Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, kini menghadapi tekanan besar pada profitabilitas penambangan di tengah penurunan harga dan biaya operasional yang tinggi. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada penambang, tetapi juga menimbulkan implikasi pada pasar crypto secara keseluruhan. Berikut rangkuman tujuh fakta kunci yang penting dipahami baik oleh investor berpengalaman maupun pemula.
Profitabilitas penambangan Bitcoin kini menyentuh level terendah dalam 14 bulan terakhir menurut data CryptoQuant. Indeks profitabilitas penambang turun drastis, mencerminkan pendapatan miner yang sangat tertekan. Penurunan ini berkaitan langsung dengan penurunan harga Bitcoin yang signifikan baru-baru ini.
Bagi investor cryptocurrency, penurunan profitabilitas berarti tekanan struktural pada industri mining. Ketika pendapatan menurun, beberapa miner mungkin kesulitan menutup biaya operasional. Efek lanjutan bisa memengaruhi supply dan keamanan jaringan dalam jangka menengah.
Baca Juga: 7 Fakta Mengejutkan Bitcoin & Crypto di Epstein Files: Jejak Awal Crypto Terungkap!
Karena harga BTC turun, banyak mesin penambang khusus (ASIC) kini beroperasi hampir di titik impas. Beberapa model populer seperti Antminer S19 XP+ Hydro maupun WhatsMiner M60S tidak menghasilkan keuntungan jika harga BTC tetap di bawah level tertentu.
Harga shutdown adalah tingkat di mana biaya listrik dan pemeliharaan sama atau lebih tinggi dari pendapatan yang dihasilkan. Ketika banyak rig mencapai titik ini, operator menghadapi keputusan sulit: menjual aset mereka atau menghentikan operasi.

Model penambang terbaru seperti Antminer S21 memiliki harga shutdown dalam kisaran sekitar US$69.000 hingga US$74.000 per BTC. Jika harga Bitcoin di bawah rentang ini, sebagian besar miner tidak memperoleh profit.
Konversi ke Rupiah dengan nilai 1 USD = Rp16.771 berarti shutdown terjadi sekitar Rp1,16 miliar sampai Rp1,24 miliar per BTC. Hal ini menjadi tekanan besar mengingat biaya listrik dan kebutuhan modal tetap tinggi.
Hash rate Bitcoin mengalami penurunan selama beberapa periode terakhir, yang menandakan bahwa beberapa miner mungkin telah keluar atau mengurangi operasi. Penurunan hash rate mengindikasikan jaringan mengalami penurunan total daya komputasi yang mampu diproses.
Hash rate yang menurun juga menunjukkan bahwa pendapatan miner semakin tipis karena persaingan dalam memperoleh blok semakin sengit. Hal ini bisa membuat jaringan lebih rentan terhadap fluktuasi dalam jangka pendek.
Beberapa penambang juga menghadapi gangguan eksternal seperti badai musim dingin di Amerika Serikat yang memengaruhi operasi dan infrastruktur. Gangguan ini memperburuk kondisi profitabilitas karena biaya perbaikan dan downtime meningkat.
Investor crypto perlu memahami bahwa faktor di luar pasar bisa berdampak nyata pada ekonomi penambangan. Ini mencerminkan kompleksitas yang dihadapi oleh industri yang sering dianggap hanya bergantung pada harga aset itu sendiri.
Ketika operasi menjadi tidak menguntungkan, beberapa penambang bisa memilih untuk menjual cadangan Bitcoin mereka demi menutup biaya tetap. Penjualan ini berpotensi menambah tekanan jual di pasar.
Pergerakan semacam ini dapat memperdalam penurunan harga jika volume penjualan besar terjadi pada periode volatilitas tinggi. Investor perlu memantau tren supply miner sebagai salah satu indikator pasar.
Tekanan profitabilitas ini mencerminkan kondisi pasar yang lebih luas, yang menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini diperdagangkan di bawah tekanan jual yang kuat. Miner yang mengalami kesulitan finansial sering menjadi bagian dari dinamika harga yang lebih besar.
Bagi komunitas cryptocurrency, memahami tekanan mining membantu dalam menilai risiko jangka panjang terhadap keamanan jaringan dan dinamika harga. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis; ia mengandung implikasi fundamental pada pasar aset digital.
Baca Juga: 4 Fakta Mengejutkan Bitcoin Tembus Rp1,42 Miliar: Mirip Sinyal Teknis BTC April 2025!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.