk bangkit kembali. Tujuan utama likuidasi adalah menyelesaikan utang secara tertib dan mengakhiri eksistensi perusahaan secara resmi.
Dalam konteks ekonomi yang lebih luas, likuidasi juga mencerminkan fase akhir dari siklus hidup perusahaan. Setelah likuidasi selesai, perusahaan sudah tidak beroperasi lagi dan status hukumnya dibubarkan dari catatan resmi negara.
Menurut Undang‑Undang Perseroan Terbatas (UU PT) No. 40 Tahun 2007, likuidasi adalah proses penyelesaian harta perseroan untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur dan pemegang saham setelah perseroan dibubarkan. UU ini mengatur bahwa likuidasi dimulai setelah keputusan pembubaran diambil oleh RUPS atau berdasarkan ketentuan undang‑undang.
Dalam pasal terkait, UU PT mensyaratkan bahwa likuidasi dilakukan oleh seorang likuidator yang ditunjuk untuk mengurus dan menyelesaikan kewajiban perseroan hingga tuntas, termasuk utang kepada kreditur, pembayaran kompensasi, serta distribusi sisa harta kepada pemegang saham.
Jenis likuidasi umumnya dibedakan menjadi likuidasi sukarela dan likuidasi paksa (winding up). Likuidasi sukarela terjadi ketika pemegang saham memutuskan untuk menutup perusahaan atas kesepakatan sendiri, misalnya karena tujuan pendirian telah tercapai atau perubahan strategi bisnis.
Sedangkan likuidasi paksa biasanya dilakukan berdasarkan putusan pengadilan, terutama ketika perusahaan mengalami gagal bayar atau pailit. Dalam kasus ini, pengadilan menunjuk seorang likuidator yang bertanggung jawab atas penyelesaian aset dan utang perusahaan sesuai hukum.

Tahapan likuidasi secara umum dimulai dari keputusan pembubaran perusahaan, baik oleh pemegang saham atau keputusan pengadilan apabila terjadi wanprestasi berat. Setelah itu, likuidator ditunjuk untuk menginventaris aset dan kewajiban perusahaan.
Langkah berikutnya adalah penjualan aset perusahaan, penyelesaian utang kepada kreditur, serta pengurusan hak dan kewajiban lain sesuai ketentuan hukum. Jika masih terdapat sisa harta setelah seluruh utang dilunasi, barulah sisa tersebut dibagikan kepada pemegang saham.
Likuidasi sering dipicu oleh ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan, margin operasional yang negatif dalam jangka panjang, atau perubahan kondisi pasar yang drastis. Perusahaan yang terus merugi akhirnya kehabisan likuiditas dan tidak dapat membayar utang kepada kreditur.
Dampaknya bagi pemegang saham bisa signifikan karena mereka biasanya mendapat urutan terakhir dalam pembagian sisa harta, sehingga sering kali tidak mendapatkan apa‑apa setelah utang dilunasi. Bagi kreditor, likuidasi berarti mereka mungkin menerima sebagian atau seluruh dari piutang mereka tergantung pada nilai realisasi aset perusahaan.
Baca juga: Emas 1 Gram Digadai Berapa? Inilah Penjelasan Lengkapnya!
Likuidasi dan pailit sering dianggap mirip, tetapi secara hukum ada perbedaan penting. Pailit (bankruptcy) adalah status hukum ketika perusahaan dinyatakan tidak mampu membayar utang sesuai jatuh tempo, dan ini bisa memicu pengajuan pailit ke pengadilan.
Sementara itu, likuidasi merupakan proses penutupan dan penyelesaian aset setelah pembubaran, yang bisa terjadi karena keputusan internal perusahaan atau sebagai hasil putusan pengadilan ketika pailit. Pailit biasanya diikuti oleh proses likuidasi, tetapi likuidasi tidak selalu disebabkan oleh pailit.
Contoh kasus likuidasi industri yang sempat menjadi perhatian adalah ketika beberapa perusahaan ritel besar di berbagai negara memutuskan untuk likuidasi karena tekanan ekonomi pasca‑pandemi, penurunan penjualan, dan beban utang yang meningkat. Banyak dari kasus tersebut menggambarkan bagaimana bisnis yang sebelumnya profit bisa berakhir likuid ketika kondisi pasar berubah drastis.
Di Indonesia sendiri, ada pula kasus likuidasi usaha UMKM setelah profit margin terkikis oleh persaingan harga, seperti sektor ritel kecil yang tidak mampu bersaing dengan e‑commerce besar. Kasus‑kasus ini menjadi pelajaran mengenai pentingnya manajemen risiko dalam bisnis.

Dalam konteks pasar keuangan modern, istilah likuidasi juga digunakan dalam trading crypto dan saham berjangka (derivatives) untuk menunjukkan penutupan posisi secara otomatis oleh broker ketika margin tidak mencukupi. Misalnya, trader margin di pasar cryptocurrency dapat mengalami liquidation ketika harga aset bergerak melawan posisi mereka sehingga margin tidak lagi memenuhi syarat.
Likuidasi semacam ini berbeda dengan likuidasi perusahaan karena berkaitan dengan penutupan posisi trading individu, bukan penutupan bisnis. Pada pasar saham margin, mekanisme serupa juga dapat terjadi jika nilai ekuitas turun di bawah persyaratan margin broker.
Baca juga: Emas 24 Karat Kodenya Berapa? Panduan Lengkap Kadar & Standar
Kesalahan umum yang sering terjadi dalam konteks likuidasi perusahaan adalah kurangnya perencanaan keuangan, seperti tidak memiliki cadangan modal yang cukup untuk menghadapi kondisi pasar yang menantang. Kesalahan lain termasuk mengabaikan indikasi awal penurunan pendapatan dan arus kas negatif, yang seharusnya menjadi alarm untuk mengambil tindakan strategis.
Untuk menghindari likuidasi yang tidak diinginkan, perusahaan perlu melakukan perencanaan risiko dan manajemen kas dengan disiplin, memonitor kinerja keuangan secara berkala, dan menyiapkan strategi diversifikasi usaha yang dapat membantu perusahaan bertahan saat menghadapi tekanan pasar.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: