3 Faktor yang Diduga Memicu Crash Bitcoin Terbaru di Bawah $60.000

Di-update
February 9, 2026
Bagikan
Gambar 3 Faktor yang Diduga Memicu Crash Bitcoin Terbaru di Bawah $60.000

Jakarta, Pintu News – Bitcoin mengalami salah satu aksi jual terbesar dalam beberapa bulan terakhir, jatuh lebih dari 40% hingga menyentuh level terendah tahun ini di sekitar US$59.930. Secara total, harganya kini sudah turun lebih dari 50% dari rekor tertinggi Oktober 2025 di dekat US$126.200.

Di tengah kepanikan tersebut, sejumlah analis mengajukan tiga teori utama penyebab anjloknya harga: tekanan likuidasi dari hedge fund di Hong Kong, kewajiban lindung nilai (hedging) produk terstruktur bank besar seperti Morgan Stanley, serta tekanan struktural dari sektor penambangan yang mulai beralih ke infrastruktur AI.

Teori 1: Hedge Fund Hong Kong dan Carry Trade Yen

btc usdt
Sumber: Cointelegraph

Teori pertama menyebut koreksi tajam Bitcoin bermula dari Asia, khususnya hedge fund di Hong Kong yang memasang posisi leverage agresif dengan asumsi harga BTC akan terus naik. Menurut Parker White dari DeFi Development Corp., beberapa dana ini menggunakan opsi terkait ETF Bitcoin spot seperti IBIT milik BlackRock, dibiayai dengan meminjam yen Jepang murah (carry trade). Yen tersebut kemudian ditukar ke mata uang lain dan dialokasikan ke aset berisiko, termasuk crypto, dengan harapan reli berlanjut.

Masalah muncul ketika Bitcoin berhenti naik dan biaya pinjaman yen meningkat, membuat posisi leverage ini cepat memburuk. Pemberi pinjaman kemudian menuntut tambahan jaminan (margin), memaksa hedge fund menjual Bitcoin dan aset lain secara agresif. Aksi jual terpaksa ini memperdalam penurunan harga di pasar spot dan derivatif, menciptakan spiral likuidasi yang mempercepat jatuhnya BTC ke bawah US$60.000.

Baca juga: 23% Trader Yakin The Fed Pangkas Suku Bunga di Maret, Tapi Warsh Bikin Pasar Waspada?

Teori 2: Hedging Paksa Produk Terstruktur Bank

Teori kedua datang dari mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, yang menyoroti peran bank-bank besar yang menerbitkan produk terstruktur terkait ETF Bitcoin spot. Dalam produk seperti ini, bank menawarkan eksposur harga Bitcoin kepada klien—kadang dengan proteksi pokok—dan kemudian melakukan lindung nilai melalui pembelian atau penjualan Bitcoin dan kontrak derivatif.

Saat harga BTC jatuh tajam dan menembus level tertentu (misalnya sekitar US$78.700 pada salah satu produk Morgan Stanley), model risiko memaksa dealer melakukan delta hedging dengan menjual BTC atau futures.

Fenomena ini menciptakan apa yang disebut “negative gamma”: semakin harga turun, semakin besar volume jual yang harus dilakukan untuk mempertahankan profil risiko produk. Akibatnya, bank yang biasanya berperan sebagai penyedia likuiditas justru berubah menjadi penjual paksa di tengah pasar yang sudah tertekan. Tekanan jual tambahan dari mekanisme hedging otomatis ini memperbesar volatilitas dan memperdalam koreksi yang sudah dipicu oleh faktor lain.

Baca juga: Era Baru Crypto: Tom Farley Ramalkan Gelombang Akuisisi Besar-Besaran

Teori 3: Penambang Beralih ke AI dan Stres Biaya Produksi

Teori ketiga, yang kurang dominan tetapi tetap relevan, berkaitan dengan pergeseran sebagian penambang Bitcoin ke bisnis data center dan AI. Analis Judge Gibson menyebut meningkatnya permintaan daya dan infrastruktur untuk AI mendorong beberapa penambang besar untuk mengalihkan fokus, yang tercermin pada penurunan hash rate sekitar 10–40%.

Contohnya, Riot Platforms pada Desember 2025 mengumumkan strategi data center yang lebih luas dan menjual BTC senilai sekitar US$161 juta, sementara IREN pekan lalu juga mengumumkan pivot ke pusat data AI.

btc hash riboon
Sumber: Cointelegraph

Secara on-chain, indikator Hash Ribbons menunjukkan rata-rata hash rate 30 hari turun di bawah 60 hari, sinyal klasik bahwa pendapatan penambang sedang tertekan dan risiko kapitulasi meningkat.

btc daily chart
Sumber: Cointelegraph

Perhitungan Capriole Investments memperkirakan biaya listrik rata-rata untuk menambang satu BTC sekitar US$58.160, sementara total biaya produksi bersih mendekati US$72.700. Jika harga Bitcoin bertahan di atau di bawah US$60.000, margin penambang menyempit tajam dan berpotensi memicu penjualan BTC cadangan mereka, menambah tekanan jual di pasar spot.

Kesimpulan

Tiga teori utama—likuidasi hedge fund di Hong Kong, hedging paksa produk terstruktur bank besar, dan tekanan struktural penambang yang mulai beralih ke AI—memberikan gambaran bahwa kejatuhan Bitcoin di bawah US$60.000 bukan sekadar “panic sell” ritel biasa. Kombinasi leverage, produk keuangan kompleks, dan tekanan biaya produksi membuat koreksi kali ini sarat faktor sistemik.

Di saat yang sama, data menunjukkan pemegang jangka menengah–besar (10–10.000 BTC) mengurangi porsi kepemilikan ke level terendah sembilan bulan, menandakan sikap lebih hati-hati. Apakah zona dekat biaya produksi penambang akan menjadi lantai harga baru atau hanya halte sementara, akan sangat bergantung pada seberapa cepat tekanan likuiditas dan leverage ini mereda.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.


*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Topik

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->