Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Pasar cryptocurrency kini berada di bawah tekanan signifikan karena eskalasi konflik di Timur Tengah memengaruhi pasar energi global dan prospek Bitcoin (BTC). Dalam beberapa hari terakhir, ancaman baru dari Iran bahwa serangan akan berlanjut dan dapat mendorong harga minyak mentah mendekati US$200 per barel membuat sentimen pasar semakin bergejolak. Investor dan pemula di pasar crypto perlu memahami bagaimana faktor geopolitik seperti ini dapat memengaruhi harga aset digital serta inflasi dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tanda-tanda kerentanan karena pasar menghadapi ketidakpastian geopolitik. Meskipun Bitcoin sempat bertahan di atas level penting US$70.000 (sekitar Rp1,18 miliar) setelah rally tiga hari beruntun, ancaman baru dari Iran memicu kekhawatiran investor akan pembalikan tren. Analisis teknikal menunjukkan pola bearish yang dapat menarik harga BTC menuju US$65.000 (sekitar Rp1,10 miliar) atau lebih rendah jika tekanan jual meningkat.
Baca Juga: Stok Minyak Indonesia Berapa Hari? Ini Fakta Cadangan BBM RI dan Tantangannya

Pihak militer Iran menyatakan akan mengubah taktik mereka menjadi serangan berkelanjutan dan berusaha menghukum Amerika Serikat serta sekutunya dengan menahan pengiriman minyak. Selat Hormuz, rute utama bagi sekitar 20% pasokan minyak global, terus menjadi fokus konflik, yang mengakibatkan gangguan signifikan terhadap arus minyak dunia. Ancamannya dapat memicu kenaikan harga minyak hingga mendekati US$200 (sekitar Rp3,38 juta) per barel jika pasokan terganggu lebih lama.

Minyak mentah yang lebih mahal memiliki dampak tidak langsung ke pasar crypto karena mendorong tingkat inflasi secara global. Jika minyak mendekati level US$200 per barel, biaya energi dan transportasi akan meningkat, yang kemudian dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa. Inflasi yang tinggi dapat mempersulit bank sentral seperti Federal Reserve AS untuk menurunkan suku bunga, yang seringkali berpengaruh negatif terhadap aset berisiko termasuk cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum (ETH).
Konflik yang berlanjut telah mendorong harga minyak naik signifikan; Brent crude diperdagangkan kembali sekitar US$100 per barel (sekitar Rp1,69 juta) setelah gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Bahkan analis memperkirakan potensi harga minyak melebihi US$100 per barel dalam beberapa hari jika gangguan ini tidak membaik. Kenaikan ini memberikan tekanan tambahan pada pasar global yang sudah rentan terhadap inflasi.
Dalam situasi gejolak energi, beberapa investor crypto mencari aset digital sebagai perlindungan nilai terhadap ketidakpastian makroekonomi. Bitcoin cenderung dipandang sebagai alternatif ketika inflasi meningkat, tetapi volatilitasnya tetap tinggi dalam jangka pendek. Ketidakpastian atas perang energi dan geopolitik membuat strategi investasi menjadi lebih kompleks bagi pelaku pasar baik institusional maupun ritel.
Harga minyak dan pasar cryptocurrency sering berkorelasi secara tidak langsung melalui indikator makro dasar seperti inflasi dan kebijakan moneter. Ketika harga minyak melonjak, ekspektasi inflasi juga meningkat, mempengaruhi imbal hasil aset berisiko. Harga Bitcoin dapat mengalami tekanan jual bahkan ketika investor awalnya memanfaatkan momentum bullish jangka pendek.
Investor yang memegang kripto harus tetap waspada terhadap informasi geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar global dan aset digital. Data ekonomi seperti CPI AS, keputusan bank sentral, serta perkembangan konflik di Timur Tengah akan terus menjadi indikator penting menuju arah pasar crypto. Risiko harga turun ataupun naik besar tetap ada karena sentimen global lebih fluktuatif ketimbang fundamental jangka panjang.

Bayangkan kamu bisa memantau dan berpotensi mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga minyak dunia secara langsung melalui aset crypto. Salah satu caranya adalah melalui Convex Finance (CVXON) dan saham AS lainnya yang dapat kamu akses di platform Pintu, sehingga investor dapat mengikuti dinamika pasar energi global dari ekosistem cryptocurrency.
Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, kamu bisa melihat pergerakan harga, melakukan transaksi dengan mudah, serta menjelajahi peluang diversifikasi portofolio antara aset komoditas global dan crypto dalam satu aplikasi.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
• Coingape. Bitcoin Price At Risk of Losing $65k as Iran Warns of “Continuous Strikes” That May Push Oil to $200. Diakses tanggal 12 Maret 2026.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.