Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Bitcoin (BTC) kerap diposisikan sebagai aset masa depan yang tahan sensor dan kebal krisis. Namun, dalam praktik pasar, Bitcoin sering menjadi aset yang paling cepat dilepas ketika ketidakpastian meningkat. Pola ini terlihat saat eskalasi ketegangan geopolitik menyusul ancaman tarif oleh Donald Trump terhadap sekutu NATO terkait Greenland serta spekulasi potensi aktivitas militer di kawasan Arktik.
Sejak 18 Januari, ketika wacana tarif pertama kali mencuat sebagai bagian dari upaya akuisisi Greenland, Bitcoin (BTC) tercatat turun sekitar 6,6 persen. Pada periode yang sama, emas justru menguat sekitar 8,6 persen dan mendekati rekor baru di kisaran US$5.000 atau sekitar Rp83,8 juta dengan asumsi kurs USD/IDR Rp16.763. Perbedaan kinerja ini menegaskan peran yang kontras antara kedua aset dalam portofolio saat pasar berada di bawah tekanan.
Karakteristik Bitcoin yang diperdagangkan 24 jam, likuiditas tinggi, serta penyelesaian transaksi yang cepat membuatnya mudah dikonversi menjadi kas. Dalam kondisi panik, fitur ini justru mendorong aksi jual cepat. Emas, meski kurang likuid dan tidak selalu mudah diakses, cenderung dipertahankan oleh pemiliknya, sehingga lebih konsisten berfungsi sebagai aset lindung nilai.
Baca Juga: Prediksi Harga Perak 2026–2030, Bagaimana Nasibnya 5 Tahun ke Depan?

Greg Cipolaro, Kepala Riset Global NYDIG, menyoroti bahwa pada fase stres dan ketidakpastian, preferensi likuiditas menjadi faktor dominan. Dinamika ini secara struktural lebih merugikan Bitcoin dibandingkan emas. Meskipun relatif likuid untuk ukurannya, Bitcoin tetap memiliki volatilitas tinggi dan sering dijual saat pelaku pasar melunasi leverage.
Dalam lingkungan yang menghindari risiko, Bitcoin kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan kas, menurunkan value at risk (VaR), dan mengurangi eksposur portofolio. Proses ini berlangsung terlepas dari narasi jangka panjang Bitcoin sebagai “emas digital”. Sebaliknya, emas justru berfungsi sebagai penyerap likuiditas yang stabil, memperkuat reputasinya sebagai aset pelindung nilai.
Bank sentral global tercatat membeli emas pada level historis, menciptakan permintaan struktural yang kuat dan berkelanjutan. Kondisi ini berlawanan dengan dinamika di pasar Bitcoin, di mana pemegang jangka panjang justru tercatat melakukan distribusi, sebagaimana disorot dalam laporan NYDIG. Data on-chain menunjukkan pergerakan koin lama menuju bursa, mengindikasikan tekanan jual yang konsisten.
Kelebihan pasokan dari sisi penjual ini melemahkan dukungan harga Bitcoin dalam jangka pendek. Pada saat yang sama, akumulasi emas oleh institusi besar—terutama bank sentral—memperkuat posisinya sebagai aset yang lebih dipercaya dalam menghadapi ketidakpastian pasar saat ini.
Bitcoin (BTC) berpotensi relevan sebagai lindung nilai terhadap risiko jangka panjang seperti inflasi struktural, depresiasi mata uang, atau krisis utang negara. Namun, untuk risiko jangka pendek yang dipicu oleh tarif, ketidakpastian kebijakan, dan guncangan geopolitik sementara, emas masih menjadi pilihan utama. Selama pasar memandang risiko tersebut signifikan tetapi belum bersifat sistemik, emas cenderung tetap unggul sebagai aset pelindung nilai.
Baca Juga: 3 Mata Uang Kripto yang Siap Bangkit Kembali di Tahun 2026
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.