Kurs Rupiah Hari Ini 21 Juli 2026: Bergerak di Kisaran Rp17.990/USD

Di-update
July 21, 2026
Bagikan
Gambar Kurs Rupiah Hari Ini 21 Juli 2026: Bergerak di Kisaran Rp17.990/USD

Jakarta, Pintu News – Kurs rupiah hari ini, Selasa (21/7/2026), bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penantian pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026.

Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS, dengan level indikatif di sekitar Rp17.990 pada sesi perdagangan hari ini, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak akhir pekan lalu.

Kurs Rupiah Hari Ini: Bergerak di Kisaran Rp17.990/USD

Berdasarkan data kurs referensi Bank Central Asia (BCA) pada Selasa pagi, kurs e-Rate untuk dolar AS tercatat di level beli Rp17.927 dan jual Rp17.947, sementara kurs TT Counter dan Bank Notes menunjukkan rentang yang lebih lebar yakni beli Rp17.765 dan jual Rp18.040. Dengan demikian, rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs rupiah dalam perdagangan pasar uang antarbank hari ini, Selasa (21/7), bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi ini menempatkan level indikatif rupiah di sekitar Rp17.990 per dolar AS, konsisten dengan pergerakan kurs yang tercermin dalam judul pemberitaan hari ini.

Pergerakan tersebut melanjutkan pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan Senin (20/7) sore, ketika rupiah melemah 27 poin atau 0,15 persen dari akhir pekan lalu menjadi Rp17.948 per dolar AS. Pelemahan itu sendiri merupakan kelanjutan dari pembukaan perdagangan Senin pagi yang sempat melemah lebih dalam, yakni 56 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.977 per dolar AS dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di Rp17.921 per dolar AS.

Eskalasi Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar AS Jadi Sentimen Utama

Pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak lepas dari meningkatnya eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan dimulainya serangkaian serangan baru terhadap Iran, yang bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz sekaligus merespons serangan Garda Revolusi Islam terhadap personel militer AS di Yordania.

Iran kemudian dilaporkan membalas dengan melancarkan serangan drone berskala besar terhadap dua instalasi militer AS di Kuwait, menyasar gudang amunisi di Camp Al Adiri, sistem rudal Patriot, hingga instalasi radar pertahanan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Eskalasi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia, dengan harga minyak mentah Brent tercatat menembus level US$90,31 per barel, serta turut memperkuat indeks dolar AS (DXY) sebagai aset safe haven di tengah gejolak kawasan.

Tumpukan uang kertas dolar Amerika Serikat pecahan 100
Ilustrasi uang kertas dolar AS. Sumber: John Guccione via Pexels / Pexels License

Baca juga: “Kurs Rupiah Hari Ini 20 Juli 2026: Bergerak di Kisaran Rp17.900/USD

Selain faktor geopolitik, potensi The Fed menahan suku bunga acuan lebih lama juga menjadi beban tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa pelemahan rupiah turut dipengaruhi potensi Federal Reserve (The Fed) menahan lebih lama suku bunga tinggi, sehingga ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek masih terbatas selama sikap The Fed belum berubah.

Pasar Menanti Keputusan RDG Bank Indonesia

Selain sentimen eksternal, perhatian pelaku pasar hari ini juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026. BI tercatat telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, dengan kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI turut menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026 untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

Rully Nova menambahkan bahwa pasar memperkirakan BI akan kembali menaikkan BI-Rate menjadi 6 persen dalam RDG kali ini, dengan pertimbangan utama berupa tekanan inflasi, pergerakan nilai rupiah, dan volatilitas pasar saham seiring adanya proses review oleh lembaga pemeringkat global terhadap peringkat utang Indonesia.

Langkah kenaikan suku bunga ini diyakini menjadi bagian dari strategi BI untuk terus menarik arus modal asing masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sekaligus menjaga daya tarik aset domestik di tengah ketidakpastian arah kebijakan The Fed.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->