
Pola chart merupakan salah satu informasi penting bagi trader untuk mengidentifikasi pergerakan harga dan menentukan area pembukaan posisi. Dalam crypto futures trading, trader dapat memanfaatkan kondisi pasar baik bullish maupun bearish. Ketika pasar berada dalam tren bearish, pola chart downtrend dapat digunakan sebagai acuan untuk membuka posisi short. Dalam artikel ini, kami akan membahas lima pola chart downtrend yang perlu dipahami untuk menentukan posisi short.
Downtrend chart pattern atau pola chart downtrend adalah kumpulan candle stick yang membentuk pola yang dapat diidentifikasi sebagai tanda tren penurunan harga. Pola chart downtrend ini kerap dimanfaatkan oleh futures trader dalam menentukan posisi short. 5 pola chart downtrend yang paling umum adalah Double Top, Head and Shoulders, Descending Triangle, Bearish Flag, dan Bearish Pennant.
Perlu dicatat bahwa pola yang terbentuk dapat memberikan false signal. Oleh karena itu, trader tidak dapat bergantung pada satu pola ini saja sebagai acuan utama dalam menentukan posisi short selling. Manajemen risiko tetap menjadi landasan terpenting dalam pengambilan keputusan trading.
Pada dasarnya, memahami pola chart downtrend merupakan bagian dari analisis teknikal yang dapat membantu trader memperoleh informasi tambahan mengenai kondisi pasar. Oleh karena itu, trader perlu memahami terlebih dahulu konsep dasar analisis teknikal serta cara penerapannya untuk dapat mengidentifikasi pola-pola tersebut dengan tepat.
Baca: Apa Itu Analisis Teknikal dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Double Top adalah pola bearish yang terbentuk ketika harga mengalami dua kali puncak kenaikan dan gagal menembus level resistance yang sama. Pola ini mencerminkan melemahnya momentum beli, yang umumnya ditandai dengan volume transaksi yang lebih rendah pada puncak kedua.
Sementara itu, neckline atau support datar merupakan level terendah yang terbentuk setelah puncak pertama (Top 1). Level neckline berperan penting sebagai area konfirmasi, di mana penembusan harga ke bawah level ini memperkuat validitas pola bearish Double Top.
Gambar di atas menunjukkan contoh pola Double Top yang terkonfirmasi, ditandai dengan penurunan harga yang berlanjut dan penutupan candlestick di bawah neckline setelah harga gagal menembus resistance pada puncak kedua (Top 2).
Pola Double Top dapat dikombinasikan dengan teknik swing trading, di mana pengambilan keputusan untuk membuka posisi short selling didasarkan pada konfirmasi pola di timeframe yang lebih tinggi guna menangkap potensi pergerakan harga dalam jangka menengah hingga panjang. Berikut strateginya:

Head and Shoulders adalah pola bearish yang seolah-olah membentuk “2 pundak dan 1 kepala”. Di mana area swing high atau **puncak pundak kiri dan kanan kurang lebih memiliki tinggi yang sama sedangkan swing high dari bagian kepala lebih tinggi dibandingkan dengan swing high dari pundak kiri dan kanan.
Pola ini memiliki ciri-ciri yang dapat dikenali dengan melihat kedekatan jarak swing high pada puncak pertama (pundak kiri), kedua (kepala), dan ketiga (pundak kanan) yang dapat terkonfirmasi dengan melihat hubungan antara area penurunan harga setelah puncak pertama dan kedua berada di area yang sama, kemudian terjadi penolakan kenaikan harga pada puncak ketiga di area yang kurang lebih sama dengan puncak kenaikan pertama.
Area penurunan harga yang sama itu membentuk sebuah support yang juga bisa disebut sebagai neckline. Neckline menjadi basis bagi trader untuk melihat reaksi harga setelah terjadinya penolakan kenaikan harga di puncak ketiga karena trader dapat mengukur potensi seberapa jauh penurunannya.
Umumnya, pembentukan pola Head and Shoulders membutuhkan waktu lebih lama untuk tervalidasi dibandingkan pola Double Top. Oleh karena itu, pola ini lebih cocok bagi trader yang sabar dan menunggu konfirmasi pola sebelum mengambil keputusan. Berikut strateginya:
Catatan: Tingkat toleransi risiko setiap trade dapat disesuaikan dengan manajemen risiko yang dimiliki. Besaran kerugian yang ditanggung dapat berbeda-beda berdasarkan nilai posisi yang dibuka di perpetual futures. Dengan begitu, kamu perlu mengedepankan manajemen risiko yang dikelola agar terhindar dari kerugian yang besar apabila harga tidak sesuai dengan rencana. Baca: Cara Kelola Risiko Trading Dengan Leverage

Descending Triangle adalah pola konsolidasi harga yang mengindikasikan sinyal bearish. Pola ini memiliki satu sisi datar yang terbentuk sebagai support serta ditandai dengan struktur harga lower high atau puncak harga tertinggi yang semakin rendah dari puncak harga sebelumnya.
Berbeda dengan pola Double Top atau Head and Shoulders yang relatif mudah diidentifikasi secara visual, pola ini membutuhkan ketelitian lebih untuk mengamati serangkaian pemantulan harga dari support datar serta penolakan harga pada setiap kenaikan sebagai konfirmasi pola.
Jika level support datar dan rangkaian lower high dihubungkan dengan garis, maka akan terbentuk pola segitiga menurun. Pola ini dapat dijadikan referensi sinyal bagi trader untuk membuka posisi short selling, karena mengindikasikan kelanjutan tren penurunan, di mana support datar berpotensi ditembus dan garis diagonal berperan sebagai resistance.
Descending Triangle sangat cocok bagi trader yang menggunakan teknik scalping, karena volatilitas yang muncul saat harga melakukan retest pada level support datar maupun resistance diagonal dapat dimanfaatkan untuk mengambil peluang trading jangka pendek. Berikut strateginya:

Bearish Flag merupakan pola yang mengindikasikan kelanjutan tren penurunan dan umumnya terbentuk setelah pergerakan harga turun secara tajam. Pola ini ditandai dengan adanya pantulan harga dan fase konsolidasi sementara, yang mencerminkan jeda sebelum potensi kelanjutan tren turun.
Pola ini dinamakan Bearish Flag karena secara visual menyerupai bentuk “tiang dan bendera”. Tiang (flagpole) merepresentasikan penurunan harga yang tajam sebelumnya, sedangkan bendera (flag) menggambarkan fase konsolidasi harga setelah koreksi tersebut. Pada fase ini, harga cenderung membentuk higher low dan higher high, di mana titik terendah dan tertinggi bergerak lebih tinggi dibandingkan level sebelumnya.
Trader pemula sering kali terkecoh menganggap Bearish Flag sebagai sinyal pemulihan harga. Padahal, validasi pola ini dapat dilihat apabila terjadinya breakdown pada higher low, yang mengindikasikan kelanjutan tren turun.

Bearish Pennant dan Descending Triangle memiliki kemiripan sebagai pola kelanjutan tren penurunan. Perbedaan utama di antara keduanya terletak pada struktur support dan resistance yang membentuk pola tersebut.
Pada Descending Triangle, support cenderung bersifat datar, sementara resistance terbentuk dari rangkaian lower high. Sebaliknya, Bearish Pennant terbentuk dari higher low sebagai support dan lower high sebagai resistance, sehingga membentuk struktur segitiga simetris.
Bearish Pennant umumnya muncul setelah penurunan harga yang tajam. Pembentukan higher low dan lower high pada fase ini mencerminkan konsolidasi sementara setelah koreksi, sebelum harga berpotensi melanjutkan tren penurunan.
Bearish Pennant cocok digunakan dalam teknik scalping, karena fase konsolidasi pada pola ini umumnya berlangsung relatif singkat sebelum harga melanjutkan koreksi. Berikut strateginya:
Setelah mengetahui berbagai macam pola chart downtrend, kamu bisa membuka posisi short seperti BTC, SOL, dan lainnya langsung melalui Pintu Pro Web. Di Pintu Pro Web, kamu bisa langsung trading Futures dan spot!
Cara trading Crypto Futures di Pintu Pro Web:
Selain trading, Pintu juga memungkinkan Anda belajar lebih banyak tentang kripto melalui berbagai artikel di Pintu Academy, diperbarui setiap minggu!
Disclaimer: Semua artikel dari Pintu Academy ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Double Top, Head and Shoulders, Descending Triangle, Bearish Flag, dan Bearish Pennant merupakan pola chart downtrend yang dapat dijadikan referensi tambahan bagi trader dalam menentukan posisi short selling pada futures trading. Penentuan entry, stop loss, dan target profit yang dibahas sebelumnya bertujuan sebagai informasi edukatif, bukan ajakan atau saran untuk melakukan transaksi. Perlu diingat bahwa pola chart yang terbentuk berpotensi menghasilkan false signal, sehingga tidak disarankan menjadikannya sebagai satu-satunya acuan dalam pengambilan keputusan trading. Untuk meningkatkan validitas analisis, trader disarankan melakukan konfirmasi tambahan lain seperti analisis fundamental.
Bagikan