Bank AS Tahan Rugi Tak Terealisasi Rp5.161 Triliun, “Problem Banks” Naik!

Di-update
March 3, 2026
Bagikan

Jakarta, Pintu News – Industri perbankan Amerika Serikat kembali disorot setelah FDIC melaporkan kerugian tak terealisasi (unrealized losses) yang masih besar pada portofolio sekuritas bank. Meski nilainya turun dibanding kuartal sebelumnya, indikator “problem banks” justru bertambah, sementara laba tahunan industri pecah rekor. Kontras ini penting kamu pahami karena tekanan di sektor bank kerap memengaruhi selera risiko investor, termasuk ke aset crypto dan cryptocurrency.

1. Unrealized Losses US$306,1 Miliar: Masih Tinggi Meski Turun

FDIC melaporkan kerugian tak terealisasi pada sekuritas bank-bank AS sebesar US$306,1 miliar, atau sekitar Rp5.161.152.100.000.000 (kurs 1 USD = Rp16.861). Kerugian tak terealisasi adalah selisih antara harga beli sekuritas dan nilai pasar saat ini, yang belum “menjadi nyata” karena asetnya belum dijual. Artinya, angka ini bisa tetap menjadi risiko jika bank membutuhkan likuiditas dan terpaksa menjual sekuritas di harga yang lebih rendah.

Penurunannya tercatat US$31 miliar (sekitar Rp522.691.000.000.000) atau 9,2% dibanding kuartal sebelumnya. FDIC menilai penurunan ini sebagai level terendah sejak kuartal I 2022, tetapi nominalnya masih cukup besar untuk tetap jadi perhatian. Dalam praktiknya, unrealized losses biasanya paling sensitif terhadap pergerakan suku bunga karena harga obligasi cenderung turun ketika yield naik.

Baca Juga: 5 Hal Penting Mengenai Gold Bullion, Instrumen Safe Haven Paling Solid Selain Crypto!

2. Kenapa Kerugian “Belum Terealisasi” Tetap Bisa Berbahaya?

debat kongres terkait cbdc amerika
Sumber: Computer World

Secara akuntansi, unrealized losses tidak selalu langsung menggerus laba jika bank tidak menjual asetnya. Namun, risikonya muncul ketika terjadi tekanan pendanaan, misalnya arus keluar deposito, sehingga bank perlu melepas sekuritas untuk mendapatkan kas. Pada titik ini, kerugian yang sebelumnya “di atas kertas” dapat berubah menjadi kerugian realisasi dan menekan modal.

Dari sisi stabilitas sistem, tekanan likuiditas yang menyebar bisa membuat pasar menilai ulang kesehatan bank. Dalam fase seperti ini, investor cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, yang dapat berdampak pada volatilitas di pasar cryptocurrency. Karena itu, pembacaan data bank AS sering menjadi konteks tambahan untuk memahami dinamika risk-on/risk-off global.

3. “Problem Banks” Naik Jadi 60: Apa Artinya bagi Kamu?

FDIC menambahkan tiga bank ke dalam daftar bank bermasalah pada kuartal IV 2025, sehingga totalnya menjadi 60 bank. Angka ini setara sekitar 1,4% dari seluruh bank di AS dan masih berada dalam rentang “normal” untuk periode non-krisis, yaitu sekitar 1%–2%. Meski demikian, kenaikan tetap menjadi sinyal bahwa tekanan belum sepenuhnya mereda.

Bank yang masuk daftar bermasalah umumnya memiliki peringkat pengawasan rendah (sering dikaitkan dengan penilaian CAMELS). Indikasinya dapat mencakup kelemahan permodalan, kualitas aset, manajemen, profitabilitas, likuiditas, atau sensitivitas terhadap risiko pasar. Buat kamu yang memantau pasar, indikator semacam ini lebih tepat dibaca sebagai “lampu kuning” ketimbang alarm krisis otomatis.

4. Tidak Ada Bank Gagal di Kuartal IV 2025, Tapi Pengawasan Tetap Relevan

FDIC mencatat tidak ada kegagalan bank pada kuartal IV 2025 dan hanya ada satu bank baru yang dibuka. Ini memberi sinyal bahwa, secara operasional, sistem masih terkendali meski ada tekanan pada valuasi sekuritas. Namun, stabilitas kuartalan tidak menghapus risiko struktural yang bisa muncul ketika suku bunga bertahan tinggi atau biaya pendanaan meningkat.

Dalam konteks kebijakan, pengawasan dan manajemen risiko menjadi krusial karena shock likuiditas cenderung muncul cepat. Pasar biasanya tidak menunggu sampai kerugian benar-benar terealisasi untuk bereaksi, sehingga transparansi dan mitigasi risiko sering memengaruhi sentimen. Dampaknya bisa merembet ke berbagai kelas aset, termasuk crypto dan cryptocurrency, melalui perubahan ekspektasi risiko.

5. Laba Industri Bank AS Rekor US$295,6 Miliar: Kok Bisa?

Di tengah tekanan unrealized losses, FDIC melaporkan laba industri perbankan AS sepanjang 2025 mencapai US$295,6 miliar, atau sekitar Rp4.984.111.600.000.000, naik sekitar 10,2% dibanding 2024. Kinerja laba ini didorong pendapatan bunga bersih dan pendapatan non-bunga yang mampu mengimbangi kenaikan beban non-bunga. Secara sederhana, banyak bank masih menghasilkan uang dari bisnis inti, walaupun nilai pasar sekuritasnya tertekan.

Kontras antara laba rekor dan unrealized losses yang masih tinggi menunjukkan dua realitas yang berjalan bersamaan. Profitabilitas yang kuat dapat menjadi bantalan, tetapi tidak selalu menghilangkan risiko jika terjadi tekanan pendanaan mendadak. Untuk investor pemula, poin pentingnya adalah memahami bahwa “laba besar” tidak otomatis berarti “risiko nol,” terutama ketika pasar obligasi dan suku bunga masih dinamis.

Baca Juga: 5 Keunggulan Deposito Emas Pegadaian

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Topik

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.

pintu-icon-banner

Trading di Pintu

Beli & investasi crypto jadi mudah

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8
pintu-icon-banner

Trading di Pintu

Beli & investasi crypto jadi mudah

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8