Fed Diproyeksi Tahan Bunga September 2026: Sentimen Positif Saham AS?

Di-update
August 11, 2026
Bagikan
Gambar Fed Diproyeksi Tahan Bunga September 2026: Sentimen Positif Saham AS?

Jakarta, Pintu News – Arah kebijakan suku bunga The Fed untuk pertemuan September 2026 berbalik drastis hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Setelah sempat diproyeksikan naik akibat tekanan energi dan kekhawatiran inflasi, pelaku pasar kini justru melihat peluang kenaikan suku bunga itu makin menyusut usai data ketenagakerjaan Amerika Serikat keluar jauh di bawah ekspektasi. Pergeseran ini langsung berimbas ke pasar saham AS yang mencetak rekor baru dalam beberapa hari terakhir.

Awalnya Pasar Justru Memperkirakan Kenaikan Suku Bunga

Cerita ini dimulai dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 30 Juli 2026. The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, namun keputusan itu diambil dengan suara terpecah, 9 anggota setuju menahan sementara 3 anggota lainnya justru menginginkan kenaikan seperempat poin. Ketua The Fed Kevin Warsh pun tidak memberikan sinyal arah kebijakan yang jelas untuk pertemuan berikutnya, sehingga pasar dibiarkan menebak-nebak sendiri.

Ketidakpastian itu membuat sejumlah lembaga keuangan besar mengubah proyeksi mereka. Analis JPMorgan misalnya, sempat merevisi pandangannya dan memperkirakan The Fed justru akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, berbeda dari proyeksi sebelumnya yang menyebut tidak akan ada perubahan suku bunga sepanjang 2026. Alasannya ada dua, gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Selat Hormuz yang membuat harga minyak tetap tinggi, serta kekhawatiran soal kredibilitas The Fed dalam meredam inflasi setelah yield obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 pasca pertemuan Juli.

Baca juga: “The Fed Tahan Suku Bunga 30 Juli 2026, Usai Warsh Bersaksi di Kongres

Akibat sentimen itu, menjelang awal Agustus 2026 probabilitas kenaikan suku bunga pada September sempat berada di kisaran 55%-58% menurut sejumlah data pasar berjangka. Suasana pasar obligasi pun ikut tertekan karena investor mulai memasukkan skenario pengetatan lanjutan ke dalam kalkulasi mereka.

Data Tenaga Kerja Juli Jadi Pembalik Arah

Menurut CNBC, skenario itu berubah total ketika laporan ketenagakerjaan Juli 2026 dirilis pada 7 Agustus 2026. Data nonfarm payrolls AS ternyata mengalami penurunan sebanyak 23.000 pekerjaan, jauh dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 83.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat stabil di 4,1%, namun revisi data bulan-bulan sebelumnya juga cenderung dipangkas ke bawah.

Angka yang mengecewakan itu langsung membuat ekspektasi pasar berbalik arah. Berdasarkan indikator CME FedWatch, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada September melonjak ke sekitar 60%, sementara platform prediksi Kalshi mencatat probabilitas serupa di kisaran 65%. Salah satu analis pasar menyebut data ini “membuat kenaikan suku bunga makin sulit dijustifikasi”, karena The Fed kini tidak bisa lagi hanya fokus pada inflasi tanpa memperhitungkan risiko pelemahan lapangan kerja.

Yield obligasi pemerintah AS pun ikut merespons cepat. Yield tenor 2 tahun yang paling sensitif terhadap ekspektasi suku bunga turun sekitar 8 basis poin ke level 4,16% tak lama setelah data dirilis, mencerminkan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap skenario kenaikan suku bunga.

Pembalikan arah secepat ini sebenarnya cukup jarang terjadi dalam rentang waktu kurang dari dua pekan. Biasanya diperlukan beberapa rilis data berturut-turut untuk mengubah konsensus pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Namun kombinasi antara sinyal hawkish dari internal FOMC pada akhir Juli dan data ketenagakerjaan yang jauh di bawah ekspektasi membuat narasi pasar berubah hampir seketika begitu laporan tersebut dipublikasikan.

Wall Street Merespons dengan Rekor Baru

Patung banteng Wall Street simbol optimisme pasar saham AS
Patung Charging Bull di Wall Street, simbol optimisme pelaku pasar saham AS. Sumber: Harri P via Unsplash / Unsplash License

Pasar saham AS menyambut data tersebut dengan reaksi positif, mengikuti pola klasik “bad news is good news” di mana data ekonomi yang lemah justru dibaca sebagai sinyal berkurangnya tekanan pengetatan moneter. Indeks S&P 500 ditutup di level rekor 7.757,64 pada 8 Agustus 2026, naik 0,62% dalam sehari.

Jika dilihat dari kinerja mingguan, penguatan terlihat lebih signifikan. Nasdaq Composite melesat 5,2% sepanjang pekan, S&P 500 menguat 3,6%, sementara Dow Jones ikut naik sekitar 3%. Ketiga indeks utama itu mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak April 2026, didorong optimisme bahwa The Fed tidak akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Baca juga: “9 Pejabat The Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga di 2026, Pasar Panik?

Apa Artinya buat Investor Saham dan Aset Kripto?

Papan nama Wall Street di New York simbol pasar keuangan AS
Papan nama Wall Street di New York, pusat aktivitas pasar keuangan AS. Sumber: Andy Kennedy via Unsplash / Unsplash License

Bagi investor, berkurangnya peluang kenaikan suku bunga biasanya berarti biaya modal yang lebih terkendali dan prospek yield obligasi yang lebih rendah dalam jangka pendek. Kondisi semacam ini secara historis cenderung membuat aset berisiko seperti saham teknologi dan aset kripto lebih menarik di mata investor, karena dana investor tidak lagi harus bersaing dengan imbal hasil instrumen bebas risiko yang terus naik.

Meski begitu, gambaran ini masih jauh dari pasti. Pertemuan FOMC September baru akan berlangsung sekitar sebulan lagi, dan masih ada sejumlah data penting seperti inflasi (CPI/PCE) serta laporan tenaga kerja Agustus yang bisa kembali mengubah kalkulasi pasar. Sinyal dari tiga anggota FOMC yang sebelumnya menginginkan kenaikan suku bunga pada Juli juga menunjukkan bahwa perdebatan soal arah kebijakan di internal The Fed belum benar-benar selesai.

Karena itu, investor tetap disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS dari waktu ke waktu ketimbang berpegang pada satu proyeksi saja. Volatilitas pasar keuangan, termasuk saham AS dan kripto, masih sangat mungkin terjadi jika data-data ke depan kembali mengejutkan pasar seperti yang terjadi pada laporan tenaga kerja Juli kemarin.

Pertemuan FOMC berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 16-17 September 2026. Sampai tanggal tersebut, pasar kemungkinan akan terus bergerak mengikuti setiap rilis data ekonomi baru, mulai dari klaim tunjangan pengangguran mingguan hingga survei keyakinan konsumen. Bagi investor ritel, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa keputusan suku bunga The Fed jarang bisa ditebak jauh-jauh hari, sehingga strategi diversifikasi portofolio tetap relevan ketimbang menaruh seluruh dana pada satu skenario arah suku bunga saja.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->