
Ketika MicroStrategy mengumumkan pembelian Bitcoin pertamanya pada 2020, banyak yang skeptis terhadap Michael Saylor. Lima tahun kemudian, Strategy Inc. menguasai lebih dari 846.842 Bitcoin dan menjadi perusahaan dengan cadangan Bitcoin terbesar. MSTR dan STRC adalah dua instrumen keuangan Strategy untuk membeli Bitcoin. Artikel ini menjelaskan apa itu STRC dan MSTR, bagaimana strategi Bitcoin Treasury Saylor bekerja secara mekanisme, dan bagaimana investor Indonesia bisa mendapat eksposur ke keduanya.
Strategy Inc., atau yang dulu dikenal sebagai MicroStrategy, adalah perusahaan publik Amerika yang terdaftar di Nasdaq dengan ticker MSTR. Sejak 2020, MicroStrategy telah bertransformasi menjadi perusahaan pelopor investasi Bitcoin. MicroStrategy juga merupakan perusahaan pertama dan terbesar yang memiliki cadangan aset Bitcoin.
Selain itu, MicroStrategy mengubah namanya menjadi Strategy pada 5 Februari 2025 dengan logo baru berbentuk Bitcoin. Perubahan nama tersebut menandakan pergeseran fokus pada Bitcoin dan juga software analisis berbasis AI.
Untuk tahu lebih dalam tentang MicroStrategy , baca artikel Pintu Academy berikut: Apa Itu Microstrategy (MSTRon)? – Pintu Academy.
Strategy didirikan pada 1989 oleh Michael Saylor, Sanju Bansal, dan Thomas Spahr di Tysons Corner, Virginia. Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini bergerak di bidang business intelligence, perangkat lunak analitik data untuk perusahaan besar, bersaing dengan IBM dan Oracle. Harga sahamnya selama bertahun-tahun bergerak datar di kisaran $100–$200, hampir tidak pernah menjadi perbincangan di Wall Street.
Semuanya berubah pada Agustus 2020. Michael Saylor mengumumkan MicroStrategy membeli 21.454 Bitcoin seharga $250 juta menggunakan kas cadangan perusahaan. Saylor berargumen bahwa Bitcoin adalah aset yang lebih baik daripada dolar untuk menyimpan nilai jangka panjang.
Bisnis software Strategy masih berjalan dan berkembang ke arah AI-powered analytics, tapi ini tidak lagi menjadi identitas utama perusahaan. Strategy hari ini merupakan “perusahaan Bitcoin Treasury pertama dan terbesar di dunia.”

Strategy tidak lagi divaluasi menggunakan standar perusahaan pada umumnya. MSTR pada dasarnya sudah menjadi Bitcoin dalam bentuk saham. Ketika Bitcoin naik, MSTR biasanya naik lebih tinggi. Ketika Bitcoin turun, MSTR biasanya turun lebih dalam.
Berikut perjalanan harga MSTR sejak pivot Bitcoin di 2020:
| Periode | Harga MSTR (split-adjusted) | Konteks |
|---|---|---|
| Agustus 2020 (sebelum pivot) | $9 | Sebelum pembelian Bitcoin pertama |
| Februari 2021 | $130 | Bitcoin pertama kali tembus $50.000 |
| Akhir 2022 | $13 | Crypto winter, Bitcoin turun ke $16.000 |
| November 2024 | $543 | ATH MSTR, Bitcoin tembus $90.000 |
| Akhir 2024 | $289 | Koreksi pasca-ATH |
| Juni 2026 | $125–$130 | Koreksi, BTC di kisaran $62.000–$65.000 |
Dua angka dari tabel di atas menarik. Pertama, dari $9 pada Agustus 2020 ke puncaknya $543 pada November 2024, MSTR mengalami kenaikan hampir 60 kali lipat dalam empat tahun. Jika kamu membeli $10.000 MSTR pada Agustus 2020, di tahun 2025 ia menjadi $324.290 atau +3.143% dalam lima tahun. Sebagai perbandingan, kamu akan mendapatkan keuntungan +922% jika membeli Bitcoin dalam periode yang sama.
Kedua, dari ATH $543 ke level sekitar $127–$130 saat ini, MSTR mengalami penurunan lebih dari 75% dari puncaknya. MSTR mengalami penurunan lebih dalam dibanding Bitcoin (-51%). Ini adalah risiko yang harus dipahami investor MSTR.
Per 8 Juni 2026, Strategy memegang total 846.842 Bitcoin, dengan rata-rata harga beli $75.680 per koin dan total biaya akuisisi sekitar $63,97 miliar. Kepemilikan BTC Strategy setara dengan sekitar 4% dari total seluruh Bitcoin yang pernah ada. Sampai saat ini tidak ada satu pun entitas lain yang secara publik mengakui memiliki Bitcoin sebanyak ini.
Berdasarkan BitcoinTreasuries.net per 9 Juni 2026, pemegang Bitcoin korporasi terbesar kedua adalah Twenty One Capital, dengan kepemilikan sekitar 43.514 BTC per Juni 2026, atau hampir 5% dari kepemilikan Strategy. Sepanjang 2026 saja, Strategy mencatat 12 pembelian Bitcoin mingguan berturut-turut, menggunakan berbagai instrumen keuangan yang nanti akan kita bahas.
Satu perkembangan penting yang terjadi baru-baru ini: pada akhir Mei 2026, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Strategy menjual sebagian kecil Bitcoin-nya, 32 koin setara $2,5 juta untuk membayar dividen kepada pemegang saham preferen STRC. Saylor menyatakan bahwa penjualan tersebut bersifat strategis dan bukan untuk menjual secara konsisten. Namun, ini tetap memicu perdebatan di komunitas investor, terutama di tengah derasnya aliran keluar dari pemilik ETF Bitcoin.
Strategy Inc. tidak hanya menerbitkan saham biasa MSTR. Sejak pertengahan 2025, perusahaan meluncurkan lini instrumen keuangan baru yang menarget profil investor berbeda: mereka yang lebih suka pendapatan rutin daripada mengejar kenaikan harga. Instrumen pertama dan terbesar dari lini ini adalah STRC.
STRC adalah nama ticker Nasdaq untuk Preferred Stock yang diterbitkan Strategy Inc. Dalam bahasa sederhana: saham preferen dengan tingkat dividen variabel. STRC pertama kali dijual ke publik pada Juli 2025 dengan harga penawaran $90 per lembar, menghimpun sekitar $2,5 miliar dalam satu transaksi. Pada saat itu, STRC menjadi IPO terbesar di Amerika Serikat sepanjang 2025. Per Juni 2026, total nilai STRC yang beredar telah melampaui $10,4 miliar.
Kata preferred di sini bukan sekadar nama. Pemegang STRC berada di urutan yang lebih tinggi dari pemegang MSTR dalam hierarki klaim perusahaan: jika Strategy menghadapi likuidasi, pemegang STRC mendapat bayaran lebih dulu dari pemegang saham biasa. Tapi posisi mereka tetap berada di bawah pemegang obligasi (kreditur perusahaan).
Cara paling mudah untuk membedakan keduanya adalah melihat apa yang ditawarkan masing-masing instrumen kepada investornya.
MSTR adalah saham biasa (common stock). Tidak ada janji pendapatan tetap. Nilai investasi naik dan turun seiring Bitcoin, bahkan dengan risiko lebih tinggi.
STRC bekerja dengan logika yang berbeda. Membeli STRC bukan berarti membeli kepemilikan di perusahaan karena kamu sedang memberi modal kepada Strategy dan mendapat imbalan berupa dividen bulanan. Harga STRC dirancang untuk selalu berputar di sekitar $100 per lembar, karena Strategy menyesuaikan tingkat dividen setiap bulan agar harga tetap stabil di angka itu. Potensi kenaikan harga nyaris nol, tapi volatilitas pun jauh lebih kecil dibanding MSTR.
Tabel berikut merangkum perbedaan utama keduanya:
| MSTR | STRC | |
|---|---|---|
| Jenis instrumen | Saham biasa (common stock) | Saham preferen (preferred stock) |
| Harga per lembar | Mengikuti pasar (~$127 per Juni 2026) | Dirancang stabil di ~$100 |
| Dividen | Tidak ada | Ada, variabel (11,50% per tahun per Juni 2026) |
| Eksposur Bitcoin | Langsung | Tidak langsung |
| Potensi kenaikan harga | Tidak terbatas | Sangat terbatas |
| Risiko volatilitas | Tinggi | Rendah |
| Prioritas klaim aset | Di bawah pemegang STRC | Di atas pemegang MSTR |
Satu klausul penting yang perlu digarisbawahi: STRC tidak dijaminkan oleh Bitcoin yang dimiliki Strategy. Meski hampir seluruh dana yang dihimpun dari penjualan STRC digunakan untuk membeli Bitcoin, pemegang STRC tidak punya klaim langsung atas Bitcoin tersebut. Strategy secara eksplisit menyatakan dalam prospektusnya: saham preferen mereka “are not collateralized by the Company’s bitcoin holdings and only have a preferred claim on the residual assets of the company.“
Lalu apa hubungan keduanya dalam strategi perusahaan? Dana dari penjualan STRC digunakan untuk membeli lebih banyak Bitcoin. Lebih banyak Bitcoin di neraca perusahaan berarti nilai BTC per saham MSTR meningkat, tanpa dilusi kepada pemegang MSTR yang sudah ada. Inilah mengapa Strategy menyebut transisi menuju “preferred capital” sebagai inti strategi mereka pada 2026. Dalam situasi bullish, STRC dan MSTR saling memperkuat.

Strategy menetapkan tingkat dividen STRC setiap bulan dengan satu tujuan utama: menjaga harga STRC diperdagangkan di sekitar $100 per lembar. Kalau harga STRC mulai jatuh karena sentimen pasar yang lemah, Strategy bisa menaikkan dividen agar saham kembali menarik. Kalau permintaan terlalu tinggi dan harga mulai melampaui $100, dividennya bisa diturunkan. Mekanisme ini tertuang dalam prospektus, dengan batas bawah mengacu pada suku bunga acuan Secured Overnight Financing Rate (SOFR), sehingga dividen tidak bisa jatuh terlalu rendah secara tiba-tiba.
Riwayat pergerakan tingkat dividen ini mencerminkan mekanismenya secara konkret:
| Periode | Tingkat Tahunan | Per Lembar/Bulan |
|---|---|---|
| Agustus 2025 | 9,00% | $0,80 |
| September 2025 | 10,00% | $0,83 |
| Oktober 2025 | 10,25% | $0,85 |
| November 2025 | 10,50% | $0,88 |
| Desember 2025 | 10,75% | $0,90 |
| Januari 2026 | 11,00% | $0,92 |
| Februari 2026 | 11,25% | $0,94 |
| Maret–Juni 2026 | 11,50% | $0,96 |
Tingkat dividen naik selama tujuh bulan berturut-turut dari 9,00% hingga 11,50%, lalu stabil di angka itu selama empat bulan berturut-turut per Juni 2026. Strategy memilih tidak menaikkan dividen lebih lanjut meski harga STRC sempat turun ke sekitar $96 per 10 Juni 2026. Hal ini menunjukkan perusahaan sedang menyeimbangkan antara biaya dividen yang terus tumbuh dan kebutuhan untuk menjaga harga.
Dalam angka konkret: satu lembar STRC dengan nilai nominal $100 menghasilkan sekitar $11,50 per tahun, atau sekitar $0,96 per bulan. Untuk konteks lokal, angka ini jauh melampaui rata-rata bunga deposito rupiah di bank-bank besar Indonesia yang saat ini berkisar 4 hingga 6% per tahun. Tapi STRC bukan deposito dan tidak bisa disamakan dengannya. Tidak ada jaminan LPS, tidak ada perlindungan OJK atas nilai pokoknya, dan tingkat dividennya bisa diturunkan kapan saja atas kebijakan sepihak Strategy.
Mulai Juli 2026, pembayaran dividen bergeser dari bulanan menjadi dua kali sebulan, setelah pemegang saham menyetujui perubahan ini dalam rapat tahunan tanggal 8 Juni 2026. Jadwal baru: tanggal referensi (record date) jatuh pada tanggal 15 setiap bulan, dengan pembayaran perdana sistem baru jatuh pada 15 Juli 2026.
STRC terdaftar di Nasdaq dan tersedia di sebagian besar platform brokerage internasional. Tapi tidak seperti MSTR yang sudah bisa diakses lewat Pintu dalam bentuk MSTRON, STRC belum tersedia dalam format token saham di Indonesia. Untuk membeli STRC, investor Indonesia perlu membuka akun di broker global.
Strategy memegang lebih dari 846.842 Bitcoin bukan karena perusahaan memiliki kas sebesar itu. Sebagian besar akumulasi itu didanai lewat tiga instrumen keuangan yang saling mengisi: obligasi konversi, program penerbitan saham at-the-market, dan keuntungan dari premi valuasi saham. Memahami ketiganya penting karena di sinilah mekanisme sekaligus risiko sesungguhnya dari model bisnis Strategy berada.
Obligasi konversi adalah instrumen utang yang dapat dikonversi menjadi saham perusahaan di masa depan, tergantung pada kondisi tertentu. Strategy menerbitkan obligasi ini untuk mendapatkan modal tunai untuk membeli Bitcoin.
Hal unik dari obligasi Strategy adalah bunganya 0%. Artinya, Strategy meminjam miliaran dolar tanpa membayar bunga sama sekali kepada para peminjam.
Mengapa ada investor yang mau? Karena imbalannya bukan bunga, melainkan opsi. Jika harga saham MSTR naik cukup tinggi melampaui harga konversi yang sudah ditetapkan, pemegang obligasi bisa menukarkan utangnya menjadi saham MSTR. Bagi investor institusional yang optimis terhadap Bitcoin, ini adalah investasi asimetris: jika Bitcoin naik dan MSTR ikut naik, mereka mendapat keuntungan dari konversi saham; jika tidak, pokok utang mereka tetap kembali pada tanggal jatuh tempo.
Contoh: pada Februari 2025, Strategy menerbitkan obligasi konversi senilai $2 miliar dengan kupon 0% dan jatuh tempo 2030. Harga konversi ditetapkan sebesar $433,43 per saham MSTR, sekitar 35% di atas harga pasar pada saat penerbitan. Seluruh $2 miliar tersebut digunakan untuk membeli Bitcoin. Per Mei 2026, total obligasi konversi yang masih beredar mencapai $6,7 miliar, setelah Strategy membeli kembali sebagian obligasi jatuh tempo 2029 menggunakan kas perusahaan.
At-the-market offering (ATM) adalah mekanisme penerbitan saham baru secara bertahap langsung ke pasar terbuka, tanpa melalui proses penawaran formal yang panjang. Strategy melakukan ini hampir setiap minggu.
Prosesnya sederhana: Strategy menjual sejumlah saham MSTR baru ke pasar, mengumpulkan hasilnya dalam USD, lalu menggunakan dana tersebut untuk membeli Bitcoin pada waktu yang sama. Tidak ada jeda spekulatif, tidak menunggu harga Bitcoin turun.
Contoh: pada 20–26 April 2026, Strategy menjual 1.451.601 lembar saham MSTR, menghasilkan $255 juta, dan langsung membeli 3.273 Bitcoin dengan harga rata-rata $77.906 per koin. Per Juni 2026, Strategy masih memiliki kapasitas penerbitan sebesar $26,3 miliar untuk program ATM ini.
ATM bekerja paling efektif ketika harga saham MSTR di atas nilai Bitcoin yang dimiliki perusahaan, karena setiap lembar saham baru yang diterbitkan menghasilkan Bitcoin lebih banyak. Namun, cara ini mendilusi kepemilikan pemegang saham lama karena menambahkan suplai saham MSTR yang beredar.
Pada 2020, Strategy memegang kas besar yang nilainya menyusut. Suku bunga mendekati nol, stimulus fiskal global terus bertambah, dan obligasi pemerintah tidak lagi melindungi daya beli. Saylor membutuhkan aset pengganti.
Bitcoin memenuhi kriteria suplai terbatas dan fleksibilitas global. Pasokan maksimum 21 juta koin yang tidak bisa diubah oleh siapa pun, bisa ditransfer ke seluruh dunia dalam hitungan menit, dan jadwal halving empat tahunan yang memastikan laju pertumbuhan suplai terus turun.
Pada Agustus 2020, Saylor mengeksekusi: 21.454 Bitcoin seharga $250 juta dari kas cadangan perusahaan.

Per Juni 2026, tercatat sekitar 198 perusahaan publik di seluruh dunia telah mengadopsi beberapa bentuk strategi Bitcoin treasury. Tapi dominasi Strategy sangat besar: mereka menguasai sekitar 76% dari seluruh Bitcoin yang dipegang oleh perusahaan.
Beberapa yang paling menonjol:
Namun, sebagian besar perusahaan peniru ini belum berhasil mereplikasi efisiensi Strategy. Mereka tidak punya skala untuk mendapatkan syarat obligasi konversi 0% yang sama dan tidak punya branding yang sebanding. Strategi Saylor bisa ditiru dalam bentuk, tapi tidak mudah ditiru dalam efisiensi.
Ada dua jalur berbeda untuk investor Indonesia, tergantung instrumen mana yang dipilih.
Membeli MSTR lewat Pintu (MSTRON)
Cara termudah untuk mendapat eksposur ke MSTR dari Indonesia adalah melalui aplikasi Pintu, yang menyediakan MSTRON: token saham berbasis aset digital yang mereplikasi harga MSTR secara real-time. Pintu berizin dan diawasi OJK, sehingga pembelian dilakukan dalam kerangka regulasi Indonesia.
Caranya:
Minimum pembelian mulai dari Rp11.000, tidak perlu membeli satu lembar saham penuh.
Membeli STRC lewat broker global
STRC belum tersedia di Pintu. Untuk membeli STRC, investor Indonesia perlu membuka akun di broker internasional. Namun, broker internasional tidak diregulasi OJK, sehingga perlindungan investornya berbeda dari platform lokal.
| MSTRON (via Pintu) | STRC (via broker global) | |
|---|---|---|
| Regulasi | OJK | Tidak diatur OJK |
| Minimum beli | Rp11.000 | ~$100 (~Rp1,7 juta) |
| Dividen | Tidak ada | 11,50%/tahun (Juni 2026) |
| Kemudahan | Sangat mudah | Perlu setup awal |
| Eksposur Bitcoin | Langsung (via harga MSTR) | Tidak langsung |
Strategy Inc. adalah eksperimen keuangan yang belum pernah ada sebelumnya. Bukan sekadar perusahaan yang menyimpan Bitcoin, melainkan sebuah mesin keuangan yang menggunakan utang berbunga nol, penerbitan saham mingguan, dan premi valuasi untuk mengakumulasi Bitcoin dalam skala yang tidak bisa dilakukan individu manapun. Hasilnya: 846.842 Bitcoin, atau sekitar 4% dari seluruh suplai Bitcoin yang pernah akan ada.
Bagi investor Indonesia, ada dua cara untuk ikut dalam cerita ini. MSTR melalui MSTRON di Pintu menawarkan eksposur langsung ke pergerakan harga, dengan risiko dan potensi yang sama besarnya. STRC menawarkan pendapatan tetap dengan volatilitas yang jauh lebih rendah, tapi membutuhkan akun di broker global dan tidak dijamin oleh Bitcoin yang dimiliki Strategy.
Hal yang perlu selalu diingat adalah kedua instrumen ini bergantung pada satu variabel yang sama: harga Bitcoin. Ketika Bitcoin naik, ketiga instrumen ini saling memperkuat. Ketika Bitcoin turun secara berkepanjangan, tekanan pada Strategy bertambah besar karena kewajiban terhadap pemegang obligasi dan saham preferen tetap ada, sementara nilai asetnya menyusut.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan saran investasi. Harga aset kripto bersifat volatil dan dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR) sebelum berinvestasi.
Michael Saylor adalah pendiri dan Executive Chairman Strategy Inc., perusahaan publik Amerika yang terdaftar di Nasdaq dengan ticker MSTR. Ia dikenal sebagai pendukung Bitcoin paling vokal di dunia korporasi setelah memimpin keputusan perusahaan untuk mengalokasikan kas cadangan ke Bitcoin mulai Agustus 2020. Di bawah kepemimpinannya, Strategy kini memegang lebih dari 846.842 Bitcoin, menjadikannya perusahaan dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.
MSTR adalah saham biasa yang memberi eksposur langsung ke pergerakan harga Bitcoin dengan volatilitas tinggi dan potensi kenaikan tidak terbatas. STRC adalah saham preferen dengan harga stabil di sekitar $100 dan dividen variabel 11,50% per tahun per Juni 2026, tapi tanpa potensi kenaikan harga. MSTR lebih cocok untuk investor yang menginginkan eksposur Bitcoin dengan leverage. Sementara itu, STRC lebih cocok untuk investor yang mencari pendapatan rutin dengan volatilitas rendah. Keduanya tidak dijaminkan oleh Bitcoin yang dimiliki Strategy.
Strategy menggunakan tiga instrumen utama. Pertama, obligasi konversi berbunga 0%: perusahaan meminjam miliaran dolar tanpa membayar bunga, dengan imbalan opsi konversi ke saham MSTR bagi peminjam. Kedua, program at-the-market offering (ATM): Strategy menjual saham baru ke pasar setiap minggu dan langsung menggunakan hasilnya untuk membeli Bitcoin. Ketiga, penerbitan saham preferen seperti STRC yang menghimpun modal dari investor ritel dan institusional. Kombinasi ketiganya memungkinkan Strategy mengakumulasi Bitcoin jauh melampaui kemampuan kas operasional perusahaan.
Bitcoin Yield adalah metrik yang mengukur pertumbuhan kepemilikan Bitcoin per saham dari waktu ke waktu, dihitung sebagai perubahan persentase pada rasio antara total Bitcoin yang dimiliki dan jumlah saham beredar secara diluted. Saylor menjadikannya KPI utama karena metrik ini membuktikan bahwa meski perusahaan terus menerbitkan saham baru, setiap lembar saham MSTR tetap mewakili lebih banyak Bitcoin dibanding sebelumnya. Per 25 Mei 2026, Bitcoin Yield Strategy secara year-to-date mencapai 13,3%.
Ya, keduanya bisa dibeli dari Indonesia dengan cara yang berbeda. MSTR tersedia melalui aplikasi Pintu dalam bentuk MSTRON, token saham berbasis aset digital yang mereplikasi harga MSTR secara real-time, dengan minimum pembelian mulai dari Rp11.000 dan diawasi OJK. STRC belum tersedia di Pintu dan membutuhkan akun di broker internasional dengan minimum investasi sekitar $100 per lembar.
Bagikan
Table of contents
Lihat Aset di Artikel Ini
Harga MSTRON (24 Jam)
Kapitalisasi Pasar
-
Volume Global (24 Jam)
-
Suplai yang Beredar
-