Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Bank investasi global JPMorgan mengeluarkan prediksi bullish terhadap Bitcoin (BTC), memperkirakan bahwa harga BTC dapat mencapai US$266.000 pada 2026 jika beberapa kondisi struktural terpenuhi.
Proyeksi ini memicu perdebatan di kalangan investor cryptocurrency karena angka tersebut hampir 5 kali lipat dari harga BTC saat ini. JPMorgan mendasarkan pandangannya pada dinamika permintaan institusional, efektivitas mekanisme pasokan BTC, serta peran BTC sebagai aset digital penyimpan nilai.
JPMorgan menilai bahwa pertumbuhan permintaan institusional adalah faktor utama dalam proyeksi jangka panjang untuk Bitcoin (BTC). Institusi besar—seperti hedge fund, perusahaan publik, dan dana pensiun—semakin mengakui BTC sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Permintaan ini diperkirakan akan meningkat terutama jika produk investasi terstruktur seperti ETF Bitcoin terus berkembang.
Pergeseran minat institusional juga mencerminkan kepercayaan terhadap peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai digital mirip emas. Jika tren ini berlanjut, tekanan permintaan institusional bisa menciptakan tekanan harga yang signifikan.
Baca Juga: 7 Crypto yang Jadi Sorotan Jelang Imlek 2026, Momentum Musiman atau Sekadar Tren?
Bitcoin memiliki mekanisme pasokan yang jelas, dengan batas maksimal 21 juta koin dan halving yang terjadi setiap empat tahun. JPMorgan menekankan bahwa keterbatasan pasokan ini menjadi dasar struktural bagi potensi apresiasi harga. Dalam kondisi di mana permintaan melebihi pasokan baru yang masuk ke pasar, harga berpotensi naik secara bertahap. (AmbCrypto)
Faktor penguncian pasokan ini semakin diperkuat oleh tren HODL (holding jangka panjang) dari pemegang BTC besar. Kepemilikan jangka panjang yang tinggi dipandang memperkecil pasokan efektif yang tersedia untuk transaksi aktif, sehingga bisa menambah tekanan kenaikan harga jika permintaan tetap kuat.

JPMorgan menunjukkan bahwa adopsi Bitcoin sebagai aset digital di tingkat global terus berkembang, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Beberapa negara bahkan telah mengintegrasikan Bitcoin ke dalam kerangka regulasi atau sistem pembayaran, memperkuat legitimasi aset ini. Perluasan infrastruktur dan regulasi yang jelas dapat mendorong partisipasi investor dan pengguna baru.
Adopsi ini mencakup penggunaan komersial, investasi institusional, hingga inovasi produk keuangan berbasis Bitcoin yang lebih luas. Dengan semakin banyaknya lembaga yang mengintegrasikan BTC dalam strategi bisnis mereka, tekanan permintaan jangka panjang diperkirakan meningkat.
JPMorgan juga menghubungkan proyeksi Bitcoin dengan konteks makroekonomi global, termasuk potensi tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang longgar. Dalam skenario di mana investor mencari aset diversifikasi terhadap risiko nilai tukar dan inflasi, Bitcoin kadang dilihat sebagai “aset lindung nilai digital”. Tren ini dapat semakin menarik modal investor dari sektor tradisional ke pasar crypto.
Sentimen makro seperti ini bukanlah faktor teknikal semata tetapi mencerminkan interaksi antara pasar modal dan keadaan ekonomi global yang lebih luas. Jika persepsi terhadap risiko makro tetap tinggi, permintaan BTC dapat meningkat sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi.
Menurut JPMorgan, integrasi infrastruktur keuangan tradisional dengan ekosistem crypto akan semakin mempercepat akses investor besar ke Bitcoin. Produk seperti ETF, layanan custodial institusional, dan integrasi blockchain ke layanan perbankan utama memungkinkan institusi untuk memperoleh eksposur ke BTC tanpa harus langsung memegang koin itu sendiri.
Kemudahan akses ini adalah elemen penting dalam memperluas basis investor BTC, terutama bagi entitas yang tunduk pada persyaratan kepatuhan tinggi. Infrastruktur keuangan yang lebih matang juga membantu mengurangi hambatan adopsi bagi investor konservatif.
Meskipun proyeksi bullish JPMorgan menarik, bank tersebut juga mengakui bahwa harga Bitcoin masih rentan terhadap volatilitas tinggi. Pergerakan harga BTC dapat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan regulasi di berbagai yurisdiksi, sentimen pasar global, serta dinamika pasar derivatif. Hal ini berarti bahwa scenario US$266.000 bukanlah sebuah kepastian, melainkan proyeksi yang bergantung pada kombinasi faktor struktural dan pasar.
Investor perlu memahami bahwa volatilitas tinggi bisa memperbesar potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian dalam jangka pendek. Ketidakpastian regulasi juga tetap menjadi hambatan utama dalam adopsi luas aset crypto di beberapa negara.
Proyeksi JPMorgan memberikan gambaran tentang bagaimana dinamika permintaan institusional, keterbatasan pasokan, dan perubahan makroekonomi dapat mempengaruhi harga Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang. Bagi investor cryptocurrency, scenario ini menawarkan wawasan penting tentang potensi arah pasar, meskipun tetap harus menggabungkan analisis risiko yang tepat.
Investor pemula maupun institusional disarankan untuk mempertimbangkan manajemen risiko, diversifikasi portofolio, serta pemahaman yang matang terhadap volatilitas pasar sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang dalam BTC.
Baca Juga: 6 Perbedaan Emas Digital Berbasis Crypto vs Emas Digital Biasa, Mana Lebih Relevan di 2026?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.