
Jakarta, Pintu News – Bank investasi besar JPMorgan menyatakan bahwa dari sudut pandang jangka panjang, Bitcoin kini tampak lebih menarik sebagai aset investasi dibandingkan emas, meski harga kripto terus bergejolak.
Pendapat ini muncul di tengah tekanan makro global dan sentimen bearish di pasar cryptocurrency, namun memberi perspektif berbeda terhadap peran Bitcoin sebagai instrumen investasi jangka panjang. Berikut penjelasan tujuh poin penting untuk dipahami oleh investor pemula maupun berpengalaman.
JPMorgan, melalui analis kuantitatifnya, memberikan pernyataan yang cukup kontrarian terhadap pandangan tradisional bahwa emas merupakan aset tuan rumah investasi jangka panjang. Menurut mereka, meski Bitcoin mengalami tekanan harga dalam beberapa waktu terakhir, secara risiko-teradjustasi aset kripto ini kini menunjukkan nilai yang lebih menarik daripada emas. Penilaian ini berdasarkan perubahan rasio volatilitas antara Bitcoin dan emas, yang kini berada pada level terendah yang pernah tercatat.
Pandangan ini muncul karena emas telah berkinerja lebih baik dibanding Bitcoin sejak Oktober 2025, sementara volatilitas emas juga meningkat tajam. Konsensus internal JPMorgan menyatakan bahwa dinamika tersebut membuat Bitcoin tampak lebih kompetitif dalam konteks investasi jangka panjang.
Baca Juga: 5 Crypto yang Dilirik Whale pada Februari 2026, Akumulasi Diam-Diam di Tengah Volatilitas

Salah satu alasan JPMorgan menyebut Bitcoin lebih menarik adalah rasio volatilitas kedua aset tersebut. Bitcoin memiliki volatilitas yang besar, tetapi dibandingkan emas, rasio volatilitas Bitcoin terhadap emas telah turun ke level yang dianggap lebih baik dari sebelumnya. Ini berarti secara risiko-teradjustasi, Bitcoin bisa memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi jika volatilitasnya menurun atau stabil ke depan.
Rasio volatilitas adalah ukuran penting karena membantu menilai potensi keuntungan relatif terhadap risiko yang diambil investor dalam jangka panjang. Volatilitas yang lebih rendah terhadap emas membuat Bitcoin tampak kurang berisiko dari sudut pandang risiko relatif dibanding sebelumnya.
JPMorgan juga menggarisbawahi bahwa harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di bawah estimasi biaya produksi rata-rata — sekitar US$87.000 — yang dianggap sebagai “soft price floor” atau batas bawah yang sering menjadi area support historis. Ketika harga turun di bawah biaya produksi, profitabilitas penambangan menurun, membuat beberapa penambang menutup operasinya.
Namun, dari perspektif investasi jangka panjang, posisi harga saat ini dapat dianggap undervalued menurut strategi risiko-teradjustasi yang dianalisis oleh JPMorgan. Kondisi ini mencerminkan potensi pembalikan nilai jika faktor fundamental mendukung tren jangka panjang.
JPMorgan menyebut bahwa untuk menyamai tingkat investasi sektor swasta pada emas, kapitalisasi pasar Bitcoin perlu tumbuh ke level yang setara dengan harga sekitar US$266.000 per BTC dalam jangka panjang. Target ini memperhitungkan perbandingan antara market cap Bitcoin dan alokasi modal di sektor emas oleh institusi global.
Meskipun target ini terlihat sangat ambisius dalam jangka pendek, pandangan ini mencerminkan potensi pertumbuhan jangka panjang Bitcoin jika terus mendapatkan adopsi yang lebih luas dan integrasi dalam portofolio investasi institusional.

Emas telah menunjukkan kenaikan yang kuat dalam beberapa bulan terakhir, memperlihatkan kemampuan safe-haven asset yang kuat di tengah pasar global bergejolak. Namun, lonjakan volatilitas emas juga memberi tekanan tersendiri pada persepsi investor terhadap peran emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.
Kendati demikian, emas tetap menjadi aset yang sangat penting dalam diversifikasi portofolio, terutama di saat investor mencari keamanan terhadap gejolak ekonomi global dan inflasi.
JPMorgan juga mengakui bahwa pasar crypto menghadapi sejumlah tantangan dalam jangka pendek, termasuk koreksi harga yang kuat dan tekanan makro ekonomi. Aksi jual dan sentimen bearish telah membuat aliran modal ke dalam cryptocurrency melemah, termasuk penurunan partisipasi investor retail dan institusional.
Meskipun risiko jangka pendek tetap ada, bank menilai dinamika tersebut bukan indikasi keluar massal dari pasar crypto, melainkan respons alami terhadap kontraksi kapitalisasi pasar total.
Pandangan JPMorgan ini memberikan perspektif baru bagi investor crypto dan pasar yang lebih luas bahwa Bitcoin mungkin layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi jangka panjang. Meskipun volatilitas dan risiko tetap tinggi, potensi imbal hasil jangka panjang berdasarkan rasio risiko-teradjustasi dapat menarik bagi investor yang memahami dinamika risiko tersebut.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hari dalam mengevaluasi kondisi pasar dan menyusun alokasi aset yang sesuai dengan toleransi risiko pribadi, mengingat pergerakan jangka pendek di pasar crypto bisa sangat dinamis dan tidak menentu.
Baca Juga: 3 Crypto Underrated Bulan Februari 2026 yang Mulai Dilirik Investor, Bukan Sekadar Hype!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.