Bernstein: “Bear Market Cuma Gangguan, Bitcoin Dibidik Tembus $150.000 di 2026!”

Di-update
February 10, 2026
Bagikan
Gambar Bernstein: “Bear Market Cuma Gangguan, Bitcoin Dibidik Tembus $150.000 di 2026!”

Jakarta, Pintu News – Analis riset investasi Bernstein tetap memandang bullish terhadap Bitcoin meski pasar sedang berada dalam fase koreksi tajam. Menurut mereka, bear market kali ini tidak membawa kerusakan struktural sedalam siklus sebelumnya dan lebih banyak dipicu oleh hilangnya kepercayaan jangka pendek daripada runtuhnya fundamental. Dengan keyakinan tersebut, Bernstein tetap mempertahankan proyeksi harga Bitcoin di US$150.000 pada akhir 2026.

Bear Market Tanpa “Ledakan Sistemik”

Dalam catatan kepada klien, tim Bernstein yang dipimpin Gautam Chhugani menyebut fase ini sebagai salah satu bear market terburuk dari sisi harga, tetapi bukan dari sisi struktur pasar. Mereka membandingkan penurunan saat ini dengan siklus-siklus sebelumnya yang ditandai oleh kegagalan besar seperti Mt. Gox, Terra-Luna, FTX, dan Three Arrows Capital. Saat itu, kebangkrutan dan leverage tersembunyi menciptakan krisis kepercayaan menyeluruh.

Kali ini, Bernstein menilai tidak ada implosi sistemik yang sebanding. Jaringan Bitcoin tetap berjalan normal tanpa gangguan teknis, tidak muncul gelombang insolvensi massal, dan pasar tidak mengalami pembekuan likuiditas seperti pada fase-fase krisis lalu. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa pelemahan harga lebih mencerminkan rendahnya keyakinan terhadap level valuasi saat ini, bukan kerusakan pada kasus investasi jangka panjang.

Baca juga: Chiliz Gaspol Jelang Piala Dunia 2026, Fan Token Disulap Jadi Aset Olahraga Global!

Peran ETF, Likuiditas, dan Narasi Makro

Bernstein juga menyoroti perbedaan penting lain dibanding siklus sebelumnya, yakni keselarasan institusional yang jauh lebih kuat. Persetujuan dan perkembangan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat—yang sudah menyediakan infrastruktur masuknya dana skala besar—dipandang sebagai fondasi penting untuk siklus berikutnya. Menurut mereka, sistem ETF “bekerja sesuai desain”, tetapi sementara ini tertahan oleh kondisi keuangan global yang sangat ketat.

Firma tersebut memperkirakan arus masuk ETF akan meningkat signifikan ketika likuiditas global mulai longgar. Pada saat yang sama, mereka mengakui bahwa Bitcoin masih diperdagangkan layaknya aset berisiko yang peka terhadap likuiditas, bukan sepenuhnya berperilaku sebagai safe haven seperti emas.

Underperformance terhadap emas dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan bahwa aset ini masih sangat sensitif terhadap suku bunga tinggi dan pengetatan moneter, meskipun tren adopsi jangka panjang dinilai tetap positif.

Baca juga: Lyn Alden: “The Fed Mulai Cetak Uang Pelan-Pelan”, Saatnya Koleksi Aset Langka?

AI, Quantum, dan Ketahanan Struktur BTC

Menanggapi kekhawatiran bahwa nilai Bitcoin akan tergerus oleh ekonomi yang makin digerakkan kecerdasan buatan , Bernstein menilai sebaliknya. Mereka berargumen bahwa blockchain dan dompet yang dapat diprogram justru merupakan bagian dari evolusi sistem digital otonom, dan Bitcoin tetap relevan sebagai lapisan keuangan global yang bisa dibaca mesin. Dengan kata lain, kemunculan AI tidak serta-merta mengurangi peran BTC dalam arsitektur keuangan digital.

Soal risiko komputasi kuantum, Bernstein mengakui perlunya perencanaan kriptografi jangka panjang, tetapi menegaskan bahwa Bitcoin tidak berada pada posisi rentan yang unik. Sistem digital kritis lainnya menghadapi tantangan serupa dan pada akhirnya harus beradaptasi bersama.

Di sisi lain, mereka melihat perusahaan pemegang BTC skala besar umumnya memiliki struktur liabilitas yang cukup untuk menahan penurunan berkepanjangan, sementara risiko kapitulasi penambang berkurang berkat diversifikasi ke permintaan energi yang terkait AI. Beberapa analis, seperti Mike Alfred, bahkan melihat skenario “slingshot”: penurunan lebih jauh yang cukup untuk mengguncang pemegang lemah sebelum pergerakan naik yang lebih eksplosif.

Kesimpulan

Bagi Bernstein, bear market Bitcoin saat ini lebih merupakan krisis kepercayaan di tengah kondisi makro yang ketat, bukan akhir dari tesis investasi jangka panjang. Ketiadaan ledakan sistemik, dukungan infrastruktur ETF spot, dan relevansi Bitcoin dalam ekosistem digital yang makin cerdas menjadi dasar keyakinan mereka mempertahankan target harga US$150.000 di akhir 2026. Meski tidak menutup kemungkinan penurunan lanjutan dalam jangka pendek, mereka menilai struktur pasar dan fondasi adopsi kali ini jauh lebih kokoh dibanding siklus-siklus lalu.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.


*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->