
Kripto sebagai alat pembayaran semakin menunjukkan tren pertumbuhan popularitas secara global. Penggunaan kripto dinilai memudahkan transaksi karena dapat dilakukan secara langsung tanpa melalui proses yang kompleks. Meskipun di Indonesia kripto belum diperbolehkan sebagai alat pembayaran yang sah, adopsi teknologi pendukung pembayaran berbasis kripto terus berkembang secara global, salah satunya melalui penggunaan crypto card.
Dalam artikel ini, kami akan membahas pengertian crypto card, cara kerjanya, perannya dalam adopsi, serta berbagai jenis crypto card yang tersedia.

Berdasarkan data dari Artemis, penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran terus mengalami pertumbuhan sejak 2023 di berbagai segmen. Pada Agustus 2025, pembayaran stablecoin terbesar tercatat pada segmen B2B (Business-to-Business) dengan nilai transaksi mencapai USD 6,4 miliar. Sementara itu, segmen pembayaran berbasis kartu (card) mencatat nilai transaksi sebesar USD 1,6 miliar pada periode yang sama.
Jika dibandingkan dengan berbagai penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran, segmen crypto card menjadi yang paling relevan dalam membuka pintu akses bagi masyarakat umum. Melalui use case ini, kripto tidak lagi dipandang semata sebagai instrumen investasi atau trading, karena kegunaannya bisa sejalan dalam kehidupan sehari-hari.

Crypto card adalah kartu elektronik pembayaran kripto yang berfungsi seperti kartu debit atau kredit konvensional. Berbeda dengan kartu debit atau kredit yang umumnya diterbitkan oleh bank, crypto card yang beredar saat ini umumnya diterbitkan oleh platform pertukaran kripto, proyek Web3 yang berfokus pada model bisnis ini, maupun non-custodial wallet.
Penggunaan kartu bisa mencakup berbagai hal seperti melakukan transaksi point-of-sale (POS) di merchant secara real-time, pembayaran online, hingga melakukan penarikan aset kripto ke mata uang fiat secara tunai melalui ATM.
Inovasi ini menghadirkan pengalaman pembayaran yang seamless. Dalam prosesnya, merchant atau toko tidak menerima aset kripto secara langsung, melainkan transaksi akan dikonversi secara otomatis terlebih dahulu ke mata uang lokal sesuai dengan wilayah penggunaan kartu kripto.
Selain menghadirkan kemudahan bertransaksi, kartu kripto juga menawarkan beragam fitur yang menjadi daya tarik bagi pengguna, mulai dari integrasi dengan wallet kripto, pengelolaan transaksi, hingga integrasi dengan Apple Pay dan Google Pay.
Kartu pembayaran kripto memiliki mekanisme kerja yang dapat berbeda tergantung pada penyedia atau infrastruktur kartunya. Namun, secara umum, terdapat dua pihak utama yang terlibat dalam proses :
Perannya mencakup pengecekan saldo, konfigurasi kartu, custody, konversi aset kripto ke mata uang lokal secara real-time pada saat digunakan di merchant, tampilan riwayat transaksi, serta pengaturan biaya transaksi.
Visa dan Mastercard, berperan melakukan otorisasi transaksi, clearing dan settlement agar memungkinkan kartu kripto dapat digunakan di seluruh jaringan merchant yang mendukung keduanya. Umumnya, kartu kripto bekerja sama dengan kedua jaringan pembayaran ini.
Secara umum, cara kerja crypto card meliputi tahapan berikut:
Penggunaan kartu kripto yang terhubung dengan jaringan Visa dan Mastercard umumnya mengharuskan pengguna menjalani proses KYC (Know Your Customer) dan harus mematuhi regulasi yang berlaku di setiap negara.

Cara kerja yang dijelaskan pada bagian sebelumnya merupakan contoh crypto debit card. Selain itu, terdapat beberapa jenis kartu lain yang umum digunakan, antara lain:
Crypto debit card adalah jenis kartu pembayaran crypto yang paling umum dan mudah digunakan karena memiliki skema direct pay, yaitu konversi aset kripto ke mata uang lokal yang dilakukan secara langsung dan otomatis saat transaksi pembayaran. Contoh crypto debit card:
KAST adalah crypto debit card berbasis Visa yang mendukung stablecoin seperti USDC, USDT, dan USDe sebagai aset kripto utama. Kartu ini memiliki batas penarikan tunai di ATM hingga USD 20.000 per hari. Selain itu, tidak ada biaya tahunan untuk kartu regular tetapi tergantung tier kartu.
Cypher menawarkan beragam pilihan aset kripto yang dapat dijadikan aset utama untuk pembayaran di merchant yang mendukung Visa. Selain itu, mereka menyediakan virtual card yang memudahkan pengguna dalam mengelola dan menggunakan aset kripto untuk transaksi, dengan proses pembuatan kartu yang gratis tanpa biaya.
Untuk pengiriman kartu fisik, mereka membebankan biaya pengiriman sebesar USD 50 untuk kartu standar, sementara kartu premium tidak dikenakan biaya. Dari sisi biaya transaksi, Cypher membebankan biaya foreign exchange (FX) sekitar 1,75% serta biaya penarikan tunai di ATM sebesar 3%.

MetaMask menghadirkan kartu pembayaran berbasis Mastercard sekaligus platform self-custody untuk menyimpan dan mengelola aset kripto.
Ketersediaan MetaMask Card bergantung pada regulasi di masing-masing negara. Saat ini, jaringan yang didukung meliputi Linea, Solana, dan Base. Token yang dapat digunakan antara lain mUSD, USDC, USDT, wETH (wrapped Ether), EURe, GBPe, aUSDC, aBasUSDC, dan amUSD. Untuk penarikan tunai di ATM, dikenakan biaya transaksi sebesar 2%. Sementara itu, limit transaksi harian bervariasi tergantung jenis kartu, dengan batas untuk kartu reguler mencapai USD 15.000 per hari.
Crypto credit card merupakan inovasi dalam ekosistem crypto card yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran tanpa harus menukar atau menjual aset kripto yang dimiliki.
Ether.fi Cash menyediakan kartu debit dan kredit dalam satu aplikasi dengan alur pinjaman berbasis jaminan. Pengguna dapat menjaminkan stablecoin maupun aset kripto seperti ETH dan BTC.
Pemilik kartu akan memperoleh limit kredit berdasarkan nilai jaminan yang disimpan dan dapat menggunakan kredit tersebut tanpa adanya tanggal jatuh tempo (cut-off date). Artinya, pemilik kartu memiliki fleksibilitas untuk melunasi kredit kapan saja sesuai kebutuhan.
Bunga kredit tahunan yang dikenakan sebesar 4%. Sebagai contoh, jika pengguna memanfaatkan kredit sebesar USD 100 dan tidak melakukan pembayaran selama hampir satu tahun, maka total hutang yang harus dibayar di akhir tahun tersebut menjadi USD 104.

Ether.fi Cash merupakan penyedia kartu yang paling mendominasi dari sisi spend volume atau volume pembelanjaan sepanjang 2025. Tingginya penggunaan pada kedua platform ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari struktur biaya transaksi hingga kelengkapan fitur yang ditawarkan.
Keduanya juga mengusung antarmuka (UI) yang mudah dipahami, serta menyediakan berbagai program insentif untuk menarik pengguna, seperti cashback dan reward. Selain itu, integrasi dengan ekosistem DeFi membuka potensi bagi pengguna untuk memperoleh passive income. Sebagai pemimpin dari sisi volume, Ether.fi Cash menawarkan mode debit dan kredit yang dapat digunakan oleh seluruh pemilik kartu tanpa persyaratan khusus, sehingga memberikan fleksibilitas lebih dalam penggunaan sehari-hari.
Stablecoin seperti USDC dan USDT menjadi pilihan paling umum sebagai aset utama dalam kartu kripto. Keunggulannya terletak pada kestabilan harga dibandingkan aset kripto lain, sehingga pengguna tidak perlu khawatir terhadap volatilitas saat bertransaksi yang bisa berdampak pada tingginya spread harga.
Visa dan Mastercard turut berperan dalam mendukung perkembangan kartu kripto. Data Artemis Analytics menunjukkan bahwa stablecoin-linked kartu kripto di jaringan Visa mengalami lonjakan pertumbuhan year-over-year hingga ratusan persen, dengan estimasi sekitar 460%.

Mayoritas negara masih didominasi penggunaan USDT, namun India dan Argentina menjadi pengecualian karena adopsi USDC di kedua negara tersebut relatif berimbang dibandingkan USDT. Selain itu, negara-negara dengan inflasi tinggi seperti Argentina, Turki, dan Nigeria juga menunjukkan tingkat adopsi stablecoin yang menonjol.
Secara realistis, penerimaan aset kripto sebagai alat pembayaran langsung di banyak negara masih menghadapi tantangan besar. Selain keterbatasan regulasi yang berbeda di setiap negara, tingkat pemahaman masyarakat umum ataupun merchant terhadap kripto juga belum merata.
Melalui kartu kripto, hambatan tersebut dapat direduksi karena pengguna dapat bertransaksi layaknya menggunakan kartu pembayaran konvensional, tanpa mengharuskan merchant memahami atau menerima aset kripto secara langsung.
Namun, pendekatan ini tetap memberikan keleluasaan bagi pemilik aset kripto untuk menggunakannya tanpa harus berinteraksi langsung dengan mata uang fiat. Dari sisi ideologis, mekanisme ini selaras dengan tujuan awal diciptakannya kripto sebagai alternatif sistem keuangan tradisional, meskipun dalam praktiknya masih menghadapi berbagai tantangan seperti regulasi.
Keunggulan kartu kripto terletak pada fleksibilitas penggunaan aset kripto secara global melalui jaringan pembayaran seperti Visa dan Mastercard. Kemudahan pengelolaan aset kripto memberi kenyamanan bertransaksi, termasuk pembayaran FnB bagi traveler tanpa penukaran uang manual.
Sementara itu, kartu debit biasa lebih kuat digunakan untuk kebutuhan transaksi domestik atau lokal. Selama digunakan di negara yang sama dengan penerbit, kartu debit lebih efisien karena tanpa konversi mata uang dan biaya tambahan.
Ayo download aplikasi kripto Pintu di Play Store dan App Store! Keamananmu terjamin karena Pintu diregulasi dan diawasi oleh Bappebti dan Kominfo.
Selain melakukan transaksi, di aplikasi Pintu, kamu juga bisa belajar crypto lebih lanjut melalui berbagai artikel Pintu Academy yang diperbarui setiap minggunya!
Disclaimer: Semua artikel dari Pintu Academy ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Meskipun crypto card berbasis Visa atau Mastercard dapat digunakan secara global di merchant jaringan yang mendukungnya, secara regulasi Indonesia belum memperbolehkan penggunaan alat pembayaran selain Rupiah. Oleh karena itu, penggunaan crypto card di setiap negara tetap bergantung pada kebijakan penerbit kartu serta regulasi yang berlaku di masing-masing yurisdiksi.
Penyedia kartu pada umumnya mendukung stablecoin seperti USDT atau USDC sebagai aset utama untuk pembayaran kartu karena nilainya relatif stabil dan memudahkan proses konversi ke mata uang lokal saat transaksi.
Biaya konversi aset kripto ke mata uang lokal sangat bervariasi ada yang mulai dari 0,5%. Selain itu, terdapat spread dari proses konversi.
Jawabannya, bisa. Pemilik crypto card memiliki fasilitas untuk melakukan penarikan tunai di ATM.
Cashback sangat bervariasi mulai dari 3% sampai 10%, bergantung pada penyedia kartu dan program yang dimiliki.
Bagikan