Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) tidak hanya berbeda dalam hal skalabilitas, tetapi kini juga semakin terpisah oleh visi yang saling bersaing mengenai seperti apa seharusnya jaringan blockchain dibangun untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Pernyataan terbaru dari para pendiri masing-masing jaringan menunjukkan adanya dua definisi berbeda tentang “ketahanan” (resilience), yang didasarkan pada asumsi yang berlainan terkait risiko, infrastruktur, dan arah adopsi blockchain ke depan.
Dalam sebuah unggahan di platform X yang membahas kembali Trustless Manifesto Ethereum, salah satu pendirinya, Vitalik Buterin, menggambarkan ketahanan sebagai perlindungan terhadap kegagalan yang bersifat katastropik—termasuk pengucilan politik, runtuhnya infrastruktur, hilangnya pengembang, dan penyitaan aset secara paksa.
Baca juga: Harga Ethereum Turun ke $3.100 Hari Ini (8/1/26): Whale ETH Mulai Optimis?
Buterin menekankan bahwa Ethereum tidak dirancang untuk mengutamakan efisiensi atau kenyamanan, melainkan untuk menjamin agar pengguna tetap memiliki kedaulatan, bahkan dalam kondisi yang tidak bersahabat.
“Ketahanan adalah permainan di mana siapa pun, di mana pun di dunia, dapat mengakses jaringan dan menjadi peserta kelas satu,” tulis Buterin. Ia menambahkan, “Ketahanan adalah kedaulatan.”
Pendiri Solana, Anatoly Yakovenko, menanggapi unggahan Vitalik Buterin di platform X dengan menyebutnya sebagai “visi yang keren,” sambil menawarkan definisi ketahanan yang bertolak belakang.
Bagi Yakovenko, ketahanan justru berasal dari kemampuan untuk menyinkronkan volume informasi yang sangat besar secara global dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah, tanpa harus bergantung pada perantara yang dipercaya. Dalam pandangannya, keandalan tidak bisa dipisahkan dari performa—bukan sesuatu yang harus dipertukarkan secara filosofis.
“Jika dunia bisa mendapatkan manfaat dari jaringan 1gbps dan 10 lelang batch bersamaan dengan latensi 10 milidetik, maka itulah standar minimum yang harus kami hadirkan secara andal di seluruh dunia,” ujarnya.
“Jika standarnya naik menjadi 10gbps dan 100 lelang 1ms, maka itulah yang akan kami wujudkan,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul setelah klaim Buterin pada hari Minggu bahwa Ethereum secara efektif telah memecahkan dilema trilema blockchain—antara desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas—melalui teknologi PeerDAS dan zero-knowledge Ethereum Virtual Machines (zkEVMs), seperti yang dilaporkan oleh Cointelegraph.
Baca juga: Harga Solana Berpotensi Tembus $200 di Januari 2026? Ini Alasannya!
Klaim tersebut memicu sorotan terhadap peta jalan Ethereum dan menimbulkan pertanyaan: apakah ketahanan seharusnya diukur dari aspek redundansi dan kedaulatan, atau dari kecepatan dan daya saing ekonomi?
“Jalur yang dipilih ETH adalah jalur yang kalah: Secara objektif tidak mampu bersaing dalam hal kapasitas dalam batas waktu yang kompetitif, dan juga sama sekali tidak mampu bersaing dalam kecepatan,” tulis Justin Bons, pendiri Cyber Capital, sebagai tanggapan.
Ia berargumen bahwa performa dan realitas ekonomi tidak bisa dianggap sebagai hal yang sekunder.
Pandangan Ethereum tentang ketahanan berakar pada prinsip kehati-hatian arsitektural dan redundansi. Jaringan ini menjalankan klien eksekusi dan konsensus secara independen, serta mendorong keberagaman untuk mengurangi risiko yang dapat menghentikan produksi blok.
Pendekatan ini juga tercermin dalam strategi Ethereum untuk penskalaan. Pada hari Rabu, para pengembang kembali menaikkan batas blob Ethereum untuk kedua kalinya—secara bertahap meningkatkan throughput data sambil tetap mengutamakan kestabilan biaya dan keamanan node.
Alih-alih mendorong kecepatan eksekusi secara agresif, jaringan memilih peningkatan kapasitas yang bertahap guna meminimalkan risiko sistemik.
Sinyal ekonomi turut mendukung pendekatan ketahanan Ethereum. Antrian keluar validator Ethereum hampir menyentuh nol pada awal Januari, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan validator untuk mengunci modal dalam jangka panjang. Hal ini dipandang sebagai tanda kepercayaan terhadap keamanan jangka panjang dan arah pengembangan Ethereum.
Sementara itu, Solana menempatkan performa sebagai kunci dari ketahanan. Pernyataan Yakovenko menunjukkan bahwa blockchain Solana akan fokus pada kemampuan menangani pasar waktu nyata, lelang, dan pembayaran secara andal.
Sejarah Solana mencerminkan pendekatan ini. Meski jaringan ini sempat mengalami gangguan besar di masa lalu, Solana terus memperkuat infrastrukturnya melalui peningkatan protokol, pasar biaya (fee markets), dan perbaikan jaringan lainnya.
Kedua pendekatan memiliki komprominya masing-masing. Klaim ketahanan Ethereum yang ambisius sangat bergantung pada implementasi teknologi masa depan seperti zkEVM dan proposer-builder separation, yang hingga kini belum teruji di skala mainnet.
Justin Bons berpendapat bahwa desain-desain ini justru bisa memunculkan tekanan sentralisasi baru, dengan mengalihkan kekuasaan ke para builder khusus yang membutuhkan modal besar. Jika lapisan ini gagal, bisa timbul risiko liveness atau kelangsungan jaringan.
Perilaku institusi juga memberikan perspektif lain soal ketahanan. Ethereum tetap menjadi lapisan penyelesaian (settlement layer) dominan untuk stablecoin dan surat utang (tokenized treasuries), mencerminkan preferensi terhadap prediktabilitas dan profil risiko yang konservatif.
Sebaliknya, Solana menunjukkan percepatan adopsi institusional dalam kasus penggunaan yang sensitif terhadap performa. Aset dunia nyata (Real-World Assets/RWA) yang ditokenisasi di jaringan Solana mencapai rekor tertinggi pada akhir 2025, sementara ETF spot Solana dan eksperimen pembayaran untuk perusahaan semakin diminati.
Jika dilihat secara keseluruhan, perbedaan ini menunjukkan bahwa Ethereum dan Solana menempuh jalur yang berbeda dalam mendefinisikan ketahanan.
Ethereum mengutamakan kemampuan bertahan hidup (survivability), meskipun harus mengorbankan kecepatan.
Sebaliknya, Solana memprioritaskan kelayakan ekonomi dalam permintaan waktu nyata, meskipun hal ini menuntut koordinasi yang lebih ketat.
Itu dia informasi terkini seputar crypto. Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita crypto terkini seputar project crypto dan teknologi blockchain. Temukan juga panduan belajar crypto dari nol dengan pembahasan lengkap melalui Pintu Academy dan selalu up-to-date dengan pasar crypto terkini seperti harga bitcoin hari ini, harga coin xrp hari ini, dogecoin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli crypto memiliki risiko dan volatilitas tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.