Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah gagal menembus level psikologis $69.000. Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan, sejumlah indikator teknikal dan data on-chain justru mengisyaratkan adanya tekanan jual yang masih mendominasi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Bitcoin (BTC) berpotensi mengalami koreksi lebih dalam dalam waktu dekat. Bagaimana prospek pergerakan harga selanjutnya dan faktor apa saja yang membatasi laju kenaikan Bitcoin (BTC)?

Struktur pasar Bitcoin (BTC) saat ini memperlihatkan kecenderungan bearish yang cukup kuat. Salah satu indikator utama yang memperkuat pandangan ini adalah Buy/Sell Pressure Delta, yang menunjukkan dominasi aktivitas penjualan dibandingkan pembelian. Ketika Sell Delta berada di zona negatif atau merah, hal ini menandakan volume jual yang lebih besar daripada volume beli, sehingga harga cenderung tertahan. Sampai indikator ini bergerak ke level netral atau positif, tekanan turun diperkirakan masih akan berlanjut.
Joao Wedson, pendiri Alphractal, menegaskan bahwa meskipun terjadi rebound jangka pendek, absennya konfirmasi dari Buy Delta akan membuat reli tersebut sulit bertahan lama. Menurutnya, selama tekanan jual tetap dominan, harga Bitcoin (BTC) berpotensi turun lebih jauh dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan jika terjadi lonjakan harga ke level $72.000, $74.000, atau $75.000, tanpa dukungan volume beli yang kuat, reli tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pasar masih dikuasai oleh para pelaku bearish.
Baca Juga: Elon Musk Tentang Silver: 5 Fakta, Opini, dan Dampaknya ke Harga Logam Mulia

Selain tekanan jual, Bitcoin (BTC) juga menghadapi hambatan tambahan berupa zona likuidasi yang padat di sekitar level $69.000. Data dari Alphractal menunjukkan adanya klaster likuidasi signifikan di area tersebut, yang berpotensi menjadi penghalang kuat bagi kenaikan harga dalam jangka pendek. Zona likuidasi biasanya merupakan area di mana banyak posisi leverage dapat terpaksa ditutup, sehingga meningkatkan volatilitas pasar. Ketika harga mendekati zona ini, sering kali terjadi lonjakan volume akibat aksi likuidasi massal.
Di sisi lain, data dari CoinGlass mengungkapkan bahwa momentum di pasar derivatif mulai melemah. Volume perdagangan Futures tercatat turun 48% menjadi $31.970.000.000, sementara volume Options anjlok hingga 59% ke kisaran $992.000.000. Penurunan volume yang tajam di tengah kenaikan harga yang moderat menandakan bahwa reli yang terjadi tidak didukung oleh keyakinan kuat dari pelaku pasar. Jika harga Bitcoin (BTC) menembus zona likuidasi $69.000, potensi penolakan tajam semakin besar dan dapat memicu tekanan jual lanjutan.

Di tengah stagnasi harga, data on-chain menunjukkan adanya proses redistribusi kepemilikan Bitcoin (BTC) yang sedang berlangsung. Fenomena ini tercermin dari penurunan porsi kepemilikan oleh wallet besar, sementara wallet kecil justru mengalami peningkatan akumulasi. Network Distribution Factors (NFD) mencatat bahwa persentase kepemilikan oleh 0,01% wallet teratas terus menurun, menandakan distribusi dari entitas besar ke investor ritel. Proses ini biasanya terjadi setelah siklus bullish yang panjang, di mana pemegang besar mulai mengurangi eksposur mereka.
Redistribusi semacam ini sering kali menjadi fase transisi sebelum pasar menemukan keseimbangan baru. Selama proses rebalancing ini belum selesai, tekanan harga cenderung tetap terjaga dan potensi breakout masih terbatas. Investor ritel yang melakukan akumulasi secara bertahap dapat menjadi fondasi bagi reli berikutnya, namun dibutuhkan waktu hingga distribusi benar-benar stabil. Sampai saat itu, Bitcoin (BTC) kemungkinan masih akan bergerak dalam rentang harga yang sempit.
Secara keseluruhan, Bitcoin (BTC) saat ini menghadapi berbagai tantangan yang membatasi potensi kenaikan harga dalam jangka pendek. Tekanan jual yang masih dominan, zona likuidasi yang padat, serta proses redistribusi kepemilikan menjadi faktor utama yang menahan laju bullish. Meskipun terdapat peluang rebound, reli yang terjadi kemungkinan besar hanya bersifat sementara tanpa dukungan volume beli yang signifikan. Sampai sentimen pasar benar-benar berubah, Bitcoin (BTC) diperkirakan masih akan bergerak dalam pola konsolidasi dengan risiko koreksi yang tetap terbuka.
Baca Juga: Cara Bermain Bitcoin di HP untuk Pemula di 2026
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.