
Jakarta, Pintu News – Kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini mungkin terlihat seperti pemulihan yang bersih, namun data di balik layar menunjukkan cerita yang berbeda dan cukup mencemaskan bagi para investor. Meskipun harga diperdagangkan di sekitar Rp1.340.750.000 ($77.500), terdapat celah atau gap harga realisasi sebesar Rp612.316.200 ($35.394) antara pemegang jangka pendek dan jangka panjang yang belum pernah terisi. Kondisi ini secara historis sering menjadi sinyal bahwa pasar bearish belum benar-benar berakhir sebelum gap tersebut menutup atau menyempit secara signifikan.

Setelah anjlok drastis di awal tahun, Bitcoin kini bergerak naik di dalam sebuah saluran menanjak (ascending channel) yang sering kali menipu mata pemula. Meskipun terlihat bullish, pola ini sebenarnya berfungsi sebagai pola korektif yang biasanya berlanjut ke arah tren aslinya, yaitu turun, kecuali jika ada penembusan kuat ke atas. Kamu harus memperhatikan bahwa volume perdagangan justru cenderung menurun saat harga mencapai level yang lebih tinggi di dalam saluran ini.
Penurunan volume ini menunjukkan pudarnya keyakinan para pembeli untuk mendorong harga lebih jauh lagi ke area all-time high. Jika Bitcoin gagal melakukan penutupan harian di atas Rp1.370.852.000 ($79.240), maka struktur pasar ini tetap dianggap lemah dan rentan terhadap koreksi mendalam. Para analis memperingatkan bahwa tanpa dorongan volume yang besar, reli saat ini hanyalah “napas sementara” di tengah tren penurunan yang lebih luas.
Baca Juga: 4 Angka Sakti Bitcoin (BTC) Tembus Rp1,37 Miliar, Ini Prospeknya di Mei 2026!

Indikator on-chain menunjukkan adanya perbedaan tajam antara harga rata-rata perolehan (cost basis) pemegang jangka pendek (STH) dan pemegang jangka panjang (LTH). Saat ini, harga realisasi STH berada di Rp1.401.628.700 ($81.019), sementara LTH jauh di bawahnya pada level Rp789.312.500 ($45.625). Selisih atau gap sebesar Rp612.316.200 ($35.394) ini menunjukkan bahwa banyak pembeli baru saat ini sedang dalam posisi merugi atau underwater.
Secara historis sejak tahun 2015, siklus pasar bearish Bitcoin hanya berakhir setelah harga realisasi STH turun di bawah LTH, sebuah proses yang disebut kapitulasi akhir. Hingga April 2026, fenomena crossover ini belum terjadi, yang berarti pemegang jangka pendek masih memiliki ruang besar untuk menyerah dan menjual aset mereka. Jika sejarah berulang, pasar mungkin perlu melihat penurunan lebih lanjut untuk membersihkan spekulan jangka pendek sebelum memulai siklus baru yang sehat.

Data menunjukkan adanya percepatan besar dalam penarikan Bitcoin dari dompet bursa ke penyimpanan dingin (cold storage). Pada 21 April 2026, arus keluar bersih mencapai -70.988 BTC, yang biasanya dianggap sebagai sinyal akumulasi bullish oleh para investor besar. Namun, jika dikaitkan dengan struktur gap on-chain yang masih lebar, aksi beli agresif ini justru berpotensi menjadi jebakan bagi mereka yang membeli di harga lokal yang tinggi.
Jika kapitulasi STH benar-benar terjadi, para pembeli yang melakukan akumulasi di harga saat ini mungkin akan mendapati aset mereka menyusut nilainya dalam waktu singkat. Kamu harus waspada karena sinyal akumulasi ini muncul saat keyakinan volume di pasar spot mulai memudar. Situasi ini menciptakan skenario di mana pembeli baru memegang beban berat tepat sebelum struktur harga mengalami pengujian ulang di level bawah.

Terdapat dua level harga krusial yang akan menentukan apakah Bitcoin akan melanjutkan pemulihan atau justru terperosok lebih dalam. Untuk membatalkan skenario jebakan, Bitcoin harus mampu menutup harga harian di atas Rp1.370.852.000 ($79.240) dengan volume yang meyakinkan. Penembusan level tersebut akan mengklaim kembali setengah dari kerusakan pasar sejak Januari dan memicu sentimen positif di seluruh ekosistem cryptocurrency.

Namun, jika level tersebut gagal ditembus, risiko penurunan struktural menuju Rp1.105.151.700 ($63.938) hingga Rp1.047.151.700 ($60.529) kembali terbuka lebar. Penurunan ke wilayah tersebut mewakili risiko kerugian sekitar 22% dari harga saat ini jika gap STH-LTH akhirnya mulai menutup. Di tengah ketidakpastian ini, diversifikasi ke aset crypto lain seperti Ethereum atau Solana mungkin menjadi pertimbangan, namun tetap harus dengan manajemen risiko yang sangat ketat.
Baca Juga: 3 Sinyal Kuat Analis Borong Dogecoin (DOGE) di Rp1.631, Target Harga Meroket di Mei 2026?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi: