Project Crypto Anti-Quantum yang Perlu Dipantau

Update 23 Jun 2026 • Waktu Baca 8 Menit
Gambar Project Crypto Anti-Quantum yang Perlu Dipantau
Reading Time: 8 minutes

Pada Maret 2026, Google mempublikasikan riset yang mengubah kalkulasi keamanan crypto, untuk membobol Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) yang dipakai Bitcoin, dibutuhkan sekitar 1.200 logical qubit, bukan 4.000 seperti estimasi sebelumnya. Sekitar 6,9 juta BTC (32% dari total pasokan beredar) tersimpan di dompet yang public keynya sudah terekspos di blockchain, tepat di titik kerentanan yang bisa dieksploitasi komputer quantum. Sebagian besar jaringan crypto belum punya solusi di mainnet, tapi beberapa project sudah membangun post-quantum cryptography (PQC) dari awal. Artikel ini membahas project-project yang dianggap sudah memiliki teknologi anti-quantum.

Ringkasan Artikel

  • 🔑 Komputer quantum bisa membobol ECDSA (sistem tanda tangan digital Bitcoin dan Ethereum) jika mencapai sekitar 1.200 logical qubit.
  • ⚠️ Sekitar 6,9 juta BTC berada di dompet dengan public key terekspos, sehingga rentan terhadap serangan quantum.
  • 🛡️ NIST menetapkan empat standar PQC resmi pada 2024: Dilithium, Falcon-1024, SPHINCS+, dan XMSS.
  • 🔗 Bitcoin dan Ethereum sedang mengerjakan migrasi PQC, tapi belum ada implementasi di mainnet.
  • ✅ Algorand , Hedera , Starknet , dan Succinct adalah project-project yang sudah memiliki fitur anti-quantum atau dalam pengembangan lebih lanjut.

Pengungkapan Ancaman Quantum Dari Riset Google

Pada 31 Maret 2026, Ryan Babbush dan Hartmut Neven dari Google Quantum AI menerbitkan paper dengan estimasi terbaru kebutuhan sumber daya quantum untuk membobol kriptografi kurva eliptik Bitcoin. Dua rangkaian sirkuit yang mereka kompilasi bisa membobol ECDSA, satu dengan kurang dari 1.200 logical qubit (90 juta Toffoli gate) dan satu lagi dengan kurang dari 1.450 logical qubit (70 juta Toffoli gate), keduanya menggunakan kurang dari 500.000 physical qubit dalam hitungan menit, sekitar 20 kali lebih efisien dari estimasi sebelumnya.

Google menerbitkan sebuah zero-knowledge proof yang memungkinkan siapa pun memverifikasi klaim tersebut tanpa mendapat detail sirkuit yang bisa disalahgunakan. Google menargetkan migrasi penuh ke post-quantum cryptography pada 2029, berkolaborasi dengan Coinbase, Stanford Institute for Blockchain Research, dan Ethereum Foundation untuk mendorong transisi ini.

Rekomendasi utama yang ditekankan Google dalam paper tersebut adalah hindari penggunaan ulang alamat dompet yang public key-nya sudah pernah terekspos di blockchain.

Bagaimana Komputer Quantum Dapat Membahayakan Crypto

Sebagian besar jaringan blockchain menggunakan ECDSA untuk mengotentikasi transaksi. ECDSA bekerja berdasarkan masalah matematika yang sulit dipecahkan komputer klasik, yaitu memfaktorkan kurva eliptik. Komputer quantum menggunakan Shor’s algorithm untuk menyelesaikan masalah ini secara drastis lebih cepat, sehingga bisa menurunkan private key dari public key yang sudah terekspos.

Yang membuat ancaman ini tidak bisa diabaikan adalah model “harvest now, decrypt later”, artinya data transaksi on-chain bisa dikumpulkan hari ini, lalu didekripsi saat mesin quantum yang cukup kuat sudah tersedia.

Mesin quantum terbaik saat ini masih berada di kisaran 100 logical qubit, jauh di bawah standar yang dapat menyerang sistem tersebut.

Dalam penyalahgunaan quantum, ancaman ditujukan kepada sistem tanda tangan (ECDSA) daripada ke proses mining. Algoritma Grover yang digunakan untuk menyerang SHA-256 (basis mining Bitcoin) hanya memberikan percepatan kuadrat, bukan secara drastis, sehingga tidak meruntuhkan proses mining secara tiba-tiba.

Pada 24 April 2026, peneliti Giancarlo Lelli membobol kunci ECC 15-bit menggunakan hardware quantum publik, memenangkan 1 BTC dari Q-Day Prize Project Eleven. Rekor sebelumnya hanya 6-bit, meningkat 512 kali lipat dalam tujuh bulan. Bitcoin masih jauh dari ancaman langsung (kunci 256-bit), tapi laju ini mempersempit jendela waktu migrasi.

Standar Internasional untuk Kriptografi Post-Quantum

National Institute of Standards and Technology (NIST), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang menetapkan standar teknologi global, menerbitkan empat algoritma PQC resmi pada Agustus 2024:

  • ML-DSA (CRYSTALS-Dilithium): tanda tangan digital berbasis kisi (lattice-based), dirancang untuk mayoritas use case.
  • Falcon-1024: tanda tangan berbasis kisi berukuran lebih kecil, efisien untuk sistem dengan batasan bandwidth
  • SLH-DSA (SPHINCS+): tanda tangan berbasis fungsi hash, terbukti aman secara matematis.
  • XMSS: tanda tangan berbasis hash tree, direkomendasikan untuk aplikasi jangka panjang.

Keempat algoritma ini menjadi tolak ukur utama komunitas crypto untuk menilai seberapa andal klaim anti-quantum sebuah project.

Bitcoin dan Ethereum: Penyesuaian Anti-Quantum yang Sedang Dikerjakan

Pada aset seperti Bitcoin dan Ethereum belum anti-quantum hari ini, tetapi keduanya sedang aktif mengerjakan jalur migrasi untuk mengantisipasi perkembangan quantum.

Bitcoin: BIP-360

Bitcoin Improvement Proposal (BIP) 360, dikenal sebagai Pay-to-Merkle-Root (P2MR), menyembunyikan public key di dalam Merkle tree dan baru mengungkapkannya saat transaksi dieksekusi. Ini mempersulit serangan quantum yang membutuhkan public key sebagai titik masuk penyerangan. Per Juni 2026, BIP-360 sudah berjalan di testnet dengan partisipasi lebih dari 50 penambang dan melampaui 100.000 blok pada tahap uji coba.

Ethereum: Strawmap Post-Quantum

Vitalik Buterin mempublikasikan peta jalan post-quantum Ethereum pada Februari 2026. Ada empat area yang perlu dimigrasi:

  1. Tanda tangan BLS di lapisan konsensus proof-of-stake.
  2. Commitment KZG untuk ketersediaan data rollup.
  3. ECDSA untuk dompet EOA (Externally Owned Account) pengguna.
  4. Sistem zero-knowledge proof.

EIP-8141 diajukan untuk hard fork Hegotá yang ditargetkan rampung pada paruh kedua 2026. Lebih dari 10 tim klien Ethereum sudah menjalankan devnet mingguan untuk PQC, dengan target penyelesaian penuh sekitar 2029 per pq.ethereum.org.

Project Crypto yang Diklaim Sudah Anti-Quantum

Berikut ini adalah proyek-proyek kripto yang dan sudah mengimplementasikan atau sedang secara aktif mengembangkan PQC.

1. Algorand (ALGO)

Sumber: Algorand Blog

Algorand adalah L1 blockchain dengan menggunakan mekanisme Pure Proof-of-Stake, diciptakan oleh Silvio Micali, profesor MIT dan pemenang Turing Award.

Algorand mengeksekusi transaksi post-quantum pertama di mainnet menggunakan Falcon-1024, tanda tangan berbasis kisi yang disetujui NIST. Diintegrasikan sebagai opcode native falcon verify di AVM v12 tanpa hard fork dengan state proof berbasis Falcon yang juga sudah mengamankan rantai setiap 256 blok.

Keunggulan:

  • Implementasi mainnet pertama di jaringan smart contract besar dengan standar NIST Level 5.
  • Backward compatible, tidak ada perpindahan paksa untuk pengguna lama.
  • Verifikasi tanda tangan di bawah 100 milidetik per transaksi.

Kekurangan:

  • Ukuran tanda tangan Falcon-1024 sekitar 1.280 byte (20x lebih besar dari ECDSA).
  • Lapisan konsensus dan VRF masih menggunakan Ed25519 (rentan quantum).
  • Fitur masih dalam tahap eksperimental untuk pengguna umum.

Pelajari lebih lanjut mengenai Algorand di Pintu Academy: Apa itu Algorand (ALGO)?

2. Hedera (HBAR)

Sumber: X.com/@hedera

Hedera adalah jaringan berbasis hashgraph (struktur Directed Acyclic Graph/DAG). Dikelola oleh Hedera Governing Council yang beranggotakan Google, IBM, dan Boeing.

Hedera menggunakan SHA-384 sebagai fungsi hash utama, memberikan 192-bit security level bahkan terhadap serangan quantum karena Grover’s algorithm hanya memberi percepatan kuadratik. Pada Desember 2024, Hedera bermitra dengan SEALSQ untuk mengembangkan chip semikonduktor QS7001 yang quantum-resistant, dirancang mengamankan perangkat IoT di jaringan Hedera.

Keunggulan:

  • SHA-384 sudah tahan quantum untuk fungsi hashing dan integritas data.
  • Arsitektur modular memungkinkan upgrade kriptografi tanpa perubahan disruptif ke jaringan.
  • Tata kelola enterprise-grade oleh perusahaan raksasa.

Kekurangan:

  • Penandatanganan akun pengguna masih menggunakan ECDSA (rentan terhadap Shor’s algorithm).
  • Chip QS7001 masih dalam fase pengembangan, belum berjalan live di produksi.
  • Kemitraan SEALSQ berfokus pada perangkat IoT, bukan protokol Hedera itu sendiri.

3. Starknet (STRK)

Sumber: Google Quantum AI

Starknet adalah ZK-rollup Layer 2 di atas Ethereum yang dikembangkan oleh StarkWare, menggunakan STARK proof (Scalable Transparent Argument of Knowledge) untuk memvalidasi transaksi secara kriptografis.

STARK proof berbasis fungsi hash, bukan kurva eliptik, sehingga tidak terpapar serangan Shor’s algorithm. Starknet sedang bermigrasi dari hash Pedersen ke Poseidon yang lebih tahan quantum. Native account abstraction menjadikan seluruh dompet sebagai smart contract, sehingga upgrade protokol otomatis diimplementasi oleh semua dompet.

Keunggulan:

  • Sistem pembuktian natively tahan quantum.
  • Account abstraction mempermudah migrasi kriptografi ke depan.
  • Peningkatan throughput 100x dari generasi sebelumnya dengan Stwo prover.

Kekurangan:

  • Penandatanganan akun masih menggunakan Starknet Curve (ECDSA-equivalent, belum anti-quantum).
  • Saat ini, settlement layer di Ethereum juga belum anti-quantum.
  • Migrasi penuh ke PQC masih berlangsung.

4. Succinct (PROVE)

Sumber: Google Quantum AI

Succinct adalah proyek infrastruktur zero-knowledge yang mengembangkan SP1, sebuah zkVM (zero-knowledge virtual machine) yang menghasilkan bukti ZK untuk program yang dikompilasi ke arsitektur RISC-V. Berbeda dari ALGO, HBAR, atau STRK, Succinct beroperasi sebagai lapisan infrastruktur pembuktian terdesentralisasi di ekosistem Ethereum.

SP1 menggunakan sistem bukti berbasis hash, bukan kurva eliptik, sehingga lapisan pembuktian ini tidak rentan terhadap Shor’s algorithm. SP1 Hypercube membuktikan blok Ethereum rata-rata dalam waktu 10,3 detik, dengan 93% blok selesai secara real-time menggunakan 200 GPU. Succinct juga bekerja sama dengan Ethereum L2 seperti Base dalam mengintegrasikan teknologi SP1 pada Mei 2026.

Keunggulan:

  • Lapisan pembuktian berbasis hash, tidak bergantung pada kurva eliptik yang rentan quantum.
  • Digunakan di produksi oleh jaringan besar (Base dan Ethereum).
  • Open-source (MIT dan Apache 2.0), didukung Paradigm.

Kekurangan:

  • Bukan L1/L2 dan tidak punya ekosistem pengguna langsung.
  • Quantum resistance ada di lapisan bukti, belum mencakup penandatanganan transaksi pengguna.

Baca juga: Apa itu Succinct (PROVE)?

Faktor yang Perlu Dipahami

Ancaman komputer quantum memang nyata, tetapi tidak ada kepastian kapan mesin yang cukup kuat akan tersedia. Estimasi dari para peneliti bervariasi antara 5 hingga 15 tahun. Project anti-quantum yang ada saat ini masih tergolong awal dan perlu dibuktikan secara konkret terhadap ketahanan quantum.

Berikut faktor penting yang perlu diperhatikan:

  • Volatilitas dan adopsi: project anti-quantum rata-rata memiliki market cap lebih kecil dari Bitcoin atau Ethereum, dengan basis pengguna yang masih berkembang.
  • Standar terus berkembang: NIST bisa merevisi atau menambah standar PQC seiring perkembangan riset.
  • Kompetisi dari jaringan besar: jika Ethereum berhasil menyelesaikan migrasi PQC pada 2029, daya tarik project khusus anti-quantum bisa berkurang.

Kesimpulan

Meski komputer quantum belum bisa membobol Bitcoin atau Ethereum, tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa ambang batasnya lebih rendah dari yang diperkirakan, dan sebagian besar jaringan crypto belum punya solusi yang diproduksi di mainnet untuk mengantisipasi hal ini. Bitcoin sedang mengerjakan BIP-360, Ethereum menyiapkan hard fork Hegotá, Algorand sudah menerapkan standar NIST di mainnet, dan Succinct menyediakan infrastruktur pembuktian berbasis hash yang sudah digunakan oleh Google. Pemahaman tentang ancaman komputer quantum terhadap crypto akan semakin relevan dalam beberapa tahun ke depan, seiring perkembangan quantum computing yang terus berlanjut.

Disclaimer: Semua informasi yang ditampilkan dalam artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi, rekomendasi, ajakan untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu, maupun dasar pengambilan keputusan finansial. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, tujuan investasi, dan toleransi risiko masing-masing.

FAQ

Apa itu komputer quantum dan kenapa berbahaya bagi crypto?

Komputer quantum adalah mesin yang menggunakan prinsip mekanika quantum untuk memproses informasi jauh lebih cepat dari komputer biasa untuk jenis masalah tertentu. Bahayanya bagi crypto adalah algoritma bernama Shor’s algorithm yang bisa memecahkan ECDSA, sistem tanda tangan yang dipakai Bitcoin dan Ethereum, sehingga berpotensi dapat mencuri aset dari dompet yang public keynya sudah terekspos.

Apakah Bitcoin bisa diretas komputer quantum sekarang?

Belum. Mesin quantum terkuat saat ini masih di kisaran 100 logical qubit, sedangkan dibutuhkan sekitar 1.200 logical qubit untuk membobol ECDSA Bitcoin. Ancaman ini bisa menjadi nyata dalam beberapa tahun ke depan jika perkembangan quantum computing terus berlanjut.

Apa itu post-quantum cryptography?

Post-quantum cryptography (PQC) adalah kriptografi yang dirancang tahan terhadap serangan komputer quantum. NIST menetapkan empat standar resmi pada 2024 yaitu Dilithium, Falcon-1024, SPHINCS+, dan XMSS. Algoritma ini menggunakan matematika berbasis masalah kisi (lattice) atau fungsi hash, yang tidak bisa dipercepat secara signifikan oleh komputer quantum.

Apakah aman berinvestasi di project crypto anti-quantum?

Tidak ada jaminan. Algorand sudah memiliki implementasi teknis yang terverifikasi di mainnet dengan standar NIST. Hedera dan Starknet masih dalam proses migrasi penuh ke PQC. Succinct (PROVE) menyediakan infrastruktur pembuktian berbasis hash yang sudah dipakai Base dan Ethereum. Keempatnya tersedia di Pintu. Risiko volatilitas tetap lebih tinggi dari Bitcoin atau Ethereum, jadi lakukan riset sendiri sebelum berinvestasi.

Referensi

  1. NIST Computer Security Resource Center, “Post-Quantum Cryptography Standards“, NIST, diakses pada 18 Juni 2026.
  2. Larkin Young, “Technical Brief: Quantum-resistant transactions on Algorand with Falcon signatures“, Algorand Foundation, diakses pada 18 Juni 2026.
  3. Ethereum Foundation, “Post-Quantum Ethereum Roadmap“, pq.ethereum.org, diakses pada 18 Juni 2026.
  4. StarkWare, “Quantum computing is coming. What does it mean for Starknet?“, StarkWare Blog, diakses pada 18 Juni 2026.
  5. Project Eleven, “Project Eleven Awards 1 BTC Q-Day Prize for Largest Quantum Attack on Elliptic Curve Cryptography to Date“, PR Newswire, diakses pada 18 Juni 2026.
  6. Ryan Babbush dan Hartmut Neven, “Safeguarding cryptocurrency by disclosing quantum vulnerabilities responsibly“, Google Research, diakses pada 19 Juni 2026.
  7. James Hunt, “Succinct introduces zkVM ‘SP1 Hypercube,’ claims real-time Ethereum proving“, The Block, diakses pada 19 Juni 2026.

Bagikan

Lihat Aset di Artikel Ini

ALGO
->
HBAR
->
STRK
->
PROVE
->

Harga ALGO (24 Jam)

Rp 0

Kapitalisasi Pasar

-

Volume Global (24 Jam)

-

Suplai yang Beredar

-