
Jakarta, Pintu News – Pasar aset digital kembali menghadapi tekanan jual yang cukup masif pada pertengahan Februari ini, dan Ripple tidak luput dari koreksi tajam tersebut. Sebagai salah satu aset crypto dengan kapitalisasi pasar terbesar, pergerakan Ripple (XRP) selalu menjadi indikator penting bagi sentimen investor terhadap altcoin berbasis infrastruktur global. Meskipun secara fundamental proyek ini terus berkembang, dinamika pasar global dan kondisi makroekonomi tampaknya masih membayangi valuasi Ripple (XRP) dalam jangka pendek.

Berdasarkan data pasar terbaru pada Kamis, 19 Februari 2026 pukul 11:20:00 WIB, harga Ripple (XRP) terpantau berada di level Rp24.235 per koin. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 2,83% dalam kurun waktu 24 jam terakhir, mengikuti tren pelemahan yang melanda mayoritas aset kripto utama. Jika dikonversikan ke mata uang global, harga tersebut setara dengan kurang lebih $1,43 (kurs Rp16.937), mencerminkan volatilitas harian yang cukup tinggi bagi para trader.
Dalam rentang perdagangan hari ini, harga Ripple (XRP) sempat menyentuh titik tertinggi di level Rp25.213 sebelum akhirnya tertekan hingga mendekati titik terendah harian di level Rp23.926. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya Bitcoin yang turut menyeret sentimen pasar cryptocurrency secara keseluruhan ke zona merah pada pertengahan pekan ini. Kondisi ini memicu kewaspadaan bagi investor ritel, mengingat volatilitas harga sering kali meningkat secara mendadak akibat tekanan jual yang kuat di pasar.
Baca Juga: 5 Update Harga Berlian per Gram dan Karat 2026, Ada yang Tembus Rp5 Miliar!
Salah satu faktor fundamental yang menjadi sorotan utama para analis saat ini adalah penurunan aktivitas jaringan Ripple (XRP) yang tercatat mencapai 26%. Data on-chain menunjukkan jumlah alamat aktif di jaringan Ripple (XRP) berkurang signifikan dari 55.080 menjadi hanya sekitar 40.778 alamat dalam sepekan terakhir. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai sinyal melemahnya permintaan nyata dan berkurangnya minat investor untuk melakukan transaksi langsung menggunakan protokol Ripple.
Penurunan partisipasi pengguna ini berpotensi memicu tekanan jual yang lebih besar jika likuiditas pasar terus menipis dalam beberapa hari ke depan secara konsisten. Analis memperingatkan bahwa tanpa adanya lonjakan aktivitas baru, harga Ripple (XRP) mungkin akan sulit untuk kembali melakukan reli ke level psikologis sebelumnya. Namun, bagi sebagian investor jangka panjang, periode penurunan aktivitas ini justru dipandang sebagai fase jenuh jual yang mungkin membuka peluang akumulasi.
Meskipun sedang mengalami tekanan jangka pendek, beberapa pandangan institusional tetap memberikan optimisme relatif terhadap masa depan aset Ripple (XRP) ini. Tahun 2026 diprediksi sebagai fase krusial di mana kejelasan regulasi yang meningkat dapat mengurangi ketidakpastian hukum yang selama ini membayangi aset tersebut. Berbeda dengan Bitcoin (BTC), aset berbasis infrastruktur seperti Ripple (XRP) dinilai berpotensi bergerak lebih independen berkat pengembangan ekosistem tokenisasi yang semakin matang.
Pemanfaatan Ripple (XRP) dalam transaksi lintas batas dan kemitraan dengan lembaga keuangan dunia tetap menjadi faktor kunci yang dapat menopang valuasi di masa depan. Jika divergensi antara altcoin dan aset utama benar-benar terjadi, Ripple (XRP) bisa menjadi salah satu aset yang pulih lebih cepat dari tekanan pasar global. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan hukum di Amerika Serikat serta adopsi layanan likuiditas on-demand sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.

Kondisi pasar yang sedang terkoreksi saat ini memaksa investor untuk lebih selektif dalam mengelola portofolio cryptocurrency mereka agar tetap aman dari risiko kerugian. Selain memegang Ripple (XRP), banyak trader mulai melirik aset stabil seperti Tether sebagai destinasi sementara untuk mengamankan nilai modal dari volatilitas ekstrem. Strategi lindung nilai ini sangat efektif untuk memitigasi risiko kerugian mendalam saat harga aset digital utama sedang mencari titik terendah barunya.
Selain itu, diversifikasi ke aset dengan fundamental infrastruktur yang kuat tetap menjadi pilihan logis di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut. Memahami siklus musiman harga dapat membantu investor dalam mengatur ekspektasi hasil dan tidak terjebak dalam kepanikan massal saat harga mengalami koreksi tajam. Tetap disiplin dalam melakukan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) bisa menjadi cara yang paling bijak untuk membangun posisi tanpa harus menebak harga terendah.
Baca Juga: Prediksi Mengejutkan: Bitcoin (BTC) Butuh 20 Tahun untuk Kalahkan Emas, Kata Willy Woo
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.