Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pasar crypto setelah indikator teknikal penting menunjukkan sinyal yang mengingatkan pada kondisi pasar bearish tahun 2022. Dalam beberapa minggu terakhir, Bitcoin gagal mempertahankan kenaikan harga di atas level $74.000 atau sekitar Rp1,25 miliar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan analis cryptocurrency bahwa pasar bisa memasuki fase penurunan yang lebih dalam.
Seorang analis pasar crypto sekaligus Chartered Market Technician, Tony Severino, mengungkapkan bahwa indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) pada grafik dua mingguan Bitcoin menunjukkan momentum bearish yang meningkat. MACD merupakan indikator teknikal yang digunakan untuk mengukur arah tren dan kekuatan momentum pergerakan harga.
Dalam kondisi saat ini, histogram MACD menunjukkan ekspansi batang negatif yang berada di bawah garis nol. Hal ini menandakan bahwa momentum penurunan semakin kuat dan dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual di pasar cryptocurrency sedang meningkat.
Menurut Severino, pola ini bahkan mendekati kondisi yang terakhir kali terlihat pada tahun 2022 sebelum runtuhnya ekosistem Terra (LUNA), yang memicu salah satu crypto winter terbesar dalam sejarah industri.
Baca Juga: Prediksi Gila! Bitcoin Bisa Tembus Rp2,02 Miliar Maret 2026, ETH ke Rp202 Juta?
Ketika krisis Terra terjadi pada Mei 2022, pasar crypto mengalami guncangan besar yang menyebabkan penurunan harga Bitcoin secara signifikan. Pada periode tersebut, Bitcoin turun dari lebih dari $50.000 menjadi sekitar $30.000 hanya dalam beberapa bulan.
Jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs Rp16.987 per dolar, maka pergerakan harga saat itu kira-kira setara dengan:
Penurunan ini berarti Bitcoin kehilangan hampir 40% nilainya dalam waktu relatif singkat. Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana krisis di satu bagian ekosistem cryptocurrency dapat memicu dampak luas terhadap pasar global.

Data terbaru menunjukkan bahwa harga Bitcoin berada di sekitar $67.520 atau sekitar Rp1,14 miliar. Dalam 24 jam terakhir, harga tidak menunjukkan perubahan signifikan, tetapi tren jangka menengah masih menjadi perhatian para analis.
Menariknya, Bitcoin sebenarnya sudah mengalami koreksi cukup besar sepanjang tahun ini. Secara keseluruhan, BTC dilaporkan telah kehilangan hampir 30% nilainya sepanjang 2026, yang membuat sebagian pelaku pasar mulai berhati-hati.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa MACD sering disebut sebagai lagging indicator, yaitu indikator yang mencerminkan kondisi yang sudah terjadi. Artinya, ada kemungkinan bahwa sebagian besar tekanan jual sudah tercermin dalam harga saat ini.
Sinyal teknikal yang muncul pada indikator MACD menunjukkan bahwa pasar Bitcoin sedang berada dalam fase yang cukup sensitif. Kemiripan pola dengan periode sebelum kejatuhan Terra pada 2022 membuat sebagian analis memperingatkan kemungkinan munculnya tekanan bearish tambahan di pasar crypto.
Meski demikian, indikator teknikal bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah harga cryptocurrency. Faktor makroekonomi, adopsi teknologi blockchain, serta aktivitas investor institusional juga berperan penting dalam menentukan pergerakan Bitcoin di masa depan.
Bagi investor maupun pemula di dunia crypto, memahami indikator seperti MACD dapat membantu membaca kondisi pasar dengan lebih objektif. Pendekatan ini juga dapat menjadi bagian dari strategi manajemen risiko dalam menghadapi volatilitas tinggi di pasar cryptocurrency.
Baca Juga: 5 Isu Besar Crypto Maret 2026: FOMC, Stablecoin, hingga Unlock Token Bernilai Miliaran
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.