
Pasar kripto mengalami tekanan koreksi sepanjang minggu lalu (23-29 Maret 2026). Total market cap bergerak di kisaran $2,3T–$2,52T, dengan sentimen Fear & Greed Index berada di zona “Fear” (sekitar 27).
Bitcoin yang masih mendominasi pasar, gagal bertahan di atas $70.000, sementara Ethereum dan Solana menunjukkan pergerakan harga lebih lemah. Faktor utamanya: ketegangan perang AS-Israel-Iran yang memicu lonjakan harga minyak, pelemahan emas yang tak terduga, dan sisa efek hawkish FOMC sebelumnya serta adanya expiry dari option yang terjadi di akhir bulan Maret ini.
Tekanan jual mendominasi sepanjang minggu. BTC berulang kali terdorong kembali ke area $66.000–$68.000 dan ditutup sekitar $66.500–$66.620 pada 29 Maret (penurunan mingguan sekitar 4–7% dari pembukaan mingguan). ETH turun ke kisaran $1.980–$2.004, sementara SOL melemah ke $81,34. Altcoin besar lainnya (XRP dan BNB) juga turun 5–8%. Volume perdagangan tetap tinggi ($50–60 miliar/hari), namun sentimen lebih defensive.
Perang Iran yang meningkatkan harga minyak >$100–105/barel. Per penulisan laporan ini, harga minyak berada di $109 per barel. Namun, pasar kripto menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan dengan saham dan emas, walaupun belum ada katalis bullish baru untuk altseason atau kenaikan kembali.
Konflik AS-Israel-Iran yang berlanjut sejak akhir Februari menjadi penggerak utama volatilitas. Harga minyak melonjak lebih dari 50% dalam sebulan, gas alam sudah naik lebih dari 60% di tahun 2026 ini. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi sehingga banyak investor melakukan risk-off di aset berisiko.
Emas (yang biasanya dianggap sebagai safe haven) justru turun tajam 10–19% sejak pecahnya konflik. Spot gold jatuh dari puncak ~$5.600/oz ke ~$4.200–$4.530/oz. Alasannya: dolar AS menguat, bunga Treasury naik, dan ekspektasi suku bunga Fed yang lebih hawkish membatalkan narasi “flight to safety”.
Kripto bereaksi lebih dinamis. Walaupun BTC sempat jatuh saat serangan awal, pasar kripto kemudian menunjukkan bahwa lebih resilien dengan penurunan yang lebih sedikit dibandingkan dengan emas maupun saham Amerika Serikat. Pada dasarnya, trader memanfaatkan likuiditas 24/7 crypto untuk hedging. Namun secara keseluruhan, BTC/ETH/SOL masih mengalami sell-off bersama saham karena risk appetite menurun.

Bitcoin saat ini mengalami penurunan yang signifikan sejak pertengahan Maret 2026 dan sedang berada di area supportnya sekitar $66.000. Level ini penting bagi Bitcoin, karena jika Bitcoin tidak dapat bertahan di level ini, potensi penurunan bagi Bitcoin akan cukup signifikan, dengan beberapa analis memprediksi Bitcoin dapat mencapai $50.000.
Sentimen bearish juga diperkuat karena Bitcoin saat ini berada di bawah 21 EMA di timeframe 1 harinya.

Secara teknikal, Ethereum memiliki struktur yang mirip dengan Bitcoin, yaitu bearish. Hal ini dikarenakan Ethereum telah membentuk lower high dan berada di bawah 21 EMA timeframe 1 harinya. Keduanya merupakan sinyal bearish.
Level $1.750 menjadi level penting bagi Etherum sebagai support.
Minggu ini fokus pada data makro AS dan Eropa (Good Friday pada 3 April membuat pasar saham tutup di banyak negara). Katalis utama:
Data ketenagakerjaan AS (NFP) menjadi event paling krusial. Ekspektasi ~45.000–60.000 pekerjaan baru. Data lebih kuat dari perkiraan bisa memperkuat USD dan menekan crypto; data lemah membuka peluang rate cut Fed lebih awal. Tidak ada FOMC meeting minggu ini (berikutnya 28–29 April).

Data ETF. Sumber: DefiLlama
Kesimpulan minggu ini: pasar sedang mencari arah di tengah ketidakpastian geopolitik dan makro. Institusi via ETF menjadi penopang utama, sementara retail cenderung defensif. Minggu depan, data NFP AS akan menentukan apakah koreksi berlanjut atau ada rebound teknikal. Trader disarankan fokus pada level support kunci dan kelola risiko ketat.
Bagikan
Lihat Aset di Artikel Ini

Harga BTC (24 Jam)
Kapitalisasi Pasar
-
Volume Global (24 Jam)
-
Suplai yang Beredar
-