Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kini memasuki babak baru yang berpotensi memicu krisis energi global. Konflik yang semakin memanas ini telah membuat Presiden AS, Donald Trump, mengambil sikap keras terhadap Iran, bahkan menyatakan siap berperang dalam waktu yang lama. Di tengah narasi penuh gejolak ini, dunia kini dihadapkan pada ancaman melonjaknya harga minyak dan gas jika konflik terus berlanjut. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi titik kritis yang dapat mengguncang pasar energi internasional secara signifikan.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar energi. Selat ini merupakan jalur vital bagi ekspor minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada harga minyak dan gas. Menurut analis Bob McNally, jika penutupan berlangsung selama beberapa hari saja, harga minyak mentah bisa melonjak hingga $100 per barel, sementara harga gas dapat mencapai $4 per galon.
Sebagai perbandingan, harga minyak saat ini telah naik ke level $77 sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran semakin intensif. Kenaikan harga minyak di atas $100 terakhir kali terjadi saat Rusia menyerang Ukraina pada tahun 2022. Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, lonjakan harga bisa jauh melampaui prediksi awal. Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian global, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak.
Baca Juga: Portofolio Crypto Donald Trump Anjlok 94%: Rugi Rp181,92 Miliar dalam Setahun, Ini 6 Pelajarannya

Di tengah ancaman penutupan Selat Hormuz, Presiden Donald Trump mengambil langkah tegas dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal tanker minyak yang melintasi kawasan tersebut. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memastikan kelancaran arus energi dunia, apapun yang terjadi. Pernyataan ini menegaskan kekuatan ekonomi dan militer AS dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.
Langkah ini diharapkan dapat meredam kepanikan pasar dan memberikan rasa aman bagi negara-negara pengimpor minyak. Namun, tindakan ini juga berpotensi memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko bentrokan militer di kawasan. Ketegangan antara Iran dan AS bisa semakin memanas jika kedua belah pihak terus mempertahankan sikap keras. Di sisi lain, negara-negara konsumen minyak harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika jalur distribusi energi utama tetap terganggu. Upaya diplomasi dan negosiasi menjadi sangat penting untuk mencegah krisis berkepanjangan.
Dampak penutupan Selat Hormuz sudah mulai terasa di berbagai negara, terutama yang memiliki cadangan minyak terbatas. India, misalnya, saat ini hanya memiliki persediaan minyak mentah untuk 25 hari ke depan. Pemerintah India pun mulai mencari sumber alternatif untuk mengimpor minyak mentah, LPG, dan LNG guna mengantisipasi kelangkaan pasokan. Meski demikian, pemerintah India menegaskan belum ada rencana menaikkan harga bensin dan solar dalam waktu dekat.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya negara-negara pengimpor minyak terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, krisis pasokan bisa semakin parah dan memicu lonjakan harga di pasar domestik. Negara-negara lain pun mulai memperkuat cadangan energi dan menjajaki kerja sama dengan pemasok alternatif. Ketidakpastian ini juga berdampak pada sektor lain, termasuk pasar keuangan dan mata uang kripto seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Ripple (XRP) yang kerap mengalami volatilitas saat terjadi krisis global.
Krisis di Selat Hormuz telah menempatkan dunia pada posisi yang sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dan gas. Langkah-langkah militer dan kebijakan keras hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan memperburuk situasi. Negara-negara pengimpor minyak harus segera mencari solusi jangka panjang untuk mengamankan pasokan energi. Diplomasi dan kerja sama internasional menjadi kunci utama untuk mencegah krisis energi global yang lebih besar.
Baca Juga: Lonjakan Penarikan Crypto 700% di Iran: Bitcoin Jadi Jalur Pelarian Finansial Saat Krisis
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.