Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Negara kecil di Asia Selatan, Bhutan, menjadi sorotan pasar cryptocurrency setelah melakukan serangkaian transfer besar Bitcoin (BTC) dari dompet negara mereka senilai total sekitar US$22,4 juta (sekitar Rp380 miliar) dalam seminggu terakhir.
Transaksi tersebut memicu diskusi luas tentang bagaimana strategi aset digital negara berkembang ketika pasar crypto global menghadapi tekanan besar dan portofolio mereka mengalami penurunan tajam.

Dalam beberapa hari terakhir, Bhutan mengalihkan 184 BTC (~US$14 juta) dan 100,82 BTC (~US$8,3 juta) dari dompet milik pemerintah mereka ke alamat yang terkait dengan lembaga market maker institusional seperti QCP Capital. Transfer ini terjadi setelah periode ketenangan yang relatif panjang di dompet kripto negara tersebut. Langkah ini menarik perhatian karena nilai Bitcoin yang dipindahkan bukan jumlah kecil dan terjadi di tengah pasar yang lemah.
Transaksi ini menunjukkan bahwa Bhutan sedang melakukan tindakan aktif terhadap cadangan digitalnya, walaupun belum jelas apakah ini berarti penjualan langsung atau strategi lainnya. Aktivitas semacam ini sering dilihat sebagai sinyal bahwa negara mempertimbangkan likuiditas atau penyesuaian portofolio.
Baca Juga: 5 Crypto yang Dilirik Whale pada Februari 2026, Akumulasi Diam-Diam di Tengah Volatilitas
Data terbaru mengungkapkan bahwa portofolio aset kripto Bhutan telah turun lebih dari 70 % dari puncaknya sekitar US$1,4 miliar menjadi sekitar US$412 juta saat ini. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi penjualan berkala oleh pemerintah dan depresiasi harga Bitcoin di pasar global.
Penurunan portofolio sebesar ini mencerminkan betapa sensitifnya aset digital seperti Bitcoin terhadap kondisi pasar yang volatile. Bagi investor global, ini menjadi contoh nyata risiko ketika investasi besar dipegang oleh entitas non-tradisional seperti negara.
Bhutan memulai operasi penambangan Bitcoin sejak 2019 dengan memanfaatkan energi hidroelektrik yang melimpah dan murah. Pendekatan ini memungkinkan negara tersebut mengumpulkan aset BTC secara besar-besaran dan sempat menjadikan Bhutan salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Selama fase awal mining, kegiatan ini sangat menguntungkan karena biaya energi rendah dibanding harga Bitcoin yang tinggi. Namun, hal ini berubah setelah peristiwa halving Bitcoin pada 2024, yang meningkatkan biaya penambangan per BTC secara dramatis.
Setelah halving pada 2024, reward per blok Bitcoin berkurang, yang berarti biaya efektif untuk menambang satu BTC melonjak hampir dua kali lipat. Kondisi ini membuat beberapa operasi mining Bhutan menjadi kurang efisien dan mendorong negara untuk menyeimbangkan antara mining dan realisasi keuntungan atas aset yang sudah dihasilkan.
Akibatnya, Bhutan mengurangi volume mining aktif dan lebih fokus pada penjualan cadangan yang sudah dimiliki daripada terus menambah aset baru.
Analis mencatat bahwa pendekatan penjualan Bitcoin Bhutan cenderung dilakukan dalam jumlah yang terukur, bukan dump besar ke pasar spot yang dapat memicu gejolak harga. Transfer ke market maker institusional seperti QCP Capital memungkinkan blok besar diproses lebih halus tanpa memengaruhi harga Bitcoin secara drastis.
Strategi ini mirip dengan pendekatan “block trade” di pasar modal tradisional, di mana penjualan besar diatur melalui lembaga yang dapat menanggulangi likuiditas pasar.
Pergerakan Bitcoin dalam jumlah besar yang terekam dari dompet negara sering menjadi sinyal yang diperhatikan oleh pasar crypto global. Banyak trader melihatnya sebagai indikator potensi tekanan jual, yang dapat memperkuat sentimen bearish terutama ketika pasar tengah lemah.
Namun, tanpa bukti langsung tentang deposit Bitcoin besar ke bursa spot yang mengarah ke penjualan massal, beberapa analis menyarankan bahwa ini bisa sekadar reorganisasi portofolio atau persiapan transaksi lain.
Kasus Bhutan menunjukkan bahwa negara dapat bersikap aktif dan fleksibel dalam mengelola aset kripto sebagai bagian dari cadangan nasional. Berbeda dari investor individu, negara biasanya punya akses ke strategi yang lebih kompleks termasuk alokasi antara holding jangka panjang dan penjualan terukur.
Investor di pasar crypto dapat melihat ini sebagai pelajaran penting tentang bagaimana aktor besar memposisikan diri dalam siklus pasar, dan mengapa pemahaman tentang on-chain data dan konteks makro menjadi kunci sebelum membuat keputusan investasi besar.
Baca Juga: 3 Crypto Underrated Bulan Februari 2026 yang Mulai Dilirik Investor, Bukan Sekadar Hype!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
BeInCrypto. Bhutan Sold $22.4M in Bitcoin Amid Portfolio Decline of Over 70%. Diakses tanggal 6 Februari 2026.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.